Tolak Akuisisi Pertagas ke PGN, Pekerja Gelar Aksi

Editor: Mahadeva WS

2.427

BALIKPAPAN – Penolakan akuisisi Pertagas ke PGN masih terus berlanjut hingga Rabu (18/7/2018). Pekerja Pertamina di regional Kalimantan melakukan aksi damai di Kilang Balikpapan. Ratusan pekerja Pertamina yang tergabung dalam Serikat Pekerja (SP) melakukan aksi secara serentak sebagai wujud nyata penolakan terhadap akuisisi tersebut. 

Ketua SP Pertamina Kalimantan Mugiyanto – Foto Ferry Cahyanti

Ketua SP Pertamina Kalimantan Mugiyanto menuturkan, aksi damai dilakukan didalam Kilang Pertamina ini diberi nama aksi Bela Pertamina. Aksi dilakukan dengan orasi oleh para pekerja. “Aksi bela Pertamina ini pekerja semua berkumpul satu suara menentang akuisisi Pertagas dengan PGN. Kalo akuisisi kita lihat dampaknya mulai berkurang pendapatannya Pertamina dan sangat mengkhawatirkan,” jelasnya usai melakukan Aksi Bela Pertamina, Rabu (18/7/2018).

Menurut Mugiyanto, dampak yang dirasakan pekerja adalah kondisi keuangan perusahaan yang sangat mengkhawatirkan. Hal itu akan juga berdampak pada pembiayaan proyek RPMP yang tengah berjalan seperti di Cilacap dan Balikpapan.

“Sehingga untuk membiayai RDMP itu bisa jadi kendala dan bisa dipastikan juga proyek RDMP tidak berjalan. Saat ini aksi penolakan sifatnya masih lokal nanti dilanjutkan ke pusat pada 20 Juli 2018 di Jakarta,” bebernya didampingi para pekerja lainnya.

Aksi longmarch yang dilakukan di Jakarta akan diawali dengan berkumpul di kantor Pertamina Pusat. Masa kemudian bergerak ke Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM.  “Kita akan duduki dan menyampaikan aspirasi di sana, lalu berlanjut ke Kementerian ESDM karena selama ini kurang berpihak kepada Pertamina. Dalam aksi di Jakarta Kalimantan akan kirimkan lebih dari 50 pekerja,” tegasnya.

Apabila aksi penolakan tersebut tidak didengarkan, Mugiyanto menyebut, pihaknya akan menghentikan distribusi gas termasuk distribusi BBM. “Kita lihat dulu apabila tidak didengar, maka akan ada aksi yang memberi dampak langsung ke masyarakat,” tambahnya.

Untuk diketahui, penolakan akuisisi tersebut dilakukan karena dinilai berpotensi merugikan Pertamina. Perusahaan tersebut harus menanggung hutang PGN sebesar 1,93 miliar USD dan aset 6,2 miliar USD. PGN merupakan perusahaan terbuka yang 43 persen sahamnya didominasi asing.

Baca Juga
Lihat juga...