Belajar dan Mengenal Jenis Burung di Taman Burung TMII

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

312

JAKARTA — Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan keragamaan budaya dan juga flora fauna. Salah satunya Taman Burung yang terletak di bagian timur, berdekatan dengan PP IPTEK.

Kepala Bidang Koleksi Taman Burung TMII, Windyabrata mengatakan, Taman Burung merupakan salah satu destinasi wisata di bidang satwa yang terbesar di Indonesia. Pemerintah DKI Jakarta menetapkannya sebagai wahana konservasi yang melindungi berbagai jenis burung langka di Indonesia.

“Pemikiran Ibu Tien Soeharto sangat cemerlang dengan menghadirkan Taman Burung di TMII. Sehingga kita bisa mengenal ragam flora-fauna khas Indonesia. Jenis burung dari seluruh Indonesia tampil di taman ini,” kata Windyabrata.

Dalam membangun Taman Burung ini, jelas dia, Ibu Tien Soeharto mengandeng ilmuwan-ilmuwan dan stakeholder yang kompeten, berkualitas dan mumpuni dalam bidang flora-fauna. Hingga akhirnya Taman Burung ini berdiri megah dengan koleksi ratusan burung.

Dengan dibangunnya Taman Burung ini, dalam pemikiran Ibu Tien Soeharto, menyakini bahwa kalau masyarakat Indonesia berkunjung ke habitat aslinya itu jauh dan memerlukan biaya mahal. Tapi dengan berkunjung ke TMII, ini lebih memudahkan.

“Sesuai gagasan Ibu Tien Soeharto, kalau kita sudah mengenal ragam jenis burung khas Indonesia, diharapkan bisa membangkitkan semangat melestarikan dan semangat kebangsaan untuk mencintai khazanah budaya bangsa,” ujarnya.

Pada awalnya, Taman Burung dibangun tahun 1975 dengan hanya satu kubah dan diresmikan tanggal 19 Agustus 1976. Kemudian dikembangkan menjadi sembilan kubah pada tahun 1986 dan diresmikan oleh Presiden ke-2 RI Jenderal Besar HM Soeharto, pada tanggal 27 April 1986.

Bangunan utama Taman Burung adalah sangkar-sangkar berbentuk kubah. Sembilan kubah yang dibangun menjadi dua kelompok besar. Yang masing-masing kelompok terdiri dari atas empat dan lima buah kubah yang saling berhubungan.

Kepala Bidang Koleksi Taman Burung TMII, Widyabrata. Foto : Sri Sugiarti.

Kubah besar memiliki ukuran lebar 68 meter dan tinggi 30 meter. Sedangkan kubah terkecil bergaris tengah 20 meter dan tingginya 9 meter. Dua kubah besar Timur dan Barat dipisahkan sebuah celah, yang menggambarkan bayangan atau Garis Wallace.

“Taman Burung ini berbeda dengan taman satwa pada umumnya. Taman ini memakai konsep Garis Wollece, yang diciptakan seorang ilmuwan dari Inggris yang melihat perbedaan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur,” jelasnya.

Garis bayangan ini tergores mulai Kepulauan Sangir di sebelah utara Sulawesi ke arah selatan hingga Selat Lombok. Garis ini membelah Indonesia menjadi Timur dan Barat.

Kedua bagian kubah tersebut memiliki ragam fauna dan flora berbeda. Adanya kubah Timur dan Barat, menurutnya, memudahkan pengunjung untuk mengetahui flora dan fauna yang ada di bagian timur dan barat. Kubah Barat berisi flora dan fauna bagian Indonesia Barat. Begitu pula kubah timur menampilkan khazanah flora-fauna bagian Indonesia Timur.

Memasuki kubah barat, pengunjung bisa menikmati kicauan merdu burung-burung asal Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Seperti burung merak terlihat indah saat mengepakkan sayapnya, suara pun merdu. Begitu juga tubuh mungil jalak Bali yang lincah dan ceriwis, sekali-kali terbang sambil bersuara merdu. Tampilan lincah dengan Elang, Enggang, Beo, dan Putih juga sangat memukau, serasa betah berlama-lama di kubah itu.

Suasana lorong peristirahatan dan hamparan kolam ikan di Taman Burung TMII, Jakarta, Kamis (30/8/2018). Foto : Sri Sugiarti

Keluar dari kubah barat, pengunjung memasuki lorong pembatasan sebagai tempat peristirahatan, sebelum kemudian memasuki kubah timur.

Di area ini, tersaji kafetarian yang menjual makanan dan minuman ringan. Di sini juga dijual makanan untuk ikan-ikan di kolam yang terhampar. Sambil memberi makan ikan, pengunjung bisa melihat lincahnya angsa-angsa berenang.

Di tepi kolam itu, sambil duduk pengunjung bisa memandangi gerak genitnya burung-burung pelikan. Di peristirahatan ini terdapat burung jinak, salah satunya kakatua putih bernama Yakub. Pengunjung yang ingin berfoto dengan Yakub atau burung jinak lainnya cukup dengan sewa Rp5.000.

“Yakub si Kakatua ini lucu dan ngemesin. Saat disuruh pelatihnya salam, Yakub langsung sodorkan kakinya sambil mengepakkan sayapnya,” kata Herlandi, pengunjung asal Bogor, Jawa Barat.

Usai beristirahat, pengunjung bisa melanjutkan penjelajahan ke kubah timur untuk mendengarkan nyanyian merdu burung-burung asal Sulawesi, Maluku dan Papua. Seperti, burung Mabruk, Kasuari, Nuri, Cendrawasih, Maleo, dan Dara Mahkota.

Dara Mahkota berwarna biru terang tampak jinak dan bebas berjalan-jalan, menjadi pemandangan indah. Terbang lincah juga burung Bido, Pokasi, Flaminggo dan Anis memutari area kubah ini.

“Taman Burung ini memiliki 150an jenis burung dengan jumlah 1.000 ekor lebih dan ditempatkan di dua kubah tersebut,” kata Windyabrata.

Menurutnya, pengunjung bisa mendengarkan ratusan burung berkicau di dalam kedua kubah itu. Karena burung-burung tersebut di bebaskan layaknya di alam bebas. Pepohonan langka, seperti kenari, jeruk kingkit, gandaria, ki acret dan pisang seribu tumbuh dengan rindang di area kubah tersebut terasa udara sejuk.

Kakatua Jambul Putih bernama Yakub sedang bercanda dengan petugas Taman Burung TMII. Foto : Sri Sugiarti

Semua pohon langka itu memberi tempat nyaman bagi burung-burung. Di area ini juga tersaji makanan burung-burung seperti pepaya, pisang, dan jagung.

Dia mengatakan, pengunjung yang datang tidak hanya dari Indonesia, wisatawan asing khususnya Asia, Eropa dan Amerika juga tidak sedikit yang mengunjungi Taman Burung ini. Bahkan saat Asian Games 2018, ada peningkatan pengunjung atlet, official dan turis asing berkunjung ke Taman Burung ini.

“Ada peningkatan pengunjung dengan gelaran Asian Games 2018, tapi tidak banyak ya karena mereka datang bergantian,” kata Widyabrata.

Dia berharap agar destinasi wisata Taman Burung ini dapat didatangi banyak masyarakat. Indonesia agar lebih mengenal flora dan fauna.
Selain itu, keinginan lainnya adalah penambahan koleksi jenis burung.

Menurutnya, Taman Burung setiap tahun berusaha menambahkan koleksi burung, namun karena terhambat anggaran tidak bisa diwujudkan. Meskipun begitu, kata dia, selalu ada sumbangan burung-burung dari masyarakat yang sudah merasa bosan atau karena larangan Undang-Undang (UU) burung yang dilindungi harus diserahkan pada lembaga konservasi.

Burung-burung sumbangan itu, terkadang masyarakat yang mengantarkan ke Taman Burung. Atau pihak Taman Burung yang menjemput burung tersebut ke rumahnya. “Belum lama ini pesantren di Lubang Buaya serahkan 5 ekor burung elang ke Taman Burung,” ujarnya.

Mengingat kehadiran Taman Burung ini hampir 30 tahun, Widyabrata juga berharap agar ada sarana prasarana direnovasi. Mengingat kata dia, Taman Burung adalah tempat rekreasi, edukasi, konservasi, dan penelitian sehingga harus berjalan maksimal.

Namun demikian, Widyabrata berterima kasih kepada managemen TMII yang telah berperan merenovasi kubah burung. “Alhamdulillah kubah burung telah direnovasi belum lama ini,” ucapnya.

Pengunjung yang ingin ke Taman Burung, cukup dengan Rp 20 ribu pengunjung bisa berwisata sambil belajar dan mengenal berbagai jenis burung yang terdapat di Indonesia.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.