DLH Pantau Kualitas Air Sungai di Pesisir Selatan

Editor: Koko Triarko

1.716
PESISIR SELATAN – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, melaksanakan pemantauan secara berkala terhadap kualitas 12 aliran sungai di kabupaten setempat. 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pesisir Selatan, Nelly Armidha, mengatakan, pemantauan kualitas air sungai itu dilakukan, agar sungai yang dijadikan sebagai sumber kehidupan oleh masyarakat benar-benar terjamin dan berkualitas.
Ia mengaku, Dinas Lingkungan Hidup terus berupaya maksimal memantau kualitas air di semua aliran sungai yang ada di Pesisir Selatan. Apalagi, sungai juga menjadi sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga, oleh perusahaan penyedia air minum, seperti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pesisir Selatan, Nelly Armidha/Foto: Ist
“Pemantauan kualitas air terhadap 12 aliran sungai ini, dilakukan secara berkala. Tujuannya supaya kondisi pencemaran air sungai bisa terpantau sebelum dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dikonsumsi,” katanya, Rabu (29/8/2018).
Nelly menjelaskan, 12 aliran sungai itu adalah Batang Tarusan, Batang Bayang, Batang Lumpo, Batang Painan, Batang Jelamu, Batang Surantih, Batang Kambang, Batang Lakitan, Batang Palangai, Batang Air Haji, dan Batang Tapan.
Dikatakannya, petugas yang diturunkan secara berkala itu, akan mengambil sampel di beberapa titik pada sungai yang diuji. Hal itu dilakukan mulai dari aliran sungai yang terdapat di Kecamatan Koto XI Tarusan, sampai  ke Kecamatan Silaut dengan meliputi 15 kecamatan yang ada.
“Pada masing-masing aliran sungai itu, petugas mengambil sampel pada hulu, pertengahan, dan pada hilir atau muara. Itu dilakukan, agar didapatkan akurasi data kualitas air sungai tersebut,” jelasnya.
Ia menegaskan, sejauh ini sungai yang melintasi daerah atau perkampungan di Pessel, masih layak untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. Walau diperkirakan masih layak, namun untuk memastikannya tetap perlu dilakukan uji labor.
“Sejauh ini, sungai yang ada di Pessel masih pada batas toleransi, dan aman dari pencemaran. Semua itu memang karena tidak adanya aktivitas yang mencolok, terutama pertambangan atau pembuangan limbah berbahaya,” jelasnya.
Menurutnya, semua aliran sungai di Pesisir Selatan berhulu di gugusan Bukit Barisan pada kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Dari kawasan itu, baru kemudian melintasi perkampungan penduduk.
“Karena kondisi air sungai diperkirakan masih pada batas toleransi dan aman dari pencemaran, sehingga selain untuk kebutuhan pertanian, oleh masyarakat juga dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak dan air minum,” jelasnya.
Nelly juga menyebutkan, ada beberapa hal yang menyebabkan sungai menjadi tercemar, seperti aktivitas membuang sampah sembarangan. Hal ini memang banyak yang tidak tahu mengenai pengolahan sampah.
Banyak sampah dibuang ke dalam sungai, dan mengalir bersama dengan air yang mengalir. Hal yang akan terjadi adalah gundukan sampah akan membuat aliran sungai menjadi keruh, karena banyak kotoran yang ada. Kekeruhan air mempengaruhi kesehatan air, untuk mengukur kekeruhan air dapat menggunakan alat ukur kekeruhan.
Lalu juga ada limbah industri. Sebuah industri yang membuang limbahnya ke dalam sungai akan membuat zat yang ada dalam limbah mengalir ke sungai, dan mencemari sungai.
“Kalau di Pesisir Selatan bisa dikatakan tidak ada limbah industri yang dibuang ke sungai,” sebutnya.
Selanjutnya, penyebab pencemaran air sungai adalah erosi tanah. Tanah yang terkikis akan mengalir bersama air dan menyebabkan air menjadi keruh.
Baca Juga
Lihat juga...