Wagub DKI: Naiknya Harga Telur Dampak Melemahnya Rupiah

368
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno di Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (12/7/2018). –Foto: Lina Fitria
JAKARTA – Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno, mengatakan, naiknya harga telur ayam dikarenakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS.
“Karena pasokan cukup, tapi memang harga, ya dikaitkan dengan dolar yang terus meningkat ini. Jadi, bergerak naik (harga bahan pokok),” ujar Sandiaga Uno, di Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (12/7/2018).
Tak hanya telur, harga cabai pun juga ikut naik. Padahal, cabai tidak termasuk kebutuhan pokok yang terdampak oleh melemahnya rupiah terhadap dolar.
“Yang saya kaget tadi saya dilapori cabai yang tidak ada hubungannya dengan dolar itu juga naik. Jadi, ini yang kita sebut sebagai inflasi turunan atau inflasi yang diimpor atau inflasi ikut-ikutan. Padahal, mestinya nggak ada,” ujarnya.
Untuk itu, kata mantan pengusaha itu, dalam waktu dekat dia akan berkunjung ke Blitar, Jawa Timur, untuk memastikan stok telur, aman. Pasalnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah melakukan kerja sama dengan Blitar.
“Kemarin kita sudah tanda tangan kerja sama dengan Blitar, saya akan datang ke Blitar dalam waktu dekat ini untuk mengeksekusi, karena pasokannya cukup,” paparnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI bekerja sama dengan Kabupaten Blitar untuk memenuhi kebutuhan telur di DKI. Gubernur DKI, Anies Baswedan dan Bupati Blitar, Rijanto, menandatangani kesepakatan kerja sama untuk mendatangkan 200.000 ton telur ayam ke Ibu Kota.
Anies berharap, dengan penandatanganan MoU tersebut kebutuhan telur di ibu kota dapat terpenuhi. Mengingat telur menjadi salah satu konsumsi pangan utama di DKI. Anies juga berharap produksi telur di Blitar meningkat dari segi pengelolaan.
Bupati Blitar, Rijanto, saat itu menyampaikan, salah satu sektor unggulan daerah dan merupakan komoditas terbesar di Blitar adalah ternak ayam petelur.
“Pada 2017, populasi ayam petelur di Kabupaten Blitar mencapai 15.170.000 ekor dengan produksi kurang lebih 450 ton per hari,” kata Rijanto.
Sebagian besar telur ayam di DKI bersumber dari Kabupaten Blitar, yakni 260 ton per hari. Harga telur dari Blitar juga dianggap paling murah, masih dalam rentang harga Rp23.000 per kilogram. Telur dari daerah lain sudah dalam rentang harga Rp25.000 per kilogram.
Kerja sama antara Pemprov DKI dengan Pemkab Blitar dimulai dengan Tim Pengendai Inflasi Daerah (TPID) DKI berkunjung ke Blitar pada 16 Maret 2018. Kunjungan itu dilakukan setelah menyadari kebutuhan telur di Jakarta berasal dari Blitar, yaitu 260 ton per hari, yang produksinya mencapai 450 ton per hari.
Kunjungan tersebut lalu dibalas oleh Pemkab Blitar pada 9-10 April 2018. Dari kunjungan itu, diketahui Blitar memiliki potensi lain untuk dikerjasamakan antara lain bidang pertanian dan perkebunan, serta bidang perikanan untuk kebutuhan di DKI Jakarta, dan dilakukan penandatanganan kerja sama pada hari ini.
Baca Juga
Lihat juga...