Butet Kartaredjasa: Kesenian Kami Kontekstual dan Aktual

Editor: Koko Triarko

342
JAKARTA – Butet Kartaredjasa, seniman serba bisa, menjadi salah satu penggagas dan tim kreatif dari program ‘Indonesia Kita’ yang intens melakukan pementasan teater.
Mengusung judul ‘Brigade Orgil’, program Indonesia Kita tetap kritis terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini, bahkan begitu elastis merespon peristiwa terkini dalam pementasannya, bahwa kegilaan di masyarakat semakin menjadi-jadi pada akhir-akhir ini.
“Program Indonesia Kita itu satu ikhtiar untuk membangun kesadaran, memelihara semangat dan rasa cinta bagi Indonesia melalui jalan kebudayaan,“ kata Butet Kartaredjasa, kepada Cendana News di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (11/8/2018).
Butet Kartaredjasa –Foto: Akhmad Sekhu
Lelaki kelahiran Yogyakarta, 21 Novembrr 1961 itu, membeberkan, melalui potret-potret sosial dengan yang dimainkan ini yang tetap harus mengingat sejarah negeri ini.
“Gagasan-gagasan para pendiri bangsa ini sesuai dengan Indonesia yang kita impikan,“ beber anak kelima dari tujuh bersauadara keluarga seniman Bagong Kusudiardjo (alm).
Menurut Butet, pementasan ini tentang kegilaan masyarakat Indonesia sekarang ini, sebagaimana yang ditampilkan dalam pementasan ini. “Kegilaan masyarakat, bisa saja kegiatan politik yang penuh intrik-intrik,“ ungkapnya.
Dalam pementasan ini, kata Butet, menampilkan kejadian aktual sebagai potret kenyataan.
“Kesenian kami adalah kesenian yang konstektual dan aktual, jadi kejadian baru saja terjadi pun bisa langsung kita tampilkan, itulah berkah-berkah yang kita dapatkan dari masyarakat,“ ujarnya.
Butet menyampaikan, ide pementasanya selalu muncul dari masyarakat. “Dalam praktik estetik, kesenian kami sifatnya elastis dan patuh pada temuan kemarin sampai hari ini, bisa terjadi di atas punggung bisa terjadi, itulah aktivitas model pertunjukan tanpa sengaja, tanpa berpretensi, tapi menemukan cara-cara bermain seperti ini,“ paparnya.
Di atas panggung, katanya, banyak terjadi improvisasi yang dilakukan para pemain,  yang termasuk menjadi bagian estetikanya.
“Kami memberikan ruang kebebasan dalam menciptakan dialognya, menciptakan adegannya, Agus Noor penulis ceritanya hanya memberikan alur, selebihnya on the spot, itulah semangat kesenian tradisional kita,“ ucapnya, bersemangat.
Butet Cs bertahan untuk tetap melakukan pementasan dari dulu sampai sekarang, karena ia mendapat dukungan sponsor. “Kalau tidak ada sponsor, kami tidak berani pentas, kami punya penonton setia dan loyal yang mendukung pementasan kami, kami punya pemain-pemian yang sangat toleran dan begitu sangat membuka diri dengan ide-ide kami dan mau dibayar murah,“ urainya.
Untuk pemilihan para pemainnya, kata Butet, kadang-kadang ada yang melamar untuk menjadi pemain. “Tapi kadang juga sesuai dengan kebutuhan. Kami harus bisa meyakinkan mereka untuk mau mendukung pementasan kami,“ tuturnya.
Butet tampaknya tak mau berobsesi apa-apa, selain harus tetap melanjutkan pementasan secara reguler. “Ancaman terhadap persatuan bangsa kita semakin gawat, jadi kami harus konsisten pada tema itu demi persatuan bangsa kita,“ simpulnya.
Konsistensi Butet bersama teman-temannya untuk tetap melakukan pertunjukan, tentu tak selalu berjalan mulus, sering juga mengalami pelarangan pementasan, bedanya kalau dulu yang mengancam hubungan vertikal, tapi kalau sekarang hubungan horisontal.
“Kita harus hati-hati, kita juga harus melakukan swasensor, supaya tidak menimbukan masalah secara horisontal,“ tegasnya.
Harapan Butet, pementasannya tetap mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. “Karena ide pementasan kami memang muncul dari masyarakat yang kemudian kita pentaskan untuk menjadi perenungan kita bersama,“ tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...