Deteksi Dini untuk Pencegahan Gangguan Jiwa

Editor: Mahadeva WS

974
Kasubag Hukormas RSJRW, Ribut Supriatin (Foto: Agus Nurchaliq)

MALANG – Seperti halnya gangguan fisik, gangguan jiwa juga dipengaruhi berbagai macam penyebab. Sehingga, gejala dan penanganan yang dilakukan juga berbeda-beda.

Pada penyakit kejiwaan yang dipengaruhi faktor ekonomi, akan berbeda dengan yang disebabkan putus cinta. “Penyebab sakit kejiwaan bermacam-macam. Mulai dari usia remaja di bawah 18 tahun kebanyakan penyebabnya adalah putus cinta, atau punya keinginan yang terlalu tinggi tapi tidak tercapai,” jelas kasubag hukormas Rumah Sakit Jiwa Radjiman Wediodiningrat (RSJRW), Ribut Supriatin, Jumat (3/8/2018).

Penyebab gangguan kejiwaan pada orang dewasa biasanya adalah karena faktor ekonomi, perceraian dan perselingkuhan. Gangguan jiwa, adalah perubahan fungsi jiwa yang disebabkan adanya gangguan fungsi jiwa. Hal itu akan menyebabkan penderitaan pada individu, berupa hambatan dalam melaksanakan peran sosial.

Gangguan jiwa juga biasanya diwujudkan dalam bentuk gangguan pikiran, gangguan perasaan dan gangguan tingkah laku. “Penanganan juga berbeda-beda. Ketika pasien berdasarkan hasil pemeriksaan dinyatakan harus di rawat, maka ruangannya juga dibedakan tergantung kategorinya yakni akut, sub akut dan kronis,” jelasnya.

Berbicara mengenai kesehatan jiwa, tidak bisa di lepaskan dari upaya promotif dan preventif, tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitative untuk mencegah terjadinya gangguan kejiwaan. Upaya promotif dan preventif bisa dilakukan di lingkungan keluarga, dalam bentuk pola asuh dan pola komunikasi dalam keluarga.

Selain itu, deteksi dini juga bisa mencegah terjadinya gangguan jiwa. Caranya dengan memperhatikan tingkah laku anggota keluarga. Jika ada perubahan, segera telusuri apakah ada sesuatu yang menjadi penyebab. Tanyakan apa yang dipikirkan atau dirasakannya. “Penderita biasanya akan mengalami gangguan tidur, gangguan makan, pusing, sulit konsentrasi, tegang dan kurangnya gairah untuk beraktivitas,” ujarnya.

Jika dirasa tidak bisa mengatasi sendiri, segera minta bantuan dokter, perawat, psikolog, maupun psikiater untuk membantu. Karena gangguan kesehatan jiwa sebenarnya dapat diobati, apalagi jika diketahui sejak awal. “Semakin dini mendapat pengobatan, maka akan semakin baik pula hasilnya,” ucapnya.

Peran keluarga dan masyarakat juga sangat diperlukan dengan cara tidak melakukan stigmatisasi atau memberikan perlakuan yang diskriminatif kepada penderita gangguan jiwa.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.