Angka Inflasi NTB Lebih Tinggi dari Nasional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.283

MATARAM — Kenaikan pada sejumlah kelompok makanan menjadi penyebab utama terjadinya inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, inflasi pada Juli 2018 mencapai 0,64 persen.

“Inflasi NTB 0,64 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 131,84 pada Juni 2018 menjadi 132,69 pada Juli 2018,” kata Kepala BPS NTB, Endang Tri Wahyuningsih di Mataram, Rabu (1/8/2018).

Dikatakan, besaran angka tersebut lebih tinggi dari inflasi nasional yang hanya mencapai 0,28 persen. Lima komoditas yang mengalami inflasi terbesar antara lain, daging, ayam ras, tongkol dan mbu–ambu, cabai rawit, telur ayam ras, dan rokok kretek filter.

Sedangkan lima komoditas yang mengalami penurunan harga terbesar antara lain bawang merah, salak, pir, jeruk, dan anggur.

“Kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 1,62 persen, kelompok sandang sebesar 0,59 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,55 persen,” katanya.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dab tembakau sebesar 0,46 persen, kelompok transport, komunikasi dan jasa jasa keuangan sebesar 0,43 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,34 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,21 persen.

Dari sebelas subkelompok dalam kelompok ini, tujuh subkelompok mengalami inflasi dan empat kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok ikan segar sebesar 7,36 persen dan inflasi terendah terjadi pada subkelompok, padi, Umbi–umbian dan hasilnya sebesar 0,03 persen.

“Sedangkan deflasi terbesar terjadi pada subkelompok buah-buahan sebesar 3,75 persen dan deflasi terkecil terjadi pada subkelompok sayuran,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.