BPBD Kulon Progo Masih Miliki Persediaan Air Bersih 1.000 Tangki

835
Air bersih, ilustrasi -Dok: CDN
YOGYAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kulon Progo, mempunyai persediaan air bersih 1.000 tangki yang siap didistribusikan kepada warga terdampak kekeringan sampai akhir September 2018.
Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo, Ariadi, mengatakan, sampai saat ini air bersih yang sudah didistribusikan kepada warga terdampak kekeringan sekitar 500 tangki sejak awal Juni.
“Saat ini, masih ada 1.000 tangki yang disiapkan BPBD Kulon Progo. Musim kemarau dengan tingkat kekeringan tinggi baru mulai awal Agustus hingga September nanti,” kata Ariadi, Minggu (12/8/2018).
Ia mengatakan, setiap hari BPBD bekerja sama dengan Dinsos dan Tagana Kulon Progo, mendistribusikan air bersih sebanyak 18 tangki. Kecamatan dengan tingkat permintaan air bersih tinggi, yakni Kalibawang, Samigaluh, Kokap, Girimulyo, Sentolo, dan Nanggulan.
“Di Kecamatan Lendah juga mulai dilanda kekeringan, namun masyarakat dapat mencukupi kebutuhan air bersih secara mandiri, dengan membeli air dari pihak swasta,” katanya.
Ariadi mengatakan, Pemkab Kulon Progi telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 33/A/2018 tentang Tanggap Darurat Kekeringan sejak Sabtu (25/7). Kebijakan status tanggap darurat kekeringan dilatarbelakangi sebanyak 109 dusun di 23 desa saat ini tengah mengalami kekeringan.
Sebanyak 23 desa yang mengalami kekeringan tersebar di delapan kecamatan yang mengancam lebih dari 3.000 kepala keluarga (KK).
Sejauh ini, warga telah meminta pengiriman air bersih kepada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Palang Merah Indonesia, Tim Reaksi Cepat, dan Tagana.
“Sampai saat ini, kami 450 tangki air bersih sudah kirim ke warga. Anggaran yang dihabiskan untuk pengiriman air bersih sebesar Rp153 juta dari anggaran tak terduga,” ujarnya.
Selain itu, kata Ariadi, BPBD Kulon Progo telah meminta bantuan dari berbagai sumber, seperti CSR dari PLN dan Pemda DIY, serta BPD DIY. “Pemda DIY memberi 100 tangki, PLN DIY sebanyak 150 tangki dan BPD DIY sebanyak 250 tangki,” ujarnya.
Menurut dia, penyebab utama kekeringan ialah musim kemarau yang datang lebih cepat. Seperti Mei kemarin, seharusnya masih terjadi hujan, ternyata sudah kering. Hal itu menyebabkan Perbukitan Menoreh terjadi kekeringan dan warga kesulitan air bersih.
“Awal Juni, warga di kawasan Perbukitan Menoreh sudah ada yang mengajukan permohonan bantuan air bersih,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulon Progo, Hepi Eko Nugroho, mengatakan jumlah desa rawan kekeringan kini semakin berkurang, yakni dari 23 desa yang terpetakan, berkurang empat desa.
“Peta kekeringan di Kulon Progo masih tetap, yakni di enam kecamatan. Namun, wilayah kekurangan air bersih saat ini banyak berkurang,” kata Hepi.
Ia mengatakan, enam kecamatan potensi kekeringan, yakni Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Sentolo, Nanggulan dan Lendah. Namun dalam perkembangannya, masyarakat yang tinggal di daerah rawan kekeringan itu, menyadari, bahwa mereka tinggal di daerah rawan kekeringan.
“Masyarakat dan pemerintah desa memanfaatkan sumber mata air untuk dialirkan ke rumah warga, seperti di Dusun Wonobroto, Desa Tuknoso,” katanya. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.