Baru Tahun Ini Petani Rasakan Pahitnya Bertani Lada

218
Lada, ilustrasi -Dok: CDN
TOBOALI – Petani lada putih di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berharap harga lada kembali naik, agar bisa mengimbangi biaya produksi.
“Saat ini, harga lada hanya Rp51.000 per kilogram, atau masih jauh di bawah biaya produksi yang cukup mahal,” kata salah seorang petani lada, Rosidi, di Toboali, Sabtu (4/8/2018).
Ia mengatakan, biaya produksi belum sebanding dengan harga lada putih, apalagi harga pupuk, biaya perawatan dan jasa petik lada yang tinggi, sehingga petani sulit mengembangkan usaha perkebunan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
“Untuk upah jasa memetik lada sebesar Rp80.000 per hari, sedangkan harga lada di tingkat pedagang pengumpul hanya Rp51.000, sehingga hasil panen hanya untuk biaya upah petik buah lada saja,” ujarnya.
Menurut Rosidi, baru tahun ini merasakan pahitnya menjadi petani lada, karena perbandingan harga yang sangat jauh berbeda, begitu juga dengan hasil karet.
“Satu kilogram karet harganya Rp4.000, sedangkan beras harganya mencapai Rp12.000 per kilogram. Jadi, untuk sekilogram beras harus dapat tiga kilogram karet, hal ini hampir sama dengan lada,” katanya.
Petani lada Desa Gadung, Sopiandi, juga mengatakan, rendahnya harga lada bisa berdampak pada banyak hal, seperti pemenuhan biaya pendidikan anak dan hasil panen tahun depan.
“Hasil panen tahun depan itu berdasarkan dengan banyak dan tepatnya pupuk, kalau harga lada seperti ini, nampaknya beli pupuk secukupnya saja, kalau biaya pendidikan anak tidak bisa ditunda,” katanya.
Ia berharap, harga lada ada kenaikan, walaupun tidak banyak. Sebab, kalau harga terus seperti ini, otomatis petani akan alih profesi.
“Kalau terus bertahan di bidang pertanian lada, saya rasa agak sulit, karena hasilnya tidak menjamin. Semoga dalam waktu dekat ada kenaikan harga lada,” katanya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...