BKSDA Inventarisasi Owa-owa di Cagar Alam Pararawen

992
Owa-owa Kalimantan - Foto: Istimewa

MUARA TEWEH – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh kabupaten Barito Utara, menginventarisasi satwa Owa-owa Kalimantan (Hylobates Muelleri).

Upaya tersebut dilakukan di kawasan Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II, Kecamatan Teweh Tengah. “Kegiatan ini dilakukan dalam upaya menjamin kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem kawasan CA Pararawen,” kata Kepala Resort Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Cagar Alam Pararawen, Udjet Syaipullah, Jumat (3/8/2018).

Owa-owa merupakan satwa dilindungi, serta merupakan hewan yang sangat rentan terhadap gangguan. Oleh karenanya, keberadaan mereka yang langka perlu untuk diperhatikan. Pengamatan dilakukan pada periode pagi hari pukul 04.30 WIB sampai 07.30 WIB.

Selama kegiatan, dicatat berbagai informasi dan data yang berkaitan dengan Owa. Data diperoleh dari survei langsung, serta wawancara dengan warga sekitar kawasan. “Kondisi hutan CA Pararawen yang bersinggungan dengan pemukiman warga memaksakan suatu kondisi, di mana warga sangat berperan penting terhadap perubahan keberadaan satwa, baik positif maupun negatif,” katanya.

Udjet menjelaskan, dari hasil inventarisasi, dirangkum dalam satu laporan kegiatan yang memuat, penyebaran, jumlah populasi terbaru, dinamika populasi, perilaku harian, habitat dan ekosistemnya. Termasuk data mengenai gangguan yang mungkin terjadi terhadap habitat maupun satwa tersebut. Laporan kegiatan dijadikan sebagai bahan pertimbangan penentu kebijakan terkait dengan keberadaan Owa-owa di cagar alam Pararawen. “Saat ini kami masih menghitung jumlah populasi Owa-Owa di kawasan CA Pararawen,” ujarnya.

Sebelum melakukan kegiatan lapangan, petugas BKSDA mendapat pelatihan serta penjelasan langsung dari pendiri Yayasan Kalaweit Aur, lien Chanee Brul atau yang lebih dikenal dengan Chanee Kalaweit.

Setelah mendapatkan penjelasan secara teori, petugas langsung menggelar praktek di area konservasi Yayasan Kalaweit. Keberadaan cagar alam di Pararawen, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara tersebut berada di bantaran Sungai Barito yang  berseberangan dengan Cagar Alam Pararawen.

Owa Kalimantan merupakan satwa yang lucu, atraktif dan cantik. Pelestarian satwa tersebut memerlukan upaya dan kerja keras dari pengelola dan warga sekitar. “Hal ini menjadi tugas kita semua untuk menjamin kehidupan satwa ini, sehingga kehidupan mereka dapat terjaga sepanjang masa dan diwariskan kepada generasi anak cucu,” ujar Udjet.

Kawasan cagar alam Pararawen memiliki luas 5.855 hektare. Lahannya terbagi dua, Pararawen I seluas 2.015 hektare dan Pararawen II seluas 3.840 hektare. Cagar alam tersebut terletak di Dusun Pararawen Desa Lemo II dan Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah. Kawasan tersebut merupakan perwakilan hutan hujan tropika pegunungan, yang didominasi oleh Dipterocarpaceae dan sebagai habitat fauna penting. Selain bekantan, satwa yang dilindungi lainnya di cagar alam tersebut di antaranya kancil (Tragulus Javanicus), beruang madu (Helarctus Malayanus), dan Owa-owa (Hylobates Muelleri).

Satwa dilindungi lainnya, kijang (Muntiacus Muntjak), bangkui (Presbytis Rubicunda), ayam hutan (Galus Galus), serta burung rangkong (Buceros sp). Cagar Alam Pararawen I dan II dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai sumber air bersih dan kepentingan wisata alam. Nama flora yang terdapat di wilayah ini antara lain meranti (Shorea sp), geronggang (Cratoxylon Arborescens). Tembesu (Fagreacsororea sp), palawan (Tristania Obovata), laban (Vitex Pubescens), ulin (Eusideroxylon Zwageri), serta madang batu (Litsea sp). (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...