Upi Garap Skenario Baru dari Film ‘Kafir’

Editor: Koko Triarko

219
Upi –Foto: Akhmad Sekhu
JAKARTA – Upi termasuk sutradara dan penulis skenario yang memiliki ciri khas tersendiri. Karena itu, ia menjadi salah satu dari sedikit sutradara wanita yang namanya menonjol di dunia perfilman Indonesia.
Kariernya mulai dikenal setelah menjadi sutradara dalam film ‘30 Hari Mencari Cinta’ pada 2004. Setelah itu, banyak film digarapnya yang menunjukkan ciri khasnya dengan karakter pemuda yang bebas mengekspresikan gaya hidupnya.
Dalam film produksi Starvision berjudul ‘Kafir: Bersekutu dengan Setan’, Upi menggarap skenarionya dengan cerita baru, yang sangat berbeda dengan film Kafir pada 2002. Hal itu menunjukkan karya filmnya memang begitu khas, gaya Upi.
“Penggarapan skenario film ini awalnya Pak Parwez minta saya untuk menulis skenario, sekaligus jadi produser kreatif. Rencananya ingin bikin film remake Kafir 2012 yang sukses, karena memang banyak film lawas Indonesia yang di-remake. Tapi, saat itu saya tidak mau remake, dan ingin membuat skenario yang terserah mau dibuat judul tetap Kafir, tapi ceritanya baru, “ kata Upi, kepada Cendana News, usai press screening film Kafir di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (26/7/2018) malam.
Perempuan kelahiran Jakarta, Indonesia, 21 Juli 1972 itu, membeberkan, Pak Parwez, produser Starvision, memberikan kebebasan pada dirinya untuk menggarap skenario sesuai dengan yang dikehendakinya.
“Saya memang senang film horor, jadi saya bersama Rafki Hidayat, tim penulis skenario saya untuk menggarap skenarionya, dan Pak Parwez happy menerima skenario yang kita bikin yang kemudian dibuat filmnya,“ bebernya.
Dalam proses penggarapan skenarionya, Upi mengaku melakukan riset data hanya dari google saja.
“Untuk pengembangan karakternya saya serahkan sepenuhnya pada Azhar Kinoi Lubis, sutradara film ini,“ ujarnya.
Pemilik nama asli Sartri Dania Sulfiati itu mengakui, dirinya memang belum pernah membuat skenario film horor sebelumnya.
“Untuk menggarap skenario film horor ini, tantangannya adalah saya berusaha pada ekspektasi orang dibalikkan, misalnya ekspektasi orang berharap ceritanya A, tapi saya membuatnya yang B, yang benar-benar di luar ekspektasi,“ paparnya.
Obsesi Upi ingin membuat film horor yang ia sutradarai sendiri. “Kalau saya yang menyutradarai, tentu saya punya treatment sendiri,“ ungkapnya.
Arti film bagi Upi sudah menjadi bagian dari hidupnya dan benar-benar sudah menjadi darah daging dalam kehidupannya.
“Kalau saya tidak mengerjakan apa pun yang tidak berhubungan dengan film, saya tidak tahu harus mengerjakan apa lagi,“ ucapnya.
Kata ibu, katanya, sewaktu saya kecil, saya sering berimajinasi dan sering merangkai cerita. Harapan Upi, film ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat.
“Saya berharap film ini bisa diapresiasi dengan baik dan dapat menghibur,“ harapnya.
Dalam setiap menyutradarai film maupun menulis skenario film, Upi mengaku tidak memberikan pesan apa pun. “Karena setiap orang tentu punya pengalaman berbeda-beda dalam menonton film, sehingga saya tidak mau mendikte penonton. Jadi, terserah terbuka lebar bagi para penonton dalam mengapresiasi film yang saya buat,“ simpulnya.
Upi memandang, perkembangan film Indinesia sudah maju dan semakin beragam. “Sudah semakin banyak film Indonesia berkualitas yang dibuat, tapi masih ada juga film Indonesia yang masih terkesan dibuat apa adanya,” tegasnya.
Mengenai ciri khas film Indonesia, Upi mempunya pandangan tersendiri. “Ciri khas film Indonesia ya Indonesia-nya sendiri dengan latar belakang budayanya, karena bagaimana pun film dibuat memang punya ciri khas yang berhubungan dengan kepribadian bangsa kita, latar belakang sejarah negara kita dan seperti apa kebiasaan masyarakat kita dalam hidup sehari-hari,“ tandasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.