13 The Haunted, Tragedi Uji Nyali Berujung Maut

Editor: Mahadeva WS

270

JAKARTA – Media sosial bukan saja mewabah pada kehidupan anak muda zaman now. Keberadaanya sudah mendarah daging, dan menjadi bagian penting hidup keseharian mereka. Apapun dilakukan, demi predikat menjadi nomor satu dan bisa dibilang menjadi paling eksis.

Tidak tanggung-tanggung, anak mudan jaman now, sampai harus datang ke tempat-tempat paling berbahaya, demi meraih banyak jumlah viewers. Berani melakukan uji nyali, meski kenekatannya akan menjadi petaka, dan mengancam keselamatan. Demikian yang mengemuka dari film 13 The Haunted.

Film ini diawali, adegan menegangkan dua vlogger terkenal, Klara yang diperankan dengan begitu menawan oleh aktris cantik Mikha Tambayong, dan Joy (Achmad Megantara) yang menamakan diri The Jackal. Sebuah nama yang terkesan trendy ala kebarat-baratan. Mereka berdua melakukan uji nyali, mendatangi sebuah gedung yang sudah lama tidak dihuni yang tampak begitu menyeramkan. Mereka menemui kenyataan, bertemu dengan arwah gentayangan dari orang yang bunuh diri dengan cara menggantung diri.

Semua yang dilakukan keduanya, direkam langsung ke youtube, sehingga tayangannya semakin membuat orang penasaran, dan mampu meraih banyak viewer yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Kesuksesan vlogger terkenal, The Jackal, membuat pesaingnya menjadi iri.

Para pesaing mengikuti cara apapun yang The Jackal lakukan, dengan resiko apapun demi mendapat viewer mencapai jutaan orang. Adalah tujuh sahabat, yaitu Rama (Al Ghazali), Celsie (Valerie Thomas), Garin (Endy Arfian), Farel (Atta Halilintar), Hana (Marsha Aruan), Quincy (Steffi Zamora) dan Fira (Mumuk Gomez) yang menjadi pesaing mereka.

Rama pernah menjalin hubungan spesial dengan Klara, yang membuat persaingan di antara mereka begitu sangat ketat. Ketujuh sahabat itu memang berupaya untuk meraih popularitas dengan mengalahkan dua vlogger terkenal, The Jackal. Mereka bertujuh pun melakukan uji nyali di tempat yang sama, tapi hasilnya viewer-nya hanya mencapai puluhan ribu saja.

Hal itu membuat ketujuh sahabat tersebut sangat kecewa. Tapi mereka tak patah arang, akan tetapi semangat bersaing demi untuk menjadi vlogger nomor satu dan paling eksis.

Suatu hari, Klara dan Joy mencari informasi tempat-tempat sangat angker dan berbahaya untuk uji nyali berikutnya dengan mengakses internet di perpustakaan kampus. Keduanya, menemukan informasi sebuah resor terbengkalai di Pulau Ayunan, yang dikabarkan sangat menyeramkan.

Klara tak setuju tempat itu menjadi tujuan uji nyali berikutnya, bukan saja sangat menyeramkan, tapi sudah menelan banyak korban. Bahkan dikabarkan, sampai polisi yang mencari para korban juga turut lenyap di tempat yang begitu sangat misterus itu.

Diam-diam di balik rak buku, Quincy dan Fira mengintip aktivitas yang dilakukan Klara dan Joy. Setelah Klara dan Joy pergi meninggalkan PC perpustakaan kampus, Quincy dan Fira kemudian mengakses internetnya. Kebetulan data informasi yang diakses Klara dan Joy masih dibiarkan terbuka, sehingga Quincy dan Fira dapat dengan mudah mendapatkan informasi keberadaan resor terbengkalai di Pulau Ayunan yang dikabarkan sangat menyeramkan.

Informasi yang didapat kemudian sampai ke teman-temannya Wuincy dan Fira. Mereka berasumsi, Klara dan Joy juga akan ke resor terbengkalai di Pulau Ayunan. Tanpa pikir panjang, ketujuh sahabat itu pergi ke resor terbengkalai di Pulau Ayunan. Mereka mengabadikan semua pengalaman mereka di sana dalam bentuk reality show yang tanpa disangka-sangka berubah menjadi petaka dan mengancam keselamatan mereka.

Film ini menegangkan dari awal sampai akhir. Rudy Soedjarwo mampu mengemas film ini dengan cukup baik. Film ini memang bukan film horor pertama Rudy. Karena ia juga berada di balik layar Pocong 2 (2006), Hantu Rumah Ampera (2009), serta Algojo: Perang Santet (2016). Film ini menjadi bukti bahwa Rudy sebagai sutradara multi genre yang memang bisa menangani berbagai genre film.

Akting kesembilan pemain muda, yakni Al Ghazali, Mikha Tambayong, Valerie Thomas, Achmad Megantara, Endy Arfian, Atta Halilintar, Marsha Aruan, Steffi Zamora dan Mumuk Gomez, bisa dibilang rata-rata berakting cukup baik. Film ini tak menonjolkan satu karakter di antara karakter lainnya. Semua sama rata.

Meski dalam film ada bumbu kisah cinta segi empat dari karakter yang dilakoni Al Ghazali, Mikha Tambayong, Valerie Thomas, dan Achmad Megantara. Tapi kisah cintanya tenggelam dengan adegan-adegan penuh ketegangan dari awal hingga akhir.

Adapun para pemain pendukung, seperti Jeremy Thomas, Fauzi Baadilla, Tia Ivanka, Wani Siregar, Khadijah hingga Chef Juna, cukup memperkuat film. Terlebih, aktris cilik Khadijah yang langganan berperan menjadi hantu cilik, tampaknya semakin menguatkan dirinya spesalis peran hantu cilik. Kemudian, Chef Juna yang dalam film ini berperan sebagai Chef Papang, cukup mencuri perhatian penonton. Eksistensi Juna sebagai juri ajang adu masak di sebuah stasiun swasta, cukup menjadi bekal hingga membuat Chef Juna semakin terkenal.

Menyaksikan film ini, tidak hanya merasakan ketegangan. Tetapi juga melihat gaya anak muda zaman now yang tajir, mempertontonkan kekayaan dengan mobil-mobil mewah dan rumah nan megah.  Ada pesan moral dalam film ini yang patut menjadi bahan renungan. Kita tidak perlu terlalu ikut-ikutan segala hal yang digandrungi dan menjadi tren di zaman ini. Media sosial di satu sisi memang ada positifnya untuk mempermudah kita bersosialisasi dengan siapapun di belahan bumi manapun dalam perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih.

Tapi di sisi lain, banyak juga sisi negatifnya. Orang semakin individualis dan semakin jarang bersosialiasi secara langsung. Berita-berita hoax semakin banyak merebak. Untuk itu, kita perlu eling dan waspada, karena seberuntung-beruntungnya orang di zaman edan, masih beruntung orang yang selalu eling dan senantiasa waspada.

Baca Juga
Lihat juga...