Bartele Gallery Simpan Peta Tua Milik Belanda

Editor: Koko Triarko

245
JAKARTA  – Pameran seni rupa akbar bertajuk Art Jakarta 2018, tak hanya menampilkan karya-karya seni upa, seperti lukisan, patung maupun instalasi. Namun juga maps atau tua pada zaman penjajahan Belanda. Bartele Gallery, satu-satunya galeri di Indonesia yang konsen pada maps dengan tujuan ingin masyarakat Indonesia mencintai sejarah.
“Kita Bartele Gallery memang satu-satunya galeri di Indonesia yang konsen pada maps,“ kata Mia, penjaga Bartele Gallery, kepada Cendana News di pameran Art Jakarta 2018 bertempat di Pacific Place, SCBD, Jakarta Pusat, Sabtu (4/8/2018).
Mia membeberkan, koleksi yang dimiliki Bartele Gallery, yakni maps-maps asli yang didapatkan langsung dari Eropa. “Karena di Eropa banyak maps dealer, yaitu dealer yang khusus jualan maps,“ bebernya.
Mia dan Claudia, penjaga Bartele Gallery –Foto: Akhmad Sekhu
Mia menyebut, harga maps bisa dibilang sangat mahal, mulai dari Rp3 juta sampai ada yang dengan harga fantastis, Rp1 miliar. “Maps yang harganya satu miliar adalah peta pertama kali Belanda masuk Indonesia sekitar tahun 1547,“ ungkapnya.
Untuk menjaga dan memelihara maps agar tetap awet, Mia menyarankan, jangan sampai maps terkena sinar matahari langsung. “Kalau sering kena sinar matahari, mapsnya akan cepat sekali pudar, kuning dan jamuran,“ paparnya.
Mia menyampaikan, Bartele Gallery juga mengoleksi poster film-film Barat pada zaman dahulu.
“Poster film zaman dulu menurut saya unik dan sangat kreatif, karena masih dikerjakan pakai tangan,“  ujarnya.
Mia juga menyampaikan, bahwa ada sebuah buku yang membuat Indonesia sampai dijajah oleh kolonial Belanda. “Dulu perdagangan dimonopoli Portugis, kemudian Belanda ingin kaya dan ingin mendapatkan pala sebanyak-banyaknya dengan mengirimkan mata-matanya, hingga sampai bisa menyusup ke orang-orang Portugis,“ ungkapnya.
Dahulu, lanjut Mia, Portugis kalau ketemu orang, dan sedang memegang peta tampak begitu sangat hati-hati dan  sangat tertutup. “Agar peta tidak jatuh pada bangsa lain, orang Portugis lebih baik menghancurkan peta, atau menelan peta atau lebih baik mati dengan tetap mempertahankan peta,“ tuturnya.
Menurut Mia, Belanda sampai menjual New York yang dahulu bernama New Manhattan, ke Inggris, supaya Belanda dapat uang untuk bisa melakukan perjalanan ke Indonesia.
“Pertama kali Belanda ke Indonesia masuknya lewat Pulau Banda,“ ungkapnya.
Dahulu, katanya lagi,  kalau sudah punya satu karung pala itu, bisa untuk menghidupi keluarga hingga tujuh turunan.
“Bahkan, satu gram pala sama seperti satu gram emas yang sangat berharga, hanya karena bumbu masak rempah-rempah kita sampai dijajah Belanda,” tegasnya.
Harapan Mia, Bartele Gallery ikut dalam pameran Art Jakarta untuk memperkenalkan galeri, agar dapat lebih dikenal masyarakat. “Karena jarang masyarakat kita tahu tentang maps pada zaman dulu, dan agar masyarakat kita lebih mencintai sejarah,“ harapnya.
Bartele Gallery berada di Mandarin Oriental Hotel, Jalan Jend. Sudirman, Menteng, Jakarta Pusat, membuka galerinya setiap hari dari Senin sampai Sabtu.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.