Daya Rusak Narkoba Lebih Parah Dibanding Terorisme

Editor: Makmun Hidayat

203

JAKARTA — Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Heru Winarko, mengatakan daya rusak narkoba lebih serius dibandingkan korupsi dan terorisme.

“Narkoba ini daya rusaknya lebih serius dibandingkan korupsi dan terorisme karena dampaknya besar, kembali normalnya itu tidak 100 persen,” kata Heru di kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Dia menyebutkan, nilai sebaran narkoba itu hampir merata di semua provinsi di Indonesia. Tidak ada tempat yang kosong dari jeratan narkoba. Malah kata dia, di Sumatera, Bupatinya mengadakan sayembara kalau ada desa tidak terjamah narkoba akan diberi hadiah sepeda motor.

“Tapi tidak ada satu desa pun yang mendaftar sayembara itu. Jadi memang di kabupaten itu semua desa ada narkobanya,” ujarnya.

Menurutnya, jalur masuk narkoba di wilayah Indonesia ini sangat luas dan kebanyakan lewat laut melalui pelabuhan resmi serta pelabuhan tikus. Namun yang paling banyak melalui pelabuhan tikus. BNN akan mengatur strategi untuk menghadang pemasokan narkotika di jalur tikus tersebut.

Untuk jaringan international, sebut dia, Jazirah Arab sekarang menjadi ancaman karena berhadapan langsung dengan Afghanistan, Pakistan, Iran dan juga Myanmar. Dimana tambah dia, di Afghanistan itu ada kekuatan kelompok kokain dan Iran ada kelompok sabu.

“Sindikat Iran seminggu lalu kita tangkap sabu senominal Rp 3 triliun. BNN bicara sindikat bukan artis pemakai,” ujarnya.

Terkait sindikat tersebut, BNN terus meningkatkan pengawasan di penjara atau lapas. Karena menurut Heru, lapas juga merupakan pelabuhan tikus darurat yang menjadi lahan transaksi barang haram dalam penjara.

“Itu rata-rata pesanan dari dalam lapas. Di LP Tangerang di dalam penjara itu ada wifi bukan hp lagi. Ini yang saya ungkap dalam waktu lima bulan saya menjabat di BNN. Jadi kita perbaiki lapas itu,” tukasnya.

Pengedaran narkoba ini mendunia, sehingga kata dia, targetnya bukan Indonesia saja tapi juga Australia, Malaysia dan negara lainnya.

Dari 250 juta penduduk Indonesia, yang menyalahgunakan narkoba hampir 3,5 juta -4 juta jiwa. Kalau dulu hampir 6 juta jiwa atau 2,1 persen tapi sekarang menurun 1,7 persen frekuensinya.

Dia menjelaskan, dari 3,5 juta-4 juta pengguna narkoba itu, ada tiga kategori. Pertama, coba pakai, misalnya ada pesta mereka mengisap narkoba bareng-bareng yaitu sebanyak 57 persen. Kedua, reksasional yakni sudah mulai rutin seminggu 2-3 kali, tercatat 27 persen. Terakhir adalah pecandu sebanyak 16 persen.

Tahun lalu, BNN telah menangkap 57 ribu pengedar narkoba, dan tahun ini sebanyak 30 ribu. Hukukam mati pengedar narkoba tercatat 91 orang. Kedepan kata dia, akan ada eksekusi lagi tapi menunggu putusan Mahkamah Agung (MA).

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Abdul Haris Semendawai menambahkan, daya rusak narkotika ini luar biasa dan pemakainya berjumlah jutaan orang. Ironisnya ini terus berlangsung, dan tentunya tak bisa dibiarkan. Karena bisa jadi ladang subur bagi para penjahat untuk mengambil keuntungan dan merusak masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

“Narkoba ini ibarat perang untuk menundukkan Indonesia sehingga mudah dikendalikan,” kata Haris.

Dia menilai inisiatif Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) sangat tepat dengan mengkonsilidasikan kepada masyarakat untuk memerangi narkoba. Menurutnya, ini sangat baik dan sejalan dengan tugas dan fungsi LPSK.

Apalagi sebut dia, peredaran narkoba ini dikendalikan oleh kejahatan terorganisi. Dan, itu untuk melawannya tidak mudah mengingat sudah banyak sekali pelaku diproses tetapi peredaraan narkoba tak pernah redup malah terus meningkat jumlahnya.

Sehingga perlu ada tindakan dari semua elemen untuk bisa menghentikan peredaraan narkoba di Indonesia. Banyak caranya, misalnya melaporkan peredaran narkoba yang terjadi di satu wilayah. “Ya memang tidak mudah deteksinya,” tutupnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.