Cak Nun: Negara, Perjuangan Tiada Akhir

Editor: Makmun Hidayat

452

JAKARTA — Guyuran hujan yang menyebabkan banyak genangan di plaza Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, tak menyurutkan para pengunjung mengikuti acara Kenduri Cinta.

Salah satu forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender, itu diadakan di Jakarta setiap satu bulan sekali.

Para pengunjung tampak begitu hikmat mendengar paparan dari Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib yang kali ini mengusung tema ‘Serigala Berhati Domba’.

“Jangan dipikir karena Allah Maha Pandai dan Maha Kuasa maka Allah bicara besar-besar,” kata Emha Ainun Nadjib dalam acara Kenduri Cinta di plaza Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat malam hingga dini hari (10/8/2018).

Lelaki kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 itu membeberkan bahwa Allah tidak merasa malu untuk membuat perumpamaan-perumpamaan dengan menyebut nyamuk atau makhluk yang lebih kecil dari itu.

“Nah, teman-teman sekalian Serigala Berhati Domba itu bukan karya puisi, tapi ini adalah cicilan saya menemani Anda sekalian untuk pertarungan yang jangka panjang,” bebernya.

Cak Nun mengaku dirinya banyak belajar dari Sabrang (Sabrang Mowo Damar Panuluh) anaknya, karena dalam gen keduanya ada pembagian tugas dimana Sabrang yang mengekplorasi tema dan dirinya yang membahas memperbincangkannya.

“Sabrang bisa melakukan apa yang tidak saya bisa lakukan, begitu juga sebaliknya Sabrang tidak bisa melakukan apa yang saya bisa lakukan,” ungkapnya.

Cak Nun tahu apa yang Sabrang yang tidak tahu, begitu juga sebaliknya Cak Nun tidak tahu apa Sabrang yang tahu. “Jadi tidak lantas bapak yang lebih tahu, yang pasti bapak itu yang lebih tua,” ujarnya disambut tawa para pengunjung.

Mengenai jangka pendek dan jangka panjang, kata Cak Nun, sama seperti ketika Sabrang menyebut finite game dan infinite game.

“Pada saat yang sama saya sudah menjelaskan pada acara Maiyah, mengeani sprint dan marathon, tapi kalau ingin yang pasti bahwa hidup ini ada dua hal, yang ada ending dan tidak ada ending,” paparnya.

Kedua hal tersebut dikotomi atau kerjasama, bahwa jomblo itu jangka pendek, tapi berumah tangga itu jangka panjang, bahkan tiada akhirnya. “Yuk kita kawin untuk sepuluh tahun, itu tidak ada,” tegasnya.

Berumah tangga itu benar-benar sebuah infinite game, sebuah perjuangan yang tidak ada akhirnya.

“Anda harus tahu yang tidak ada akhirnya itu apa saja, bisa nilai-nilai tinggi yang mendalam, bisa juga yang pragmatis, misalnya kalau pemerintah itu pasti finite game yaitu pertarungan atau perjuangan jangka pendek sekitar lima tahun pemerintahan, tapi kalau negara itu pertarungan atau perjuangan yang tiada akhirnya,” tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.