Tolak Pekerjaan di Ibu Kota, Ocha Sukses Berwirausaha Lewat Bisnis Kuliner

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

432

MAUMERE — Bekerja mapan apalagi di sebuah perusahaan ternama di Jakarta tentu menjadi dambaan setiap orang usai meraih gelar sarjana.

Namun hal ini tidak berlaku bagi Mikaela Rosamanda Kondi, perempuan kelahiran Maumere 30 Maret 1979. Usai tamat dari bangku kuliah di Jakarta, Ocha sapaannya, sempat melamar bekerja, tetapi ketika hendak dipanggil bekerja, dirinya memilih pulang ke tanah kelahirannya.

“Saya lebih memilih pulang ke kampung halaman dan berbisnis sendiri. Mungkin juga karena saya lebih tertarik berwirausaha daripada bekerja di sebuah perusahaan,” sebut Ocha saat ditemui Cendana News, Sabtu (28/7/2018).

Tahun 2003 ia mulai mencoba bisnis catering dengan membuat aneka kue, baik pastry maupun bakery.

Setelah mulai dikenal orang, ibu satu orang putera ini mulai menerima pesanan nasi kotak. Kadang juga dirinya dibayar untuk masak di sebuah acara pesta sehingga lama kelamaan orang mulai mengenal masakannya dan mulai banyak pesanan makanan berdatangan.

“Kalau nasi kotak bisa sampai 2.500 kotak termasuk juga kue yang dikemas dalam kotak. Ada juga pesanan kue bolu dan tar untuk pesta nikah. Saya juga mulai menerima pesanan makanan prasmanan,” ungkapnya.

Ocha mengaku pernah membuka warung makan dan juga menjual bubur ayam di depan rumahnya namun karena sendirian saja, dirinya pun kewalahan. Ia lebih memilih menerima pesanan masakan dan kue untuk acara perkantoran dan pesta.

“Biasanya yang pesan banyak dari lembaga pemerintah selain dari kantor swasta dan lembaga swadaya masyarakat. Ada juga pesanan dari saudara dan kenalan yang menyelenggarakan acara di rumah mereka,” tuturnya.

Untuk masakan, isteri dari Antonius Gregorius ini selain menyediakan masakan prasmanan juga menerima bungkusan nasi menggunakan mika dan kotak. Harga yang ditawari bervariasi dari 12 ribu rupiah sampai 25 ribu rupiah tergantung menu yang dipilih dan kemasannya.

“Kalau kue saya jual mulai dari harga 5 ribu rupiah sampai 10 ribu rupiah. Namun biasanya saya sesuaikan dengan anggaran yang tersedia dan berapa banyak orang yang akan mengkonsumsinya,” sebutnya.

Dalam seminggu minmal 3 kali Ocha menerima pesanan nasi kotak dalam jumlah banyak termasuk juga satu paket dengan kue dan jajanan pasar. Tapi kalau sedang musim ramai, hampir setiap hari dirinya harus sibuk di dapur memenuhi permintaan pelanggan.

“Dalam seminggu paling tidak tiga kali ada pesanan dalam jumlah banyak namun kalau lagi ramai bisa setiap hari,” ungkapnya.

Disebutkan, untuk membantu pekerjaannya, ia merekrut tetangga dengan memberikan upah sesuai jenis pekerjaan

Nasi dan lauk yang sudah dimasukan ke dalam bungkusan mika dan siap diantar ke pembeli yang memesannya. Foto : Ebed de Rosary

Dalam sebulan perempuan yang berdomisili di Kampung Kabor ini bisa meraih keuntungan bersih antara 5 hingga 10 juta rupiah.

“Meski saat ini banyak yang membuka usaha sejenis namun saya tetap optimis berhasil karena pelanggan sudah terbiasa menikmati masakan saya dan menyukainya,” terangnya.

Ocha pun mengaku menjual masakannya lewat media sosial untuk mengisi waktu luang bila sedang musim sepi. Namun jumlahnya terbatas dan harganya murah sehingga mudah dijangkau pembeli.

“Saya menyajikan masakan special ikan suir yang menjadi menu andalan selain menu lainnya yang disesuaikan dengan pesanan pelanggan. Situasi kota Maumere yang semakin berkembang membuat banyak orang lebih memilih membeli makanan daripada memasaknya sendiri,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.