Warga di Sejumlah Desa di Lamsel Mulai Kesulitan Air

Editor: Koko Triarko

200
LAMPUNG – Masyarakat di sejumlah daerah di Lampung Selatan, selama ini mengandalkan keberadaan mata air, guna mencukupi kebutuhan air bersih, baik untuk keperluan rumah tangga maupun lahan pertanian. Namun seiring datangnya musim kemarau, sumber air dari mata air mulai berkurang, sehingga keberadaan embung atau danau buatan menjadi tumpuan.
Embung menjadi tumpuan bagi warga di Lampung Selatan, di antaranya di tiga kecamatan yang memang kerap mengalami kesulitan air bersih, bahkan di saat musim penghujan.
Zulfikar (40), warga Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, terpaksa memanfaatkan embung di desanya. Embung menjadi pilihan baginya, setelah sumur gali mengalami penurunan debit, yang ditandai dengan air tidak mengalir saat dipompa dengan mesin.
Sejumlah mata air yang kerap mengalir di sungai kecil dan menyatu dengan Sungai Way Pisang, pun mulai surut. Kekeringan yang mulai melanda ini, meski belum skala besar, namun dirasa merepotkan baginya saat membutuhkan air.
Zulfikar (di atas mobil) menampung air yang diambil dari Embung Sukabaru, untuk kebutuhan pembangunan rumah [Foto: Henk Widi]
“Saya sedang membangun rumah, sehingga kebutuhan air cukup banyak untuk adukan material semen, pasir dan batu split. Air sumur sudah menipis, dan sumber air terdekat dari embung,” terang Zulfikar, ditemui Cendana News di embung tepi Jalan Lintas Sumatera KM 77, Rabu (18/7/2018).
Embung tempat penampungan air dengan luas setengah hektare, dan bisa lebih luas saat musim hujan tersebut, sejatinya merupakan bekas galian tambang batu.
Ceruk yang menyimpan air itu memiliki kedalaman beragam, mulai dari dua meter hingga empat meter, dengan air tersedia saat musim hujan dan kemarau.
Saat musim hujan, air bertambah dan kerap dimanfaatkan untuk mencuci kendaraan serta dipergunakan untuk berbagai kebutuhan. Tumbuhan ganggang dan kangkung, tumbuh subur di embung yang dimanfaatkan warga Sukabaru itu.
Zulfikar mengatakan, embung tersebut juga dimanfaatkan warga saat kemarau seperti sekarang, untuk sumber pengairan penanaman sayuran. Keberadaan embung, bahkan menyokong pertanian warga yang menanam sawi dan kacang tanah, serta berbagai jenis sayuran musim gadu.
Warga kerap mengambil air dengan embawa jerigen, dan ditampung di drum khusus untuk penyiraman air. Embung yang bisa dimanfaatkan warga tersebut oleh pemilik lahan sengaja tidak ditimbun, karena memiliki manfaat, terlebih saat musim kemarau tiba.
Sementara itu, Zulfikar terpaksa ‘menyulap’ tiga buah drum bekas aspal untuk menampung air di atas bak mobil L300 miliknya. Tiga orang pekerja bertugas mengambil air dengan jerigen dan ember untuk memenuhi drum.
Sesampainya di rumah, air tersebut dipindah ke bak penampungan dengan drum plastik untuk keperluan pengadukan material bangunan yang dikerjakan. Meski bisa membeli air bersih dengan tangki, mengambil air dari embung disebutnya lebih hemat.
Kondisi serupa juga dialami oleh sejumlah warga di Dusun Muara Piluk, Desa-Kecamatan Bakauheni. Tukimin (57), salah satu warga Muara Piluk, menyebut penyusutan air di Embung Muara Piluk yang berada di sekitar Menara Siger sudah terjadi sejak dua bulan terakhir. Lingkungan sekitar embung dengan berbagai tanaman, di antaranya albasia, trembesi, dan waru yang semula rimbun mulai berguguran.
Embung yang semula memiliki luas sekitar setengah hektare dan mampu menampung ratusan kubik air itu mulai menyusut. Warga pun membuat beberapa petak kolam di embung tersebut , agar air tidak semakin mengering.
Selain itu, Tukimin memanfaatkan sumur dengan tenaga mesin pompa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan sebagian dijual. Pembeli air bersih saat kemarau melanda merupakan sejumlah pedagang makanan untuk keperluan mencuci piring dan memasak.
“Saat musim hujan, pedagang bisa mengakses air bersih dari perusahaan air minum, tapi kini pasokannya tersendat, sehingga membeli air dari sumur milik saya,” terang Tukimin.
Sulitnya air di musim kemarau, kata Tukimin, memang sudah diantisipasi dengan memanfaatkan embung di Muara Piluk tersebut. Ia menggunakan air dari embung itu untuk penyiraman sejumlah tanaman yang mulai meranggas dan berbagai jenis sayuran.
Sejumlah tanaman yang sudah tumbuh rimbun di sekitar embung itu, katanya, ikut memperlambat proses penguapan embung. Sebagian menjadi sumber air untuk pasokan air di dalam embung.
Selain dua embung tersebut, sebagian warga juga memanfaatkan Embung Kampung Jering di Bakauheni. Embung dengan luasan seperempat hektare tersebut, memiliki kedalaman sekitar delapan meter saat musim hujan. Hingga musim kemarau, debit air stabil, karena didukung oleh sumber mata air yang muncul dari ketersediaan pohon peresap air di perbukitan wilayah Kampung Jering.
Muklas (40), memastikan ketersediaan pepohonan di wilayah tersebut ikut berdampak positif bagi pasokan air. Merujuk pada nama kampung Jering berasal dari pohon Jering, sejenis jengkol untuk lalapan, pohon tersebut dipertahankan warga.
Selain memiliki nilai ekonomis tinggi dengan harga Rp20.000 per kilogram, keberadaan pohon ikut mencegah longsor dan menjadi sumber resapan air.
“Embung yang ada di wilayah kami menjadi tumpuan saat kemarau, sebab air yang ada bisa ditampung dan dijernihkan untuk mandi”, terang Muklas.
Kesadaran mempertahankan lingkungan dengan menanam pohon berbagai jenis, di antaranya sengon, jati, palem dan multy purpose tree species (MPTS) ikut menyumbang embung tetap lestari.
Saat sejumlah masyarakat harus membeli air, warga sekitar embung masih bisa memanfaatkan air dengan membuat belik atau cerukan. Belik yang digali di tepi embung berfungsi untuk menjernihkan air, sehingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari.
Sementara itu, Camat Bakauheni, Zaidan, saat dikonfirmasi, menyebut jelang musim kemarau ini, warga harus melakukan penghematan air. Seperti kemarau sebelumnya, ia menyebut sejumlah wilayah menjadi perhatian karena harus diberi bantuan air bersih oleh PDAM. Wilayah tersebut di antaranya Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi.
Zaidan mengaku telah berkoordinasi dengan PDAM Tirta Jasa Bakauheni, untuk memastikan pasokan air bersih bisa terjaga.
“Sudah kami pantau debit air bersih untuk kebutuhan warga Bakauheni selama musim kemarau. Ada yang memanfaatkan embung, namun sebagian ada yang harus membeli,” beber Zaidan.
Zaidan juga mengakui, perubahan lingkungan yang berimbas pada berkurangnya pasokan air, merupakan dampak dari pembangunan Jalan Tol TransSumatera. Sebab, di sejumlah titik mata air yang selama ini dipergunakan warga sudah tergusur proses pembangunan tol.
Warga, katanya, bahkan harus mencari sumber mata air baru untuk memenuhi kebutuhan air bersih, di antaranya dengan memanfaatkan sungai, embung serta membeli dari mobil tangki penjual air.
Baca Juga
Lihat juga...