Bekraf Dorong Produksi Film Anak 

Editor: Koko Triarko

321
Dr. Ing. Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf. -Foto: Akhmad Sekhu.
JAKARTA – Dr. Ing. Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), gigih melakukan berbagai upaya untuk memajukan ekonomi kreatif di Indonesia, khususnya subsektor perfilman yang sekarang sudah mulai bangkit dan tetap perlu penanganan serius.   
“Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Eahana Kreator Nusantara, Base Studio dan Perum Produksi Film Nrgaa (PFN) meluncurkan program pelatihan dan pencarian penulis skenario bertajuk Skenario Cerita Anak Nusantara (Scara),“ kata Dr. Ing. Abdur Rohim Boy Berawi, saat acara peluncuran program Skenario Cerita Anak Nusantara (Scara), di Event Space Rework fX Sudirman Lt.7, Jakarta, Selasa (28/8/2018).
Mantan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia (untuk wilayah Amerika dan Eropa) ini membeberkan, bahwa program ini bertujuan untuk menghasilkan penulis skenario film anak yang berkualitas, dan siap berkontribusi bagi perfilman nasional, khususnya film animasi anak.
“Kita tahu, industri perfilman Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini sudah mulai bangkit, bahkan pada 2016 pertumbuhannya sangat tinggi hingga 10,6 persen di antara 16 sub sektor ekonomi kreatif,“ beber peraih gelar Master of Science dari Politecnico di Milano (Polimi) Italia.
Seiring dengan pertumbuhan tinggi industri perfilman itu, kata Boy, sayangnya, produksi film anak masih sangat minim sekali. “Mayoritas film yang beredar di pasaran saat ini bertema dewasa, seperti genre laga, komedi maupun horor,“ ungkap meraih gelar Doctor Ingeneur pada program MIT Portugal, yang merupakan kerja sama antara Massachusetts Institue of Technology (USA) dengan University of Porto (Portugal).
Hal itu, menurut Boy, anak-anak dipaksa mau tidak mau harus menonton film bertema dewasa yang seringkali kurang pantas ditonton untuk anak. “Karena itu, kita di Bekraf terus berupaya melakukan langkah-langkah menggairahkan minat nonton dan juga menggerakkan para pelaku industri perfilman, untuk memproduksi film anak, salah satunya melalui program Scara ini,“ terangnya.
Boy berharap, dengan program pelatihan dan pencarian penulis skenario dalam Scara ini, akan melahirkan penulis-penulis skenario film anak yang berkualitas.
“Dengan melahirkan penulis-penulis skenario film anak yang berkualitas ini, juga akan menghasilkan film-film yang berkualitas, yang semakin meningkatkan minat penontin oada film Indonesia,“ paparnya.
Menurut Boy, ada beberapa persoalan mendasar, baik dari minat maupun dari sisi produsernya untuk memproduksi film anak.
“Bisa jadi karena kualitas film anak Indonesia, sehingga penonton film anak minim sekali, dan mungkin dari distribusi filmnya,“ ujarnya.
Boy menyebut, Bekraf banyak sekali melakukan upaya agar produksi film anak meningkat, di antaranya bekerja sama dengan menggelar Lomba Cipta Lagu Anak.
“Dari hasil lomba tersebut, digunakan soundtrack film Kulari ke Pantai dan Petualangan Menagkap Petir,“ katanya.
Bekraf juga menggelar program Akatara Indonesian Film Financing Forum, yang menurutnya, sebuah forum pendanaan produksi film terbesar pertama di Indonesia.
“Akatara adalah pitching forum dan matchmaking untuk project film Indonesia, yang mempertemukan investor dari berbagai sektor dan pelaku film,“ tandasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.