Abrasi Pantai Selatan Ancam Desa Sikka

Editor: Mahadeva WS

1.397

MAUMERE – Gelombang tinggi yang menerjang Pantai Selatan Pulau Flores, termasuk di wilayah selatan Kabupaten Sikka mengancam rumah penduduk. Terutama rumah warga di desa-desa yang berada di pesisir Pantai Selatan.

Beberapa rumah roboh, terkena abrasi. Beberapa ruas jalan juga terancam mengalami kerusakan karena terjangan gelombang. “Memang laut di Pantai Selatan gelombangnya sangat besar. Terkadang ada gelombang besar, seperti yang terjadi Rabu (25/7/2018) lalu yang membuat beberapa rumah rusak,” ungkap Kepala Desa Sikka, Kecamatan Lela, Ignasius Mikhael Riwu, Rabu (1/8/2018).

Ignasius memperkirakan, bila abrasi ini terus berlangsung, maka lima tahun ke depan, puluhan rumah di pesisir pantai di Desa Sikka terancam. Bahkan tanggul yang dibangun lima tahun lalu rubuh sudah dilewati air laut hingga sejauh empat meter.

Akibat gelombang besar pada Rabu (25/7/2018) lalu, tercatat ada sembilan rumah rusak berat, dua rumah lenyap tersapu gelombang. Jalan masuk ke Desa Sikka setelah gerbang desa pun terancam putus. Tanggul penahan jalan juga ikut rubuh tersapu gelombang.

Fidelis Vandrianus, warga Desa Sikka yang rumahnya rata tanah tersapu gelombang meminta, pemerintah daerah segera turun tangan mengatasi permasalah warga tersebut. Termasuk mempersiapkan lokasi untuk relokasi pemukiman warga. “Banyak warga yang tinggal di pesisir pantai mau pindah kalau pemerintah menyiapkan lahan atau kalau sudah dibangun rumah tentu lebih baik. Saya juga tidak mau lagi tinggal di lokasi rumah saya sekarlang, masih trauma dengan kejadian minggu lalu,” tandasnya.

Rosmayanti salah seorang warga desa Sikka yang rumahnya rata dengan tanah akibat tersapu gelombang. Foto : Ebed de Rosary

Warga lain yang rumahnya juga hancur diterjang gelombang, Rosmayanti menyebut, kondisi lahan di pesisir pantai di Desa Sikka, tidak memungkinkan warga untuk membangun rumah kembali. Ancaman abrasi setiap tahun semakin besar dan membuat banyak rumah semakin terancam.

“Setiap tahun abrasi bisa mencapai hampir setengah meter dan gelombang juga semakin besar sementara di pesisir pantai tidak ada pohon pelindung yang bisa menahan laju abrasi. Kalau mau bangun tanggul tentu harus tinggi dan pasti banyak butuh uang,” tuturnya.

Rosmayanti menyebut, merelokasi rumah warga yang berada persis di pesisir pantai dan sangat terancam abrasi adalah satu-satunya solusi yang bisa dilakukan. Namun hal tersebut tidak hanya dilakukan di Desa Sikka, tetapi juga di desa tetangga seperti Desa Watutedang. Namun semua itu tentu menjadi kewenangan pemerintah.

Data yang dimiliki Cendana News, gelombang pasang juga pernah menghantam perumahan warga di Desa Watutedang yang masih berada di Kecamatan Lela. Pada kejadian di 3 Agustus 2016 lalu, 11 rumah penduduk di pesisir pantai rusak berat. Saat itu, gelombang besar baru pertama kali terjadi, sehingga warga yang selama ini sudah terbiasa menyaksikan gelombang besar mengaku kaget dan berlarian ke jalan dan mengungsi ke rumah keluarga.

Baca Juga
Lihat juga...