Dr. Chris: Metode ERAS Efektif Tangani Pasien Pascaoperasi

Editor: Koko Triarko

319
BADUNG — Metode perawatan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) Protocols pada pasien, terbukti sangat efisien dalam dunia medis, terutama bagi proses penyembuhan pasien yang menjalani operasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Rumah Sakit Cendana Jakarta, Dr. Chris A Yohanes, Sp.An. KIC., saat menjadi speaker Indonesia dalam Asia Pacific Symposium On Critical Care and Emergency Medicine 2018, di Bali, Sabtu (4/8/2018).
Menurut Dr. Chris, ERAS merupakan protokol yang lebih bersifat bagaimana cara mengedukasi pasien yang akan dan baru saja menjalani operasi. Manfaat utama ketika menggunakan metode ERAS ini sangat banyak sekali, yaitu terutama lebih efisien dari segi waktu dan biaya.
Direktur Utama Rumah Sakit Cendana Jakarta, Dr. Chris A Yohanes, Sp. An. KIC. -Foto: Sultan Anshori.
Artinya, jika dulu membutuhkan waktu cukup lama, dua hingga tiga minggu penyembuhan pascapenanganan operasi, namun dengan menggunakan metode ini proses penyembuhan lebih cepat, paling lama tiga hari hingga empat hari.
“Dulu kita kan butuh waktu lama, antara satu hingga dua minggu dalam proses pemulihan pascaoperasi, sekarang tidak lagi,” ucap Dr. Chris, saat ditemui di sela acara.
Menurutnya, metode ini lebih bersifat edukasi serta koordinasi dalam penanganan pasien, sebelum dilakukan tindakan operasi. Artinya, petugas media, baik dokter maupun perawat, melakukan pengawasan penuh terhadap pasien.
Selain itu, katanya, metode ini juga mengurangi penggunaan obat-obatan yang mengandung narkotika, sebagai obat antisakit bagi pasien operasi updoment /operasi perut. Melainkan menggunakan obat-obatan alternatif yang tidak mengandung narkotika, salah satuya seperti obat apydural.
“Karena dengan menggunakan narkotika akan menghambat mobilitas pergerakan usus, sehingga mengakibatkan lamanya pasien bisa mengkonsumsi makanan. Materi yang disampaikan multi disiplin. Intinya perawatan tentang penanganan kasus kritis atau emergency. Kita banyak berbagi pengalaman selama simposium ini, dengan rekan sejawat yang ada di Asia Pasifik,” imbuh Dr. Chris.
ERAS, kata Dr. Chris, merupakan metode yang sudah cukup lama ditemukan di dunia medis, terutama Amerika dan Eropa. Sementara, untuk di Indonesia, metode ini baru diterapkan awal 2000an.
“Saya pikir negara kita ini terbilang cukup lambat dalam menerapkan ERAS. Kalau di negara lain, terutama di Eropa dan Amerika, mereka sudah lama. Ya, harapannya ke depan, dengan simposium ini bisa menjadi jembatan untuk semakin memperbaiki kualitas, baik keilmuan maupun dari segi pelayanan serta fasilitas yang dimiliki oleh Rumah sakit yang ada di Indonesia. Kalau dilihat dari kualitas keilmuan kita, ya kita sejajarlah dengan mereka,” kata Dr. Chris.
Asia Pacific Symposium On Critical Care and Emergency Medicine kali ini merupakan yang ke-25 kalinya. Tahun ini, setidaknya ada sekitar 13 negara yang sudah terdaftar, dengan 300 peserta serta 40 lebih speaker asing, termasuk 20 speaker asal Indonesia.
Ketua Panitia, dr. Tri Wahyu Murni, mengatakan, tujuan digelarnya kegiatan ini adalah sebagai media saling tukar informasi, ilmu serta pengalaman di bidang kesehatan. Terutama pelayanan tentang pelayanan kegawatdaruratan, di mana media pelayanannya tidak hanya memiliki satu disiplin ilmu saja, bisa perawat serta dokter spesialis, baik dari bagian emergency ataupun ICU.
“Jadi, pembahasan dalam forum Asia Pasific Symposium On Critical Care and Emergency Medicine 2018 ini membahas masalah pasien-pasien kritis,  baik sejak prarumah sakit sampai rumah sakit bagian emergency maupun ICU. Itulah lingkup dari pada ilmunya. Dokternya sendiri bermacam-macam, yakni dokter umum, berbagai dokter spesialis, dokter penyakit dalam, dokter bedah, dan perawat,” jelas dr. Tri Wahyu Murni, kepada Cendana News.
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung ini menambahkan, kegiatan inig dilakukan setiap tahun pada bulan Agustus di Bali.
Menariknya, partisipan dari berbagai negara di Asia Pasific tersebut datang dengan biaya sendiri. Termasuk kegiatan ini juga tidak menggunakan anggaran dari pemerintah.
“Kami hanya dukung akomodasi saja, dan mereka berkomitmen untuk datang setiap tahunnya. Mereka berkomitmen untuk bantu Indonesia dengan membagi ilmu. Ini awal modal kita untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...