Balitbang Pertanian Kembangan Inovasi Teknologi Pasca Panen

Editor: Mahadeva WS

157

BADUNG – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, mengembangkan teknologi pasca panen. Hal itu untuk menjaga hasil pertanian, mulai dari pemanenan, sampai pengolahan, dan juga pemanfaatan limbah, dilakukan dengan penanganan segar.  

Seperti, mempertahankan umur simpan cabai, bawang dan buah-buahan, terutama produk tujuan ekspor, agar biar bisa sampai ke konsumen yang di Eropa maupun negara-negara lain tetap terjaga kesegarannya. Upaya yang dilakukan adalah dengan menciptakan alat, Isntore drier dan Controlled atmosphere storage (CAS). Kedua alat ini berfungsi untuk memaksimalkan hasil pertanian pasca panen.

Kepala Bidang Kerjasama dan Promosi Litbang Kementerian Pertanian, Dr. Evi Safitri Iriani.-Foto:Sultan Anshori

“Misalnya begini, seperti alat Isntore drier, alat ini merupakan rumah pengering bawang otomatis. Jadi kalau biasanya masyarakat mengeringkan bawang di tanah lapang memerlukan waktu yang cukup lama, sekira 15 hari. Dengan alat ini petani hanya membutuhkan waktu dua hari untuk pengeringan. Sehingga kondisi bawang akan tetap baik, dan tidak busuk saat akan dipasarkan,” jelas Kepala Bidang Kerjasama dan Promosi Balitbang Kementerian Pertanian, Dr. Evi Safitri Iriani, Jumat, (31/8/2018).

Sementara untuk CAS, adalah alat untuk mengontrol kualitas tanaman cabai. Alat yang mirip dengan lemari pendingin atau kulkas tersebut, berfungsi untuk mengatur suhu pada tanaman cabai. Hal itu dibutuhkan karena tanaman cabai sering terkendala cuaca dalam proses pemasarannya. Kedua alat tersebut kini sudah di distribusikan kebeberapa tempat di Indonesia.

Balitbang Pertanian juga terus berusaha menciptakan alat baru, yang bertujuan menekan losses atau kehilangan hasil pertanian. Data hasil survei menunjukkan, losses di Indonesia masih cukup tinggi, antara 20 sampai 50 persen, tergantung komoditasnya. Untuk itu pihaknya berupaya penuh untuk menekan itu. “Misalnya kalau padi sekira 20 persen, kita berusaha menekan dengan review yang lebih baik, dengan teknologi pemanenan menggunakan kompensasi itu,” jelasnya.

Jika melihat budaya Ekspor pangan pasca panen produk pertanian, khususnya buah segar dan sayuran, Evi menyebut, Indonesia masih berada dibawah Singapura, Thailand dan Vietnam, untuk kawasan Asean. Banyak faktor yang menyebabkannya, selain karena kesiapan teknologi, penyediaan infrastruktur juga menjadi salah satu faktornya. “Jadi mereka sudah dalam proses kontrol atmosfer sementara kita masih baru memulainya,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.