Christine Ajak Pengambil Keputusan, Tonton Film Sultan Agung

Editor: Makmun Hidayat

279
Christine Hakim - Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA — Christine Hakim termasuk aktris senior yang masih tetap eksis dalam dunia hiburan, bahkan ia masih tetap melakoni peran yang sangat menantang.

Kemampuan aktingnya tak perlu diragukan lagi karena ia masih tetap tampil prima dan mendapat banyak penghargaan ajang perfilman, baik di dalam maupun di luar negeri.

Aktris yang dijuluki sebagai grande dame dalam Perfilman Indonesia itu memang pemikirannya cerdas, bernas dan jernih. Pendapat maupun pandangannya selalu ditunggu-tunggu.

“Saya pribadi memberi apresiasi amat sangat tinggi kepada Ibu Mooryati Soedibyo dan Mas Hanung Bramantyo, saya tahu dengan segala tantangan yang ada, Ibu Mooryati sebagai produser oldest yang sangat luar biasa,” kata Christine Hakim dalam acara gala premiere film ‘Sultan Agung’ di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu malam (12/8/2018).

Perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 itu membeberkan saat sudah melihat hasil filmnya, semakin bangga pada Mooryati Soedibyo dan Hanung Bramantyo yang punya peran penting dalam dunia perfilman Indonesia.

“Hal ini tidak semata-mata saya hanya memuji saja, tapi itu jujur yang saya rasakan,” beber pemilik nama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim ini.

Ia bersyukur sekali atas kepercayaan yang diberikan Mooryati Soedibyo dan Hanung Bramantyo. Christine juga bangga pada Mooryati Soedibyo yang sudah berumur 90 tahun, tapi masih mau berbuat sesuatu demi bangsa ini dengan membuat film yang sangat inspiratif dan edukatif ini.

Christine berharap film ini tidak hanya dilihat masyarakat Indonesia sebagai catatan sejarah yang hampir terlupakan, yang kalau tidak dibuat filmnya barangkali suatu hari generasi penerus menganggap Sultan Agung hanya sebagai legenda saja.

“Beliau memang betul-betul sebagai hamba Allah pilihan yang pernah hidup dan mencatat sejarah sebagai pejuang yang berjuang untuk kemerdekaan bangsanya,” terangnya.

Christine juga berharap film ini dapat ditonton para pengambil keputusan di negeri ini, dari tingkat desa hingga sampai tingkat paling tinggi yakni presiden. “Banyak sekali message yang sebenarnya jauh lebih penting dari elemen-elemen untuk kembali merekonstruksi catatan atas skenario Tuhan,” ungkapnya.

Bagi Christine yang terpenting adalah bagaimana sejarah yang penuh kegemilangan itu terulang di masa mendatang. “Apalagi negeri kita ini akan menjelang Pilpres pada tahun 2019,” tuturnya.

Dalam dialog Sultan Agung, kata Christine, bahwa yang terpenting adalah saya percaya, saya pernah membaca, saya pernah mendengar bahwa sejarah yang tidak bisa menjawab tantangan masa depan, maka ia akan menjadi catatan kusam saja.

 

Baca Juga
Lihat juga...