Usaha Kopi Siap Saji di Lereng Merapi Bergeliat

Editor: Mahadeva WS

144
Suryono (52) warga dusun Gondang Pusung, Wukirsari, Cangkringan, Sleman - Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Usaha produksi pembuatan bubuk kopi di sekitar kawasan lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta terus bergeliat. Sejumlah warga mulai berani memproduksi bubuk kopi secara swadaya memanfaatkan biji kopi hasil perkebunan mereka. 

Menggunakan alat sederhana, mereka mengolah biji kopi yang dipanen di lahan perkebunan menjadi bubuk kopi. Kopi olahan tersebut dijual kepada warga maupun wisatawan yang berkunjung ke desa mereka. Semakin tingginya harga jual kopi karena pengaruh peningkatan minat mengkonsumsi menjadi salah satu pertimbangan pengembangan usaha tersebut.

Salah satu yang melakukan adalah Suryono (52), warga dusun Gondang Pusung, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Sejak setahun terakhir lelaki setengah baya tersebut, mencoba mengolah sendiri kopi hasil panen milikinya menjadi kopi siap saji. Hal itu dilakukan sebagai upaya meningkatkan nilai jual hasil panen kopi. “Biasanya saya jual kopi hasil panen dalam bentuk masih biji hijau (green bean). Untuk meningkatkan nilai jual, maka saya mencoba mengolahnya menjadi bubuk atau sudah siap saji,” ujarnya, Selasa (24/07/2018).

Dengan upaya itu, Suryono mengaku, mampu meningkatkan nilai jual hasil panen kopi dari semula Rp35-40ribu per kilogram dalam bentuk green bean, menjadi Rp100-110 ribu per kilogram dalam bentuk kopi bubuk.

Pengolahan dilakukan dengan memanfaatkan alat gilingan dan alat penyangrai yang ia buat sendiri. “Saya mencoba membuat alat penyangrai manual. Dengan menggunakan kuwali yang diberi pengaduk. Termasuk juga alat penggiling manual. Semua saya coba-coba sendiri. Karena jika harus beli alat pengolah kopi mahal. Jelas tidak mampu,” katanya.

Dengan kemasan yang masih polos dan sederhana, Suryono mengaku menjual kopi bubuk produksinya kepada tetangga, teman maupun kenalan. Biasanya ia mengolah kopi jika mendapat pesanan. Meski telah berhasil mengolah kopi siap seduh, Suryono mengaku masih membutuhkan pelatihan untuk membuat kemasan agar lebih menarik dan pelatihan pemasaran. Untuk pelatihan yang selama ini ada, adalah budidaya kopi. Sementara pelatihan untuk pengolahan pasca panen belum pernah.

Dengan bentang alam pegunungan yang sejuk, kawasan lereng Gunung Merapi memang menjadi lokasi yang strategis untuk usaha budidaya kopi. Selama ini warga setempat banyak membudidayakan kopi khas Merapi. Salah satunya kopi jenis robusta BP436 Tugusari seperti yang ditanam Suryono. Meski begitu, masih banyak warga menjual kopi dalam bentuk biji dengan nilai jual yang rendah.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.