33 Lukisan Hendra Gunawan Dipamerkan

Editor: Koko Triarko

120
JAKARTA – Hendra Gunawan, salah satu pelukis besar dalam sejarah seni rupa Indonesia. Ia dikenal dengan lukisan-lukisan yang menggambarkan kerumunan rakyat, serdadu-serdadu revolusioner, figur perempuan, potret keluarga di tengah aktivitas sosial dan kisah dunia pewayangan.
Dalam memperingati 100 Tahun Hendra Gunawan, Ciputra Artpreneur menggelar Pameran 100 Tahun Hendra Gunawan (1918-2018) yang menampilkan 33 lukisan karya Hendra Gunawan, dan Pameran Spektrum Hendra Gunawan, yang menampilkan 100 karya seni dari 70 seniman kontemporer yang terinspirasi dari karya-karya lukisan Hendra Gunawan.
“Pameran 100 Tahun Hendra Gunawan ini terjadi bukan hanya semata-mata untuk peringatan seratus tahun Hendra Gunawan, tapi komitmen Pak Ciputra untuk membuat museum lukisan Hendra Gunawan jadi embrio dari museum lukisan Hendra Gunawan,“ kata Agus Darmawan T, pengamat seni rupa, di Pameran 100 Tahun Hendra Gunawan, di Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (11/8/2018).
Lelaki kelahiran Rogojampi, Jawa Timur, 29 April 1952, itu membeberkan, dalam Pameran 100 Tahun Hendra Gunawan, ini dipamerkan 33 lukisan karya Hendra Gunawan dengan beberapa belas lukisan sketsanya.
“Ini hanya sebagian kecil dari koleksi lukisan Hendra Gunawan yang dimiliki Pak Ciputra,“ bebernya.
Menurut Agus, lukisan ‘Arjuna Menyusui’ karya Hendara Gunawan adalah masterpiece. “Lukisan itu menarik sekali, menceritakan mengenai seorang perempuan yang memerankan Arjuna, namun sebelum pementasan ia menyusui anaknya. Dalam dunia pewayangan, Arjuna sebagai tokoh yang sakti mandraguna, cerdas dan ganteng, tapi halus dan lembut tutur katanya, sehingga sering diperankan oleh seorang perempuan,“ paparnya.
Selain itu, ada juga lukisan ‘Penganten Revolusi’ karya Hendara Gunawan, yang tersimpan di Museum Fatahillah, yang menurut Agus juga termasuk masterpiece.
“Sama seperti lukisan ‘Pangeran Diponegoro yang Terluka’ karya Hendra Gunawan yang belum selesai, yang disiapkan akan dihadiahkan kepada Pemda Jawa Tengah,“ ungkapnya.
Agus menyampaikan, pada masa hidupnya, Hendra Gunawan mempunyai ide untuk membuat 13 lukisan yang menceritakan pahlawan dari 13 provinsi. “Tapi, sejumlah pemerintah daerah menolaknya, karena Pak Hendra pada waktu itu masih dianggap ‘orang kiri’ yang belum direhabilitasi, sehingga banyak pemda yang menolak, tapi ada dua pemda yang menerima, yaitu Pemda Jawa Barat dan Bali,“ ujarnya.
Lukisan ‘Pangeran Diponegoro yang Terluka’, yang sudah dibuat Hendra Gunawan itu, kata Agus, kemudian diserahkan kepada Pak Ciputra. “Lukisan ‘Pangeran Diponegoro yang Terluka’ itu akan menambah koleksi lukisan Hendra Gunawan yang dimiliki Pak Ciputra, dan nantinya akan masuk dalam Museum Lukisan Hendra Gunawan,“ tegasnya.
Agus menyampaikan, bahwa selama ini orang mendengar kata museum itu penyimpanan benda-benda tua. Bahkan, banyak yang mengatakan kalau masuk museum seperti masuk kuburan.
“Namun, Pak Ciputra yang memiliki wawasan, menyatakan, bahwa Museum Lukisan Hendra Gunawan didirikan bukan untuk menyimpan benda-benda tua, tapi benda-benda yang memancing wacana dan pemikiran baru. Bahkan, masyarakat bisa menambahkan materi untuk melengkapi koleksi lukisannya,“ pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.