23 Sampel Otak Anjing di Sikka Positif Rabies

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

144
Dokter Asep Purnama, sekertaris Komite Rabies Flores dan Lembata. Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Kasus penyakit Rabies yang ditemukan pada anjing peliharaan warga di kabupaten Sikka masih saja terus terjadi sehingga harus diwaspadai masyarakat, sebab kasus ini sudah menyebar hingga di kota Maumere.

“Selama periode Januari sampai Juli tahun 2018 ini, dari 50 sampel otak anjing yang dikirim untuk diperiksa di laboratorium Veteriner di Denpasar Bali, 23 sampelnya positif Rabies,” sebut Drh. Maria Margaretha Siko, MSc, kepala bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kabupaten Sikka, Senin (27/8/2018).

Jumlah ini, sebut Maria, meningkat dibandingkan dengan kondisi saat April 2018. Dari 20 sampel yang diperiksa, 10 sampelnya juga positif mengandung virus Rabies.

“Selama tiga bulan sejak April sampai Juli ada peningkatan 20 kasus Rabies dimana anjing tersebut menjadi buas dan menggigit warga dan pemiliknya, sehingga disembelih. Kepala anjingnya pun diserahkan ke dinas Pertanian untuk diteliti,” sebutnya.

Namun Maria menyayangkan, 50 sampel otak anjing yang dikirim tersebut berasal dari pemberian warga. Namun itu masih belum semua yang dilaporkan.

“Penyebaran penyakitnya sangat cepat apalagi anjing yang positif rabies tersebut juga tidak diikat atau dikandangkan, sehingga akan bermain dan menggigit anjing lainnya sehingga menularkan virus rabies,” ungkapnya.

Dr.Asep Purnama, sekertaris Komite Rabies Flores dan Lembata mengaku miris dengan masih banyaknya kasus yang terjadi, meskipun pihaknya telah berulangkali meminta pemerintah daerah untuk memerangi secara masif dan terus menerus.

“Harus ada komitmen yang kuat dari pemerintah daerah untuk menindaklanjuti permasalahan ini. Dalam berbagai kasus hanya ditemukan pada anjing peliharaan dan tidak ditemukan pada monyet. Untuk itu anjing peliharaan warga semuanya harus divaksin secara berkala,” pesannya.

Harus ada gerakan besar-besaran, kata Asep, dan warga masyarakat yang tidak mau anjingnya divaksin harus dikenakan sanksi sehingga penyakit ini bisa hilang selamanya. Kalau hanya ketika ada kasus kematian baru pemerintah mengambil langkah maka penyakit rabies tidak mungkin akan hilang.

“Kalau ketika ada kasus kematian pada manusia baru semua sibuk untuk memeranginya maka sampai kapan pun penyakit rabies ini tetap ada, sebab tidak ada sanksi bagi warga yang memelihara yang tidak mau anjingnya divaksin,” ungkapnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk