Diprediksi Tahun Ini Tingkat Konsumsi Ikan di Mataram, Naik

178
Menu ikan bakar, ilustrasi -Dok: CDN
MATARAM – Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, memprediksi tingkat konsumsi ikan di Mataram tahun ini, naik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jika tahun 2017, tingkat konsumsi ikan di Mataram sebesar 30 kilogram per kapita per tahun, tahun ini kemungkinan bisa mencapai 33 kilogram per kapita per tahun,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram, Hj. Baiq Sujihartini, di Mataram, Sabtu (4/8/2018).
Ia mengatakan, prediksi peningkatan konsumsi ikan di Kota Mataram itu berdasarkan hasil produksi ikan yang didatangkan dari luar Kota Mataram.
Selama ini, katanya, tingkat konsumsi ikan hanya dihitung berdasarkan produksi ikan dari dalam kota, baik ikan air laut maupun air tawar.
Berdasarkan data DKP Mataram menyebutkan, produksi ikan air tawar (nila, lele, gurami, dan sebagian kecil patin) sebanyak 283 ton pada 2016, baru dapat memenuhi kebutuhan konsumsi warga kota sekitar 85 persen, sisanya didatangkan dari pembudidaya ikan air tawar dari luar kota.
“Sementara, selama ini kita belum mendata jumlah produksi ikan yang didatangkan dari luar untuk rumah makan, restoran dan hotel,” ujarnya.
Menurutnya, bila hal itu didata secara menyeluruh, maka tingkat konsumsi ikan di kota ini diprediksikan berada di atas tingkat konsumsi ikan Provinsi NTB sebesar 31,15 kilogram per kapita per tahun.
“Meskipun belum dapat mengejar tingkat konsumsi ikan secara nasional yang tercatat sebesar 38,14 kilogram per kapita per tahun,” katanya.
Terkait dengan itu, untuk mendongkrak tingkat konsumsi ikan di Mataram, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan pendataan jumlah ikan yang didatangkan dari luar kota untuk memenuhi kebutuhan di kota ini.
Di samping itu, DKP terus menggencarkan gerakan gemar makan ikan mulai dari tingkat TK dan sekolah dasar hingga ke pondok pesantren.
Pada beberapa pondok pesantren, sambungnya, DKP Mataram telah memberikan bantuan berupa kolam terpal yang dapat dikembangkan oleh santri untuk budi daya ikan air tawar.
“Selain untuk dikonsumsi sendiri, hasil dari kolam terpal juga dapat dijual, sehingga hal itu menjadi salah satu bagian edukasi pengembangan ekonomi,” katanya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...