131 Orang Meninggal, Penanganan Gempa Lombok Diintensifkan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

222

JAKARTA — Memasuki hari ketiga pascagempa 7 SR yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat, penanganan darurat makin diintensifkan. Evakuasi mengerahkan 14 alat berat, empat anjing pelacak dan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan.

Hingga hari ini (8/8/2018) jumlah korban terus bertambah menjadi 131 orang meninggal dunia, 1.477 orang luka berat dan dirawat inap di rumah sakit, 156.003 orang mengungsi, 42.239 unit rumah rusak dan 458 unit sekolah rusak.

“Data ini diperkirakan akan terus bertambah mengingat pendataan belum semuanya selesai dilakukan. Selain itu, korban belum semua ditemukan oleh Tim SAR gabungan,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Sutopo mengatakan, daerah di Kabupaten Lombok Utara paling parah terdampak bencana. Dari 131 orang meninggal akibat gempa terdapat di Kabupaten Lombok Utara 78 orang, Lombok Barat 24 orang, Lombok Timur 19 orang, Kota Mataram 6 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang.

Di sosial media, beredar data jumlah korban meninggal yang lebih banyak. Bahkan hasil pertemuan Camat se-Kabupaten Lombok Utara menyebutkan jumlah korban 347 orang meninggal dunia. Dalam hal ini Posko BNPB dan Pusdalops BPBD NTB masih melakukan verifikasi kebenaran data tersebut.

“Laporan data korban harus dilampirkan identitas korban yaitu nama, usia, jenis kelamin dan alamat asal untuk menyatakan bahwa data tersebut benar. Sebab konsekuensi dari adanya korban meninggal dunia maka Pemerintah akan memberikan bantuan santunan duka cita dan lainnya,” ujarnya.

BNPB dan BPBD NTB sudah meminta Bupati Lombok Utara untuk memberikan lampiran identitas korban meninggal di Kabupaten Lombok Utara akibat gempabumi 7 SR untuk dilakukan verifikasi. Sesuai regulasi yang ada, data resmi dari korban akibat bencana yang benar dan diakui Pemerintah adalah data dari BNPB dan BPBD.

“Jumlah pengungsi juga terus bertambah. Saat ini data sementara 156.003 orang yang tersebar di Lombok Utara 55.390 orang, Lombok Timur 29.195 orang, Lombok Barat 39.599 orang dan Kota Mataram 31.819 orang. Diperkirakan data pengungsi akan bertambah mengingat belum semua pengungsi terdata dengan baik,” ungkapnya.

Lebih jauh Sutopo menyebutkan, kebutuhan dasar pengungsi terus ditambah. Dapur lapangan terus didirikan di banyak tempat oleh TNI, Polri, Tagana, SKPD, BPBD Jawa Tengah, NGO, dan masyarakat. Logistik juga terus didistribusikan. Di mana 100 ton beras telah dikeluarkan dari Depo Logistik oleh Dinas Sosial dan BPBD NTB.

“Distribusi bantuan mengerahkan relawan-relawan dengan kendaraan untuk menyalurkan ke daerah-daerah yang terisolir dan belum menerima bantuan. Lebih dari 200 kendaraan mengangkut logistik kebutuhan dasar pengungsi seperti makanan, air mineral, selimut, tikar, pakaian dan sebagainya telah disalurkan dari Gudang BPBD NTB,” sebutnya.

Sutopo menambahkan, evakuasi korban terus dilakukan oleh Basarnas Bersama TNI, Polri, dan relawan SAR. Evakuasi dilanjutkan korban tertimpa bangunan roboh, antara lain di Masjid Jabbal Nur di Dusun Lading-lading, Desa Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara, Puskesmas Tanjung di Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara, Masjid Jamiul Jamaah di Desa Bangsal Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara, dan daerah lainnya.

“Layanan kesehatan untuk korban dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, dan relawan,” jelasnya.

Kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso milik TNI sudah sandar di Lombok Utara pada 7/8/2018 pukul 19.45 WIB dan langsung melayani pasien korban gempa.

Kapal RS Apung Prabu Airlangga dalam perjalanan ke Lombok Utara. Rumah sakit lapangan sudah beroperasi melayani masyarakat yaitu di Sembalun di Lombok Timur yaitu RS Batalyon Kesehatan 1, dan di Lombok Utara ada dua rumah sakit lapangan yaitu dari RS Yonkes 2 oleh Marinir dan Kostrad.

Baca Juga
Lihat juga...