Warga Desa Kunjir Olah Melimpahnya Hasil Ikan

Editor: Koko Triarko

190
LAMPUNG — Berbagai peluang usaha dengan memanfaatkan melimpahnya hasil laut, salah satunya dengan membuat usaha bakso ikan, ditekuni oleh Aris Paslah (40), warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Aris Paslah mengaku, setiap hari bekerja sebagai pedagang bubur sumsum keliling, sembari membawa bakso ikan dan daging ikan giling, yang merupakan hasil usaha Kelompok Pengolah dan Hasil Pemasaran (Poklahsar) Perikanan.
Aris Paslah, menjajakan bakso ikan, otak-otak ikan, dan ikan giling kepada warga [Foto: Henk Widi]
Menurutnya, Poklahsar Desa Kunjir memproduksi beragam produk berbahan ikan, di antaranya tekwan ikan, otak-otak ikan, bakso ikan, dan nuget. Anggota yang sebagian besar nelayan dan pedagang hasil laut, termasuk dirinya, juga kerap membuat ikan asin.
Sebagai anggota Poklahsar, Aris berbagi tugas dengan sang istri yang bersama anggota kelompok melakukan pengolahan hasil tangkapan nelayan.
Aris mengatakan, anggota Poklahsar melakukan pengolahan hasil perikanan yang berada di dekat tempat pelelangan ikan Kunjir. Pengolahan hasil ikan yang melimpah ini dilakukan sejak anggota kelompok mendapat pelatihan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lampung Selatan.
Selain pengetahuan tentang gizi ikan, manfaat ikan, dan pelatihan, peralatan pengolahan diberikan bagi Poklahsar kampung nelayan. Sebagian anggota menjual hasil olahan dengan berkeliling seperti yang dilakukan Aris Paslah, dan sebagian menjual di warung.
“Selama hampir lima tahun terakhir usaha sudah berjalan, selain dilakukan oleh kelompok, sebagian warga sudah bisa mandiri mengolah hasil ikan untuk mendapat nilai tambah produk olahan ikan,” terang Aris Paslah, di Bakauheni, Selasa (17/7/2018).
Berbagi tugas dengan sang istri, Aris menjual bakso ikan, ikan giling, dan otak-otak ikan yang sudah dikemas, sembari menjajakan minuman bubur sumsum. Berjualan keliling dilakukannya dengan mengambil barang dagangan dari Poklahsar, di antaranya bakso ikan, nuget, dan ikan giling. Harga bakso ikan yang dijual menyesuaikan ukuran. Bakso ukuran kecil seharga Rp7.000 berisi sekitar 50 butir bakso, dan ukuran besar Rp15.000 berisi 80 butir bakso ikan.
Barang dagangan tersebut diambilnya dari kelompok dengan harga pokok sudah ditentukan. Satu produk hasil olahan ikan dijual dengan keuntungan hingga Rp2.500 per bungkus untuk bakso ikan dan nuget.
Sementara untuk daging ikan giling dijual seharga Rp50.000, berisi satu kilogram daging ikan dan tepung. Adonan daging ikan tersebut berasal dari ikan parang, tenggiri dan layur, kerap dijadikan bahan pembuatan empek-empek.
“Bakso ikan yang sudah dikemas saya jual lengkap dengan seledri, daun bawang dan terkadang kuah cuka bagi yang ingin membuat empek-empek,” terang Aris Paslah.
Aris Paslah menjelaskan, bubur sumsum yang dijualnya dibuat dari  bahan baku tepung kanji, santan kelapa, dan gula merah, dan dijajakan bersama produk Poklahsar.
Semula, ia pernah menjajakan bakso ikan dalam kondisi siap saji lengkap dengan kuah. Namun, usaha tersebut kini diteruskan oleh sang adik dan ia beralih berjualan bubur sumsum serta membawa bakso ikan dan daging ikan giling dan otak-otak.
Dalam sehari, ia bisa membawa sekitar sepuluh kilogram ikan giling, sebanyak 100 bungkus bakso ukuran kecil dan 50 bungkus bakso ukuran besar, dan 50 bungkus otak-otak basah.
Otak-otak basah dibungkus dengan daun, kerap dijajakan di sekitar objek wisata dan bisa dibakar sembari membakar ikan. Bakso ikan kerap dibeli ke sejumlah warung untuk dijual kembali.
“Selain bisa dikonsumsi untuk keluarga konsumen, biasanya bakso ikan dijual kembali sehingga saya beri harga lebih murah,” terang Aris Paslah.
Aris mengaku dari hasil berjualan produk Poklahsar jenis bakso ikan dan daging ikan giling, bisa membawa pulang ratusan ribu rupiah per hari, bahkan lebih dari satu juta saat musim liburan.
Demikian juga dengan penjualan bubur sumsum yang disukai oleh anak-anak sebagai minuman tradisional. Sementara, bakso ikan kerap dipergunakan ibu rumah tangga untuk campuran sayuran,mi rebus dan nasi goreng.
Resti (29), pembeli bakso ikan mengaku membeli dua bungkus bakso ikan ukuran kecil per bungkus Rp7.000, serta otak-otak ikan. Bakso tersebut akan dicampur dengan sayur bayam, agar anaknya memiliki nafsu makan. Sebab selama ini, sang anak susah mengonsumsi ikan, sehingga bakso dan otak-otak ikan menjadi cara, agar anaknya mau makan ikan.
“Saat makan ikan, yang ditakutkan anak-anak itu durinya, tapi kalau sudah diolah menjadi bakso dan otak-otak, lebih disukai,” terang Resti.
Pengolahan produk ikan menjadi bakso ikan, daging ikan giling, kata Resti, sekaligus memudahkan ibu rumah tangga. Aris Paslah pun kerap mampir ke rumah miliknya untuk menawarkan bakso ikan.
Selain membeli minuman bubur sumsum yang menyegarkan, Resti juga bisa membeli bakso ikan untuk campuran membuat sayur saat makan bagi keluarganya.
Baca Juga
Lihat juga...