Warga Padan Tangkap Dua Ular Ekor Sanca Kembang

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

276

LAMPUNG — Kerap kehilangan ternak ayam, bebek, entok bahkan kambing yang dikira dilakukan oleh pencuri membuat warga desa Padan kecamatan Penengahan melakukan pengintaian. 

Hasanah (40) dan suami, Suply (45) akhirnya menemukan jawaban setelah pada Kamis subuh (12/7) mendengar suara berisik ayam di kandang belakang rumahnya. Saat diintip ternyata ditemukan dua ekor ular jenis sanca kembang (Python reticulatus).

Hasanah menyebutkan, dalam dua bulan terakhir, ia sudah kehilangan ayam sebanyak lima ekor. Beberapa warga yang berada di tepi sungai juga mengalami hal yang sama, bahkan ternak lain.

“Saat malam hari kami kerap mendengar suara ayam dan bebek berisik setelah itu paginya ada yang hilang, tapi baru subuh tadi ditemukan jawabannya ular sanca yang memangsa ternak milik kami,” terang Hasanah warga desa Padan saat ditemui Cendana News, Kamis (12/7/2018).

Hasanah menyebut dua ekor ular sanca kembang tersebut ditangkap sesaat setelah memangsa satu ekor ayam yang sudah dililit hingga mati. Suami yang ketakutan bahkan memanggil warga lain untuk membantu menangkap.

Sesudah ditangkap oleh warga bernama Edy ular tersebut selanjutnya diamankan dalam dua karung karena dikhawatirkan lepas.

Hasanah, pemilik ternak ayam yang kerap dimangsa ular sanca kembang [Foto: Henk Widi]
Edy yang dikenal biasa menangkap ular sanca menyebutkan, yang ditangkap merupakan sepasang ular jantan dan betina. Sanca batik kerap dikenal warga dengan “ulai sawa” oleh warga Lampung tersebut berukuran masing masing tiga meter. Jenis reptil ini diakuinya dikenal juga dengan Retic kerap ditemukan di sungai desa Padan sebagai habitat alami.

Dua ekor ular sanca kembang tersebut diakuinya memiliki rangkaian pola berwarna hitam dan lingkaran seperti batik. Pada bagian samping ular betina memperlihatkan pola batik cerah sementara yang jantan memiliki pola lebih gelap. Ular yang terlihat jinak tersebut diakui Edy bahkan terlihat diam saat ditangkap sebelum akhirnya dijual ke salah satu warga.

“Karena warga tidak mengetahui ular ini akan dibawa ke mana bahkan takut memeliharanya, akhirnya dijual ke desa Kekiling,” terang Edy.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.