“Coat-Tail Effect” Kemenangan Partai Berkarya dan Prabowo-Sandi

OLEH SYAEFUNNUR MASZAH

852
Syaefunnur Maszah - Foto Ist

SEJAK Jumat, 10 Agustus 2018, jelaslah sudah siapa yang bakal memimpin Indonesia pada 2019-2024. Kemungkinannya hanya dua, tiada lain duet Prabowo-Sandi atau Jokowi-Makruf.

Dari perspektif Berkarya sebagai Partai Politik baru, pilpres maupun pileg 2019 memiliki makna strategis bagi kelangsungan hidup partai ini ke depan. Maka, menurut saya, selayaknya bukan hanya pileg saja yang diotak-atik, melainkan juga pilpres.

Dalam pandangan saya pribadi sebagai salah satu Ketua di Dewan Pimpinan Pusat Partai Berkarya, ada beberapa catatan saya yang perlu saya sampaikan kepada khalayak. Pertama, banyak para pakar politik menuturkan, tak sedikit partai yang akan menganut sistem “coat-tail effect” pada Capres jelang Pemilu 2019. Yakni, efek mendukung calon populer, sehingga partai juga mendapatkan dampak limpahan suara dari calon presiden tersebut.

Dalam kosa psikologi politik, istilah “coat-tail effect” kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia jadi “pengaruh ekor-jas”. “Coat-tail effect” ini dipopulerkan pertama kali pada peristiwa pertemuan antara Warren Harding (seorang editor surat kabar dari kota kecil Marion, Ohio yang sedang ikut pemilihan anggota Senator Amerika) dan Harry Daugherty (orang cerdas dan dalam dunia politik terkenal sebagai orang dibelakang layar).

Harry Daugherty jatuh hati dengan “perawakan” dan “penampilan” Harding yang “seperti presiden”, pada kurun 1899.

Memang, saat itu, pada usia Harding yang sekitar 35 tahun, semua anggota tubuhnya begitu menarik perhatian. Bahkan, wartawan setempat mengatakan, Harding ini “seperti Dewa Romawi”.

Daugherty langsung berpikir, Harding bisa menjadi Presiden yang hebat. Dan sejak saat itu (1899), Harding mulai dipoles oleh daugherty untuk jadi tokoh nasional. Yang sangat menarik, Harding selalu menang karena “TAMPANG/WIBAWA”.

Di tahun 1914, Harding terpilih menjadi senator Amerika, walaupun tidak hadir saat debat masalah UU tentang peredaran minuman keras.

Lambat laun, penampilan Harding semakin mapan. Rambut keperakan dan alis tebal, membuat konstituen terpana dan mengatakan, Harding seperti “Julius Cesar”. Dengan tampang itulah, banyak media yang memberitakan dari penampilan Harding ini “calon presiden yang tampan”, “sosok sempurna untuk presiden”.

Maka, pada tahun 1920, Daugherty meyakinkan Harding untuk maju mengikuti konvensi partai Republik. Harding menyingkirkan lima calon lain dengan pidato yang belakangan disebut “ungkapan kosong tanpa makna“, tapi cara pembawaannya mempesona.

Tanpa dinyana, calon presiden Harding, yang asalnya dari desa, menjadi Warren Harding si presiden Amerika! Semenjak itu, political science (ilmu politik) berkembang pesat. Dan salah satunya menyatakan, kemenangan Harding adalah soal “coat-tail effect”.

Saat itu, Presiden Harding dipilih terlebih dahulu, baru memilih parlemen. Kemenangan Harding, yang juga di-claim merupakan kemenangan partai Republik merupakan “coat-tail effect”. “Coat-Tail Effect”, jika disederhanakan, adalah orang-orang yang sudah sangat terpesona dengan sosok/citra seseorang.

Bahkan, ketika sang tokoh mengibaskan “ekor” jasnya, luluhlah hati rakyat atau orang-orang di sekitarnya.

Jika kita tarik persamaan dengan tipe memilih orang Indonesia, ”Coat-Tail Effect” ini sepertinya sangat berpengaruh untuk rakyat Indonesia. Karena segala sesuatunya itu masih melihat penampilan, dan fisik semata. Apalagi, budaya patrilineal masih kental dan berakar di sendi-sendi kehidupan rakyat indonesia saat ini.

Dalam imaji masyarakat Indonesia, memilih Presiden atau Legislatif dengan model sosiologis (memilih karena sama suku bangsa/agama/jenis kelamin/ras/ Golongan) ataupun model rasional (memilih karena program), jadi tidak relevan lagi.

Untuk membuat calon pemilih kepincut, salah satu cara yang paling efisien ialah model psikologis. Salah satunya lewat “coat-tail effect” ini.

Coat-tail effect“ ini sangat sulit dibendung, karena yang sering terjadi dalam politik praktis, sangat sulit untuk mengajak orang “Berpikir Rasional”.

Pada kondisi pilpres dan pileg saat ini yang bersamaan pencoblosannya, hipotesanya, dengan mendukung ataupun mengusung Capres, maka partai akan mendapatkan “Coat-tail Effect” berupa tambahan suara untuk pileg.

Dalam “coat-tail effect” ini, partai-partai yang kurang solid akan menjadi solid karena ada yang diperjuangkan bersama. Maka, sangat dianjurkan, partai-partai di luar Partainya Capres, sebaiknya ikut mendukung di Pilpres 2019, agar mendapatkan manfaat “Coat-tail Effect“.

Pada Jumat 10 Agustus 2018 lalu, kehadiran Mbak Titiek Soeharto dalam pendaftaran Capres Prabowo-Sandi di kantor KPU Pusat, tentunya memiliki makna “coat-tail effect” yang efektif bagi Berkarya. Sebagai Partai Baru yang belum bisa mengusung Capres sendiri, bisa ikut memperoleh keuntungan politik dari perhelatan tersebut.

Keuntungan Strategis Dukungan Capres bagi Partai Berkarya

Selain alasan “coat-tail effect“, Partai Berkarya sebagai parpol peserta Pemilu, juga perlu menjajal kemampuannya dalam melakukan pilihan politiknya. Harapannya, langkah politik ini bisa memiliki nilai investasi politik masa depan.

Partai Berkarya sebagai salah satu institusi demokrasi, perlu mulai memproyeksikan diri bisa ikut terlibat dalam manajemen kekuasaan eksekutif, bukan hanya kekuasaan legislatif.

Setidaknya, sebelum tahun 2024, Partai Berkarya mewacanakan mengusung Capres Hutomo Mandala Putra, maka sebagai preliminary, Partai Berkarya perlu mendudukkan kader terbaiknya dalam Kabinet Pemerintah 2019-2024 mendatang.

Dalam amatan saya, jalan agar Partai Berkarya bisa mendudukkan kadernya di Kabinet Pemerintahan 2019-2024, sangat terbuka lebar. Tentunya, Partai Berkarya perlu menempuh mekanisme politik, yakni dengan secara formal memberikan dukungan kepada salah satu Capres yang ada, serta ikut terlibat dalam giat pemenangannya.

Memang, ada risiko kalau Capres pilihannya kalah. Tapi, investasi mana yang tidak memiliki resiko? Pepatah mengatakan, “high risk high gain, no risk no gain.”

Partai Berkarya Yakin Dukung Prabowo-Sandi

Ketika Partai Berkarya menentukan pilihan dukungannya pada pasangan Prabowo-Sandi, hal ini bukan semata alasan ideologis, atau alasan demografi politis, atau geo-politis, atau transendental politis, melainkan juga karena alasan-alasan praktis yang cukup panjang bila harus diuraikan.

Secara pribadi, saya ingin mengurai sikap politik ini dengan pendekatan teori duplikasi bisnis.

Kita bisa berkaca pada fenomena SBY-Demokrat yang dikenal licin dalam strategi politiknya. Partainya pernah membirukan Senayan. Bahkan, Ketua Umum Partai Demokrat pernah menjabat Presiden RI hingga 2 periode.

Sebagai partai produk pascareformasi dan tidak memiliki cantelan ke tokoh besar sebelumnya maupun ormas besar, kemenangan kemenangan Partai Demokrat, baik di kekuasaan legislatif maupun eksekutif, cukup menjadi indikasi bahwa mereka lihai dalam berstrategi dan mengelola segala sumber daya yang ia miliki.

Sebelum partainya ikut dalam kontestasi pemilu 2004, SBY menjadi menteri lebih dulu, sebelum berani dan terpilih jadi Presiden. SBY menggunakan SDM lain untuk mendirikan Demokrat, sebelum kemudian ia ambil alih kepemimpinan. Dan dalam perjalanan kisahnya, semua itu dilalui dengan high risk oleh Partai Demokrat dan SBY, apa pun jalannya, dengan penuh kalkulasi.

Tapi, hari ini, SBY dan Demokrat yang sudah pernah panen raya menikmati hasil dari semua pergulatan politiknya itu, cukup memiliki posisi tawar dan meramaikan situasi politik nasional menjelang pesta demokrasi 2019.

Yang mencengangkan, setelah ribut ribut soal tudingan “Jenderal Kardus” sekalipun, SBY-Demokrat bisa tenang memberikan dukungan dan mengusung pasangan Prabowo-Sandi! Tentu ada kalkulasi politik di balik keputusan ini. Yang pasti, menurut analisa saya pribadi, SBY punya perhitungan untuk menang bagi Prabowo-Sandi!

Tentu, dengan mengacu pada “coat-tail effect”, serta manuver SBY yang zig-zag, hal seperti tersebut di atas dapat dilakukan oleh Berkarya. Bagaimanapun, pilihan politik untuk dukungan Capres-Cawapres 2019, secara resmi akan menjadi domain DPP Partai Berkarya di bawah kepemimpinan duet Hutomo Mandala Putra dan Priyo Budi Santoso.

Bisa jadi, pasangan Prabowo-Sandi memiliki “coat-tail effect” terhadap Partai Berkarya. Tapi, jangan-jangan, justru yang berlaku adalah sebaliknya, Partai Berkarya yang dipimpin oleh H. Hutomo Mandala Putra, S.H., justru memiliki “Coat-Tail Effect” bagi kemenangan Prabowo-Sandi.

Akhir kata, narasi saya, ini sebenarnya sekadar untuk mentradisikan dialektika pemikiran politik yang terbuka untuk didiskusikan sebagai olah pikir, sambil menyeruput Teh Nasgitel (Panas-Legi, Kentel) kala sore hari yang indah, menyambut matahari yang perlahan-lahan lelap di langit barat. ***

Syaefunnur Maszah adalah Ketua DPP Partai Berkarya dan Calon Anggota Legislatif Partai Berkarya 2019 Daerah Pemilihan Provinsi Banten

Redaksi menerima tulisan opini. Tema tidak SARA dan mendukung kedaulatan bangsa. Kirim ke editorcendana@gmail.com 

Lihat juga...