Among-among, Tradisi Jawa yang Lestari di Lampung

545
LAMPUNG – Among-among menjadi salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat di Lampung Selatan, terutama warga yang berasal dari Pulau Jawa.
Fitriani (30), salah satu generasi kedua warga asal Gunung Kidul, Yogyakarta, menyebut tradisi among-among kerap dibuat, salah satunya saat hari kelahiran anak. Sejak kecil, ketika hari kelahiran (weton) sang ibu kerap membuatkannya among-among. Perhitungan weton tersebut kerap disesuaikan dengan tanggal kelahiran, dengan membuat makanan istimewa untuk dimakan bersama.
Tradisi membuat among-among, kata Fitriani, kerap diingat oleh kaum perempuan, sehingga saat bulan lahir sudah dilingkari pada kalender. Menyesuaikan waktu kelahiran, ia juga kerap menghitung hari weton sesuai penanggalan Jawa.
Menu among-among berupa tumpeng, sayuran, lauk, bubur beras merah putih siap didoakan dan disajikan [Foto: Henk Widi]
Namun, seiring pergeseran zaman, among-among dilakukan bertepatan dengan tanggal lahir yang kerap disebut hari ulang tahun. Meski bagi anak yang baru dilahirkan sebelum usia satu tahun, among-among masih dilakukan.
Saat masih kecil, ia bahkan mengaku masih kerap diundang among-among saat seorang wanita hamil tujuh bulan (mitoni).
Setelah bayi lahir, tradisi among-among akan dilakukan saat bayi usia 35 hari. Sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran bayi, kerap ditandai dengan pemotongan kuku bayi dan rambut. Kegiatan tersebut diakui Fitriani masih dijalani oleh keluarga besarnya yang berasal dari Yogyakarta hingga kini.
“Kami masih nguri-nguri atau melestarikan adat budaya leluhur, meski kini sudah tinggal di pulau Sumatera, tujuannya untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberkahan hidup sejak kelahiran serta saat usia tertentu,” terang Fitriani, warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Minggu (12/8/2018).
Menurutnya, pembuatan among-among melibatkan tetangga dan kerabat, menyesuaikan jumlah tetangga yang akan diundang. Dalama cara among-among, yang kerap diundang biasanya anak-anak. Menu among-among sangat sederhana, berupa nasi putih dibuat menjadi tumpeng, sayuran urap (kuluban) dari daun singkong, bayam, kacang panjang, daun kacang pajang muda bersama parutan kelapa, telur rebus yang diiris, ikan asing, kerupuk serta tambahan ikan asin. Tambahan ingkung atau ayam bakar kerap disajikan sebagai sajian utama.
Sebelum among-among digelar, anak-anak satu dusun sudah diundang oleh anak yang diutus untuk datang ke rumah anak yang akan melakukan among-among.
Sejak usia 1-10 tahun, sebagian anak di wilayah tersebut Fitriani masih melakukan tradisi among-among. Saat ini, sebagian warga bahkan telah memadukan tradisi among-among dengan ulang tahun yang sudah menggunakan tambahan kue tar serta nasi kotak.
“Tradisi among-among tetap dijalankan, hanya saja dipadukan dengan tradisi ulang tahun dengan sajian makanan tambahan,” beber Fitriani.
Fitriani dan sang anak, Nia, yang merayakan ulang tahun diisi dengan among-among [Foto: Henk Widi]
Setelah anak-anak dikumpulkan, nasi among-among yang diletakkan di tampah beralaskan daun siap dikelilingi oleh anak-anak yang diundang. Sebelum dibagikan, nasi among-among terlebih dahulu akan didoakan oleh orang tua, yakni ayah atau oleh sesepuh desa setempat.
Anak-anak yang diundang juga ikut mendoakan keselamatan anak yang merayakan ulang tahun, dengan cara mengepung nasi tumpeng yang dibuat. Fitriani yang mengundang anak-anak untuk among-among, mengaku merayakan ulang tahun ke-9 anaknya yang bernama Nia.
Semula, nasi among-among dibagikan menggunakan daun pisang, namun kini sudah menggunakan kertas nasi, bahkan kotak nasi.
Setelah semua anak mendapatkan nasi, lengkap dengan sayur dan beragam lauk, bubur beras merah putih, among-among bisa dimakan secara bersama-sama.
Sebagian anak bisa membawa pulang untuk dimakan di rumah atau langsung dimakan bersama dengan tuan rumah.
Selain Fitriani, tradisi among-among juga masih dilakukan oleh warga Desa Pasuruan Kecamatan, Penengahan.
Suyatinah (63), masih membuat among-among untuk ulang tahun ke-13 cucunya bernama Christeva. Berbeda dengan perayaan ulang tahun, undangan among-among sengaja dilakukan untuk mengundang anak-anak sebaya tanpa harus membawa kado hadiah.
Among-among akan dibagikan sekaligus dimakan bersama dengan sang cucu yang merayakan ulang tahun.
Tradisi among-among dengan menu makanan yang sederhana tersebut, bisa dimakan bersama menggunakan kertas nasi atau piring. Melalui kegiatan among-among, kearifan lokal yang masih dijaga tersebut mengajarkan anak-anak untuk selalu bersyukur.
Selain itu, makan bersama bisa menjadi sarana untuk melatih kepedulian sang anak kepada sesama. Keakraban dan kebersamaan juga akan muncul saat kegiatan makan bersama, atau bancakan tanpa pembedaan makanan yang disantap.
“Semua anak bisa makan bersama, kadang didampingi orang tuanya dan nasi among-among bisa dibawa pulang,” terang Suyatinah.
Meski sudah jarang keluarga melakukan tradisi among-among, saat hari kelahiran sang cucu, Suyatinah masih rutin membuat among-among. Kearifan lokal warisan leluhur tersebut diakuinya masih memiliki nilai positif dan mengajarkan solidaritas bagi anak-anak dan rekan sebaya.
Meski sudah tergerus dengan perayaan ulang tahun yang lebih meriah, among-among masih tetap dilestarikan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga
Lihat juga...