Varietas Rajalele Berikan Hasil Memuaskan Bagi Petani Pesisir

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

299

LAMPUNG — Varietas Rajalele atau Rojolele yang diberlakukan oleh petani di wilayah kecamatan Bakauheni Lampung Selatan memberikan hasil yang memuaskan. Tidak hanya itu, tanaman tersebut juga cocok ditanam di daerah yang minim pasokan air.

Abdurohman (53) salah satu petani warga dusun Sumbermuli desa Totoharjo kecamatan Bakauheni menyebutkan, penanaman varietas Rajalele berawal saat dirinya bertandang ke kerabatnya di Klaten, Jawa Tengah. Awal 2018 ia mendapatkan bibit sebanyak dua kampil (satu kampil 15 kilogram). Selanjutnya dikembangkan di lahan berpasir sebagai ciri khas kawasan lahan pertanian desa Sumbermuli.

“Saya sudah menanam padi varietas Rajalele untuk masa tanam kedua kali dengan jumlah benih sebanyak dua kampil, ternyata hasilnya memuaskan,” terang Abdurohman, petani warga dusun Sumbermuli desa Totoharjo kecamatan Bakauheni saat ditemui Cendana News, Senin (9/7/2018)

Proses penanaman menggunakan sistem tugal (tajuk) menggunakan tongkat kayu tajam saat masa tanam gadu dengan pasokan air yang terbatas. Hasil panen tanam pertama pada lahan satu hektar mendapatkan 4 ton gabah kering. Hasil tersebut terbilang bagus pada lahan kurang pasokan air yang berada di dekat pesisir pantai wilayah tersebut.

Disebutkan, padi ditaburkan sebanyak empat hingga enam bulir pada setiap lubang yang dibuat dan dapat menghasilkan sekitar 15 hingga 20 anakan dalam satu rumpun dan menghasilkan bulir padi sebanyak 200 hingga 300.

“Selain bulir yang cukup banyak, hasil beras Rajalele disebutnya memiliki rasa pulen, lebih enak karena kadar airnya lebih sedikit,” tambahnya.

Abdurohman memastikan harga Rajalele di tingkat petani mencapai Rp10.000 per kilogram. Harga tersebut lebih baik dibandingkan dengan beras jenis lain yang dijual Rp8.000 per kilogram.

Ditambahkan, pada musim tanam gadu, Abdurohman mengungkapkan, salah satu musuh alami tanaman padi di antaranya burung, lembing, wereng, tikus. Kendala serangan hama burung diakuinya diatasi dengan pemasangan jaring sepanjang 200 meter dan penggunaan pengusir burung dengan bahan bekas.

Pengusir burung dibuat juga dengan kaleng bekas diisi pasir ditarik menggunakan tali. Selain itu ia menyebut menerapkan sistem pupuk organik untuk menghasilkan beras berkualitas.

“Hama burung pada musim tanam tahun ini didominasi burung pipit namun masih tetap bisa diatasi jika rajin menunggu dan mengusirnya,” beber Abdurohman.

Petani lain, Hendra menyebut, ia beralih ke varietas Rajalele sejak hasil panen padi jenis yang lain mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Lahan seluas satu hektare sebelumnya ditanami dengan padi varietas IR 64 dan Muncul.

“Lahan yang ditanam merupakan bekas tambak udang yang dibudidayakan warga di sekitar pesisir pantai,” sebutnya.

Selain itu, varietas Rajalele memiliki usia panen yang lebih pendek, sekitar 115 hari. Hal tersebut dapat memberikan keuntungan bagi petani.

Baca Juga
Lihat juga...