Bapak-bapak Kampung Tompeyan Jogja ini Sukses Bertani di Tengah Kota

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

301

YOGYAKARTA — Siapa bilang bertani tak bisa dilakukan di kawasan tengah kota yang padat penduduk. Sejumlah warga di kampung Tompeyan, Tegalrejo, Yogyakarta membuktikan mereka tetap dapat melakukannya meski di tengah keterbatasan lahan yang ada.

Adalah warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi, Tegalrejo. Diprakarsai bapak-bapak warga kampung yang mencintai dunia pertanian, mereka memulai menanam berbagai macam sayuran konsumsi di sekitar pekarangan sempit rumah mereka.

Meski tak memiliki background di dunia pertanian, mereka membuktikan mampu melakukan berbagai inovasi untuk menghasilkan bermacam jenis sayuran untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual. Mulai dari cabai, terong, tomat, sawi, slada hingga tanaman herbal dengan beragam khasiat obat.

“Kita manfaatkan barang-barang bekas tak terpakai seperti kaleng cat, galon, botol minuman, paralon hingga bambu untuk menanam. Tempatnya ya seadanya, bisa di pinggir gang, teras rumah, atau bahkan atap rumah,” kata ketua Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi, Eka Yulianto saat ditemui Cendana News.

Ketua Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi, Eka Yulianto bersama salah satu anggota. Foto: Jatmika H Kusmargana

Tak hanya menanam berbagai macam jenis sayuran, warga juga mampu beternak ikan lele hingga belut dengan memanfaatkan kolam kecil yang dibuat sendiri. Salah satunya adalah memanfaatkan bak resapan air yang didesain sedemikian rupa.

“Awalnya kita hanya berlima. Semua bapak-bapak. Tapi setelah berhasil, dan manfaatnya bisa langsung dirasakan, akhirnya banyak warga lain yang ikut. Termasuk ibu-ibu PKK. Tidak hanya di RT ini saja, namun meluas sampai ke RT lain, bahkan tingkat RW hingga Kelurahan,” katanya.

Menurut Eka, dengan bertani di lingkungan rumah sendiri, warga tidak hanya akan dapat memanen hasil sayur yang ada, namun juga secara langsung mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih hijau, bersih dan sehat. Pasalnya sampah yang selama ini menjadi sumber penyakit dapat dimanfaatkan, sehingga lebih berguna.

“Dengan memproduksi sayuran sendiri, warga kan tidak perlu belanja untuk memasak. Uangnya bisa ditabung. Bisa irit sampai Rp50 ribu tiap minggunya. Lingkungan juga jadi lebih hijau, dan bersih. Mengurangi tingkat polusi dan volume sampah,” katanya.

Selain menghasilkan berbagai macam produk sayur organik tanpa pestisida dan pupuk kimia, kelompok tani perkotaan Sidodadi, juga sudah mampu mengolah hasil panen mereka menjadi bahan olahan makanan yang telah dipasarkan ke sejumlah tempat, seperti hotel hingga mini market.

“Kita punya banyak produk olahan seperti jamu instan beras kencur, teh daun tin, keripik bayam dan pegagan, hingga yang terbaru es krim temu lawak. Beberapa sudah kita pasarkan ke hotel-hotel,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...