Balitbang Kementan Kembangkan Bioplastik

Editor: Mahadeva WS

440
Kepala Bidang Kerjasama Dan Promosi Litbang Kementerian Pertanian Dr. Evi Safitri Iriani.-Foto:Sultan Anshori.

BADUNG – Jerami adalah hasil samping usaha pertanian, berupa tangkai dan batang tanaman jenis serealia yang telah kering. Jerami didapatkan setelah dilakukan pemisahan biji-biji tanaman serealia dari batangnya.

Massa jerami kurang lebih setara dengan massa biji-bijian yang dipanen. Jerami limbah pertanian, sering kali dimanfaatkan sebagai bahan bakar, pakan ternak, alas atau lantai kandang, bahan bangunan (atap, dinding, lantai), mulsa, dan bahan baku kerajinan tangan. Baru-baru ini, tepatnya di 2015 hingga 2016, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, mengembangkan Bioplastik. Sebuah plastik berbahan baku utama jerami.

Kepala Bidang Kerjasama dan Promosi Litbang Kementerian Pertanian, Dr. Evi Safitri Iriani menjelaskan, Bioplastik dibuat dari pati ubi kayu, nanoselulosa jerami padi. Bioplastik sangat ramah lingkungan, karena mampu terurai alami oleh tanah selama kurang lebih dua hingga tiga bulan. “Tidak seperti plastik biasanya, yang membutuhkan waktu cukup lama agar bisa terurai alami oleh tanah,” kata Dr. Evi Safitri Iriani, Rabu (29/8/2018).

Hanya saja Bioplastik masih memiliki kekurangan, salah satunya adalah sifat mekanis yang dimiliki Bioplastik tidak setara plastik konvensional. Dalam upaya meningkatkan sifat mekanis tadi, dilakukan penambahan nanoselulosa dari limbah pertanian seperti jerami padi dan tandan sawit.

Dengan penambahan nanoselulosa, ada peningkatan sifat mekanis, khususnya kuat tarik dan permeabilitas. Selain mengembangkan penelitian Bioplastik, lembaga tersebut juga fokus meneliti kemasan substitusi styrofoam yang disebut biofoam, yang berbahan baku dasar jerami.

Tak jauh beda dengan Bioplastik, Biofoam juga mudah terurai oleh tanah bahkan air. Artinya saat dibuang ke dalam sungai, Styrofoam akan hancur dengan sendirinya. “Kalau di pasaran sudah ada Bioplastik dan Styrofoam ini. Namun produksinya masih sedikit. Hal ini terkendala harga produksi yang masih mahal, terutama dalam produksi nanoselulosanya,” tandas Dr. Evi.

Dengan kondisi tersebut, diharapkan peran pemerintah dalam upaya produksi plastik berbahan organik, yang lebih mudah terurai oleh lingkungan. “Harapan kedepannya ada peran pemerintah untuk membatasi plastik konvensional, dan mengganti dengan yang ramah lingkungan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...