Debit Menyusut, Penyaluran Air PDAM di Bakauheni Terpaksa Digilir

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.086

LAMPUNG — Krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat sejumlah wilayah di Kabupaten Lampung Selatan. Sumur yang selama ini menjadi andalan warga setempat bahkan saat ini tidak bisa ditimba dan dipompa menggunakan mesin.

Selain masyarakat, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat juga mengalami penurunan pasokan air bersih, imbas musim kemarau.

Kepala Cabang PDAM Tirta Jasa Cabang Bakauheni, Bambang Erwinsyah menyebutkan, mata air dari Gunung Rajabasa mengalami penurunan debit. Saat kondisi hujan, debit air yang melalui pipa berdiameter 12 inchi 20-25 liter per detik.

“Saat musim kemarau sejak awal Juni debit air menurun menjadi 10 liter per detik,” sebutnya kepada Cendana News, Kamis (2/8/2018).

Upaya antisipasi yang dilakukan di antaranya penambahan sumber mata air. Selain itu pihaknya juga mengupayakan sumur bor di Bakauheni serta beberapa titik di Gunung Rajabasa.

Disebutkan, pihaknya juga mengusulkan pemanfaatan sumber air bersih dari Way Andeng yang berada di wilayah Totoharjo, meski upaya tersebut masih terkendala minimnya anggaran.

“Anggaran penambahan fasilitas mata air baru sudah diusulkan ke legislatif dan disetujui pada 2017 silam. Realisasi pembuatan sumur bor untuk menambah pasokan air bersih diharapkan bisa dibangun dalam waktu dekat,” tambahnya.

Dampak menurunnya debit air bersih, PDAM Tirta Jasa terpaksa melakukan menggilir penyaluran. Langkah tersebut sudah dilakukan selama bertahun tahun terutama saat musim kemarau melanda di wilayah Bakauheni dan sekitarnya.

“Kita lakukan supali air bersih secara bergilir dengan tujuan agar semua pelanggan kebagian. Wilayah Muara Bakau pada pagi hari hingga siang dan Muara Piluk sekitarnya siang hingga sore,” beber Bambang.

Krisis Air Bersih
Bambang Erwinsyah Kepala Cabang PDAM Tirta Jasa Bakauheni Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Pembagian air tersebut sudah disosialisasikan ke pelanggan agar dapat memanfaatkan jadwal tersebut.

Hendra (30), salah satu pelanggan PDAM menyebutkan, selama musim kemarau pasokan memang sedang menurun. Sebagai upaya penghematan, ia terpaksa menggunakan untuk mandi, mencuci dan memasak.

“Kebutuhan air bersih untuk minum dibeli dengan menggunakan galon isi ulang dari penjual dengan harga Rp3 ribu isi 19 liter. Air sisa mencuci dan memasak bahkan kami tampung untuk digunakan menyiram tanaman karena mubazir jika dibuang, sekaligus mencegah tanaman bunga kekeringan,” papar Hendra.

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.