AMAN Nusa Bunga: Masyarakat Adat Sering Dirugikan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

122

ENDE — Permasalahan atau sengketa terkait dengan hak ulayat terutama tanah antara pemerintah dan komunitas adat di wilayah pulau Flores dan Lembata terus terjadi, dimana masyarakat adat sering merasa terpinggirkan dan selalu dirampas hak-haknya.

“Dalam berbagai kasus sengketa masyarakat adat dan pemerintah, masyarakat adat sering dirugikan sehingga kami dari AMAN Nusa Bunga berupaya untuk memperjuangkan Peraturan Daerah terkait masyarakat adat di beberapa kabupaten di wilayah Flores dan Lembata,” sebut Philipus Kami, Ketua Alianasi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Jumat (24/8/2018).

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga yang meliputi wilayah Flores dan Lembata, Philipus Kami. Foto : Ebed de Rosary

Dikatakan Philipus,b erbagai kasus yang terjadi seperti komunitas adat Saga di Ende yang memperjuangkan tanah ulayat yang diklaim pemerintah masuk dalam kawasan hutan lindung, serta yang terakhir soal masyarakat adat Rendu yang menolak pembangunan waduk di atas tanah ulayat mereka, sering membuat masyarakat adat mengalami kerugian.

“Sering terjadi konflik yang berkepanjangan dan tidak ada titik temu sehingga masyarakat adat pun tidak dapat melakukan aktifitas keseharain mereka seperti berkebun dan selalu dihantui ketakutan, sebab permasalahan tidak segera diselesaikan,” tuturnya.

Untuk itu, sebut anggota DPRD Ende ini, Rakerwil AMAN Nusa Bunga yang diselenggarakan dapat menyatukan pandangan dalam menghadapi permasalahan yang terjadi, terutama antara komunitas adat dengan pemerintah daerah, khususnya masalah tanah ulayat.

“Rakerwil dilakukan sebagai ajang konsolidasi internal guna mengevaluasi kinerja selama satu tahun. Kita ingin melihat kembali apa yang sudah dibuat dan apa yang akan dikerjakan satu tahun ke depan sesuai dengan agenda yang sudah ditetapkan,” sebutnya.

Kepada Cendana News, Philipus mengharapkan Rakerwil dapat memetakan permasalahan di setiap komunitas adat.

“Kita berharap agar Rakerwil yang digelar ini bisa menghasilkan berbagai rekomendasi yang harus ditindaklanjuti agar AMAN bisa terus berbenah dan bekerja sesuai dengan misi yang telah ditetapkan organisasi,” pungkasnya.

Baca Juga
Penyelengaraan Festival Tiga Gunung Dikritisi LEWEOLEBA – Jalan-jalan di dalam Kota Leweoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata, banyak yang masih berlubang. Apalagi untuk jalan yang penghubung antar ke...
BBM Langka di Lembata, Antrian Mencapai Dua Kilome... LEWOLEBA – Ratusan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, Selasa (25/9/2018), sejak pukul 02.00 WITA, mengantri di AMPS, satu-satunya Stasiun Pen...
Kemarau, PDAM Kupang Batasi Distribusi Air Bersih KUPANG - Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mulai membatasi distribusi air bersih untuk 12.000 pelanggan, sejak ibu k...
Warga Lembata Keluhkan Kelangkaan BBM LEWOLEBA – Ratusan kendaraan bermotor, baik roda dua atau lebih, sejak pukul 02.00 WITA, mengantre di AMPS, satu-satunya Stasiun Pengisian BBM di kota...
TKI NTT tak Pikirkan Dampak Pekerjaan KUPANG - Pengamat masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Pater Gregorius Neonbasu SVD, menilai para TKI ...
Perpustakaan Ramah Anak ke-100 Berdiri di NTT JAKARTA --- Taman Bacaan Pelangi meresmikan perpustakaan ramah anak yang ke-100 di SDK Nangapanda 1, Ende, Nusa Tenggara Timur. Peresmian perpustak...
Tak Percaya DPRD Sikka, PMKRI Maumere Surati KPK MAUMERE - Dana pengamanan pilkada Sikka 2018 masih menjadi perdebatan hangat di Nian Tana Sikka. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka yang mengucurkan ...