Cegah Radikalisme, Polres Metro Sasar Universitas Bina Nusantara

Editor: Satmoko Budi Santoso

140
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Hengki Haryadi (dua dari kiri) mengingatkan bahaya ancaman paham radikalisme dan terorisme di Kampus Universitas Bina Nusantara, Jalan Kebon jeruk No.27 Jakarta Barat, Jumat (10/08/18). Foto Lina Fitria

JAKARTA – Polres Metro Jakarta Barat bekerja sama dengan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT) mengajak para mantan narapidana teroris untuk memberikan pemahaman bahaya radikalisme kepada mahasiswa di Kampus Universitas Bina Nusantara, Jalan Kebon Jeruk No. 27 Jakarta Barat, Jumat (10/8/18).

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Hengki Haryadi, mengatakan, peran mahasiswa dinilai sangat penting dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme, sebab masyarakat menilai mahasiswa sebagai kaum intelektual dan contoh bagi masyarakat.

“Mahasiswa juga merupakan agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa. Maka, penting bagi mereka untuk mendapatkan pemahaman dan wawasan yang lebih tentang ilmu agama. Supaya mahasiswa juga bisa membantu mewujudkan kerukunan umat beragama,” ucap Hengki.

Terkait radikalisme dan terorisme, lanjut Hengki, dalam sehari Polres Metro Jakarta Barat menangkap tiga pelaku narkoba. Tak hanya itu saja, dirinya juga telah menganalisa terkait penangkapan pelaku jambret di tenda orange Teluk Gong, yang menjadi korban adalah pejabat kementerian PUPR.

“Setelah dilakukan penyelidikan ternyata para pelaku ini semua positif menggunakan narkoba,” ujarnya.

Dia menuturkan, bahaya ancaman radikalisme dan terorisme saat ini menjadi sebuah polemik yang nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Bahaya paham radikalisme dan terorisme menjadi ancaman nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, menurut Hengki, salah satu ancaman terbesar terkini ialah maraknya penyebaran berita hoax atau ujaran kebencian (hate speech).

“Para pelaku teroris dengan mudah membayar para calon pengantin dengan media internet karena semakin berkembang era zaman maupun teknologi, semakin kuat mendorong ajaran radikalisme mudah masuk ke masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Satgas Anti Teror Polri BNPT, AKBP Didik Novianto menjelaskan, saat ini para pelaku terorisme sudah sangat mudah melakukan penyebaran paham radikalisme. Baik itu menggunakan medsos, media massa maupun lingkungan sehari-hari.

“Kita mendapat pengalaman dari penangkapan salah satu teroris. Ironisnya, yang kami amankan masih seorang anak-anak. Dia mendapat paham tersebut dengan melakukan download pemahaman melalui situs internet sehingga ingin melakukan jihad. Nyatanya apa yang ada di Suriah itu tidak seperti apa yang menjadi pemahaman yang didapat melalui internet,” jelasnya.

Ustad Ali Fauzi Mansyur, salah satu narasumber dari napiter menjelaskan, dunia kelam dirinya di masa lalu membuat dekat ajaran radikalisme. Dirinya pun mengatakan, bahaya menjadi pelaku utama. Khususnya yang terjadi di sejumlah wilayah, baik nasional maupun internasional.

Waktu itu, dia juga mencari sekaligus membuka keanggotaan atau perekrutan para calon teroris. Selain itu juga, dia menjelaskan, para calon teroris itu akan diajari cara merakit bom maupun cara menggunakan senjata api.

Dalam kegiatan tersebut, dihadiri 600 para mahasiswa baru, Universitas Bina Nusantara beserta staf, pejabat utama Polres Metro Jakarta Barat bersama Kapolsek, jajaran BNPT, dan menghadirkan nara sumber dari Napiter, Ustad Ali Fauzi Mansyur.

Polres Metro Jakarta Barat juga menampilkan karya seni pembacaan puisi dengan judul “Bangkitlah Pemuda Pemudi Bangsaku”. Sebuah karya dari Kasat Intelkam Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Yuniar yang dibacakan oleh Iptu Dimitri Mahendra.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.