BNPB: Pemberian Susu Formula pada Bayi di Pengungsian Harus Diawasi

Editor: Koko Triarko

1.504
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB -Foto: M Hajoran
JAKARTA — Dampak gempa bumi 7 SR yang diikuti ratusan gempa susulan telah meluluhlantakkan Lombok. Data korban akibat gempa terus bertambah, tercatat 387.067 jiwa pengungsi tersebar di berbagai titik. Pengungsi terus memerlukan bantuan, karena belum semua kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. 
“Bahkan hingga hari ini, Sabtu (11/8/2018), masih terdapat pengungsi yang belum mendapat bantuan, karena sulitnya akses untuk menjangkau lokasi pengungsi yang tersebar di ribuan titik,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, di Jakarta, Sabtu (11/8/2018).
Menurut Sutopo, para pengungsi tersebar di ribuan titik di Kabupaten Lombok Utara sebanyak 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.
Dari 387.067 jiwa pengungsi tersebut, terdapat bayi dan anak-anak yang perlu mendapat perlakukan khusus selama mengungsi.
“Bayi dan anak-anak termasuk kelompok rentan bersama dengan ibu hamil, lansia dan disabilitas. Mereka perlu mendapat perlakukan khusus, karena rentan selama di pengungsian. Hingga saat ini, belum ada data berapa jumlah bayi dan anak-anak dari 387.067 jiwa pengungsi,” ujar Sutopo.
Sutopo menyebutkan, diperkirakan terdapat puluhan ribu jiwa, karena dari data sementara di Kabupaten Lombok Utara terdapat1.991 jiwa balita berusia nol sampai lima tahun, dan 2.641 jiwa anak-anak berusia enam sampai sebelas tahun.
Lebih jauh, Sutopo mengatakan, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak dapat dilakukan sembarangan di pengungsian. Bagi ibu dan bayi yang masih menyusui, harus mendapat perhatian. Air susu ibu merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi. Karena itu, menyusui dalam kondisi darurat harus terus dilakukan oleh ibu kepada balitanya.
“Dan, ini tidak bisa digantikan dengan susu formula. Sebab terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, alat memasak, botol steril dan lainnya sangat terbatas di pengungsian. Bahkan, pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi,” ungkapnya.
UNICEF dan WHO sebagai Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kata Sutopo, telah mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian. Banyak kasus saat bencana di dunia, pemberian susu formula kepada balita dan anak-anak justru meningkatkan penderita sakit dan kematian. Di Indonesia, kasus pascabencana gempa di Bantul, Yogyakarta, hendaklah dijadikan pelajaran.
“Pemberian susu formula kala itu justru meningkatkan terjadinya diare pada anak di bawah usia dua tahun. Ternyata 25 persen dari penderita itu meminum susu formula. Karena itu, diimbau tidak ada donasi susu formula dan produk bayi lainnya seperti botol, dot, empeng tanpa persetujuan dari Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota setempat,” jelasnya.
Sutopo menegaskan, tidak perlu sumbangan susu formula, susu bubuk dan botol bayi dalam kondisi darurat bencana. Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui. Mereka tidak boleh sembarangan diberikan bantuan susu formula dan susu bubuk.
“Meski demikian, ada pengecualian, jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut, di bawah pengawasan yang ketat dan kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor,” sebutnya.
Kebutuhan mendesak saat ini, adalah tenda, selimut, makanan siap saji, beras, MCK portable, air minum, air bersih, tendon air, mie instan, pakaian, terpal/alas tidur, alat penerang/listrik, layanan kesehatan dan trauma healing.
“Diimbau masyarakat dan semua pihak untuk memperhatikan jenis bantuan yang diperlukan. Niat baik untuk membantu sesama, agar justru tidak menimbulkan masalah baru, khususnya bagi bayi dan balita di pengungsian,” jelasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.