BNN: Asing Gunakan ‘Perang Candu’ Lemahkan Indonesia

Editor: Koko Triarko

501
JAKARTA – Pelaksana Bintek Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN, Muhammad Khoirul Anam, mengatakan, tidak ada wilayah di Indonesia yang selamat dari ancaman narkoba.
Penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa, menjadi pangsa pasar yang empuk bagi bandar narkoba. Apalagi, dengan permasalahan narkoba di negara Filipina, yang pemerintahnya menindak tegas, berimbas ke Indonesia.
“Mereka para bandar narkoba dari Filipina masuk ke Indonesia. Sementara penegakkan hukum di Indonesia masih lemah,” kata Khoirul, pada pelatihan Pencegahan, Penanganan, Penyalahgunaan dan Pemberantasn Narkoba di kantor MUI Pusat, Jakarta, Jumat (24/8/2018) sore.
Dia menegaskan, daya rusak narkoba lebih parah dibandingkan  korupsi dan terorisme. Kalau bicara tentang teroris, sangat jelas ketika terjadi ledakan di suatu tempat  bisa dihitung berapa yang menjadi korban. Asetnya juga bisa dihitung berapa yang rusak akibat pengeboman oleh teroris.
“Begitu juga korupsi. Kejahatan ini menurutnya, juga bisa dihitung secara matematika dan tinggal melakukan penyitaan harta. Namun, ketika bicara tentang narkoba, ini yang sangat unik. Karena kejahatan narkoba tidak terlihat musuhnya. Tapi,  efek dan dampaknya itu ada, korbannya pun sulit untuk dideteksi atau diketahui”, katanya.
BNN, Riset Universitas Indonesia (UI) dan LIPI pernah melalukan penelitian, berapa jumlah rata-rata pecandu atau pengedar narkoba itu yang bisa didapat hanya berdasarkan data tertulis. Itu pun, kata Khoirul, data sampling, dan tentu saja jumlah yang tidak terdata lebih besar lagi.
“Narkoba mesin pembunuh massa yang dincar jelas generasi muda. Meraka jadi eror karena narkoba. Terus siapa yang akan pimpin negeri ini?” tandasnya.
Dia mengingatkan, jangan sampai seperti Cina, di mana pada 1430-an kalah perang candu oleh Inggris, sehingga mengakibatkan Hongkong lepas menjadikan Cina takluk pada Inggris.
Kalau dengan perang candu itu bisa dengan mudah mengalahkan Cina tanpa ada korban di pihak Inggris. “Inilah yang dipakai oleh negara asing untuk melemahkan Indonesia, yakni perang candu,” tukasnya.
Menurutnya, permasalahan narkoba di Indonesia,  adalah lapas atau penjara. Karena sekitar 72 jaringan narkoba yang ada di Indonesia hasil indetifikasi oleh BNN, 22 jaringannya dikendalikan di dalam lapas.
Lapas yang seharusnya menjadi tempat pembinaan supaya pecandu narkoba bisa menjadi lebih baik, katanya, ternyata justru di sanalah gembongnya kejahatan narkoba.
Pihaknya telah mengusulkan kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenhukam), untuk memperbaiki lapas dengan peraturan lebih ketat lagi. Agar kejahatan narkoba di dalam lapas tidak menjamur.
Bahkan, kata dia, ketika Budi Waseso menjabat Kepala BNN, pernah mengusulkan kalau lapas sebaiknya dijaga oleh buaya.
“Kalau dijaga buaya kan tidak bisa disuap uang untuk leluasa ngedarkan narkoba di dalam lapas. Tapi usulan kami ini belum disetujui oleh Kemenhukam,” ujarnya.
Dia menyebutkan, jaringan narkoba di Indonesia bersifat internasional, dengan dukungan pemodal besar. Pemain bandar narkoba besar di Indonesia, rata-rata orang asing, di antaranya Afrika Barat, Iran, Tiongkok, Pakistan dan Malaysia. Sedangkan orang Indonesia adalah pengedarnya.
Wakil Ketua Ganas Annar MUI, Sodikin, menambahkan, isu narkoba menjadi persoalan serius bangsa Indonesia, dan menjadi salah satu prioritas MUI untuk segera ditangani.
Salah satu bentuk partisipasi MUI adalah dengan membentuk Ganas Annar Gerakan Nasional Anti Narkoba atau Ganas Annar, dalam upaya pencegahan meluasnya peredaran narkoba yang semakin merajalela.
“Ganas Annar MUI menjadi penggerak gerakan relawan nasional darurat narkoba, yang fungsinya sebagai relawan anti narkoba di tingkat provinsi dan kabupaten/kota,” ujar Ketua Komisi Bidang Seni Budaya MUI.
Dengan pelatihan ini, dia berharap bisa menciptakan relawan yang mampu berinovasi program, untuk mengantisipasi bahaya narkoba bagi masyarakat terkhusus generasi muda.
Lihat juga...

Isi komentar yuk