Dua Pembalap Wanita Ikuti Kejuaraan Balap Asia 2018 di Bali

Editor: Koko Triarko

2.120
BADUNG – Ada yang berbeda dalam kompetisi Auto Gymkhana Competition (AAGC) tahun ini. Di antara ke-32 pembalap profesional, ternyata ada dua pembalap wanita. Namanya, Akisa Eng dan Sansan. Dua wanita yang memiliki paras cantik tersebut merupakan pembalap profesional dari negara tetangga, Malaysia.
Manajer Tim Pembalap Malaysia, Jagjeet Singh, mengatakan, pihaknya sengaja mendelegasikan pembalap wanita di ajang balap ini, sebagai bagian pembuktian, bahwa kompetisi balap ini juga bisa diikuti oleh kaum wanita.
“Kami ingin menunjukkan, bahwa kaum wanita juga memiliki kemampuan untuk bersaing dengan pembalap pria,” ucap Jagjeet Singh, saat ditemui di sela kompetisi, Sabtu (11/8/2018).
Di Malaysia, menurut pria keturunan India ini, pembalap wanita juga hampir mendominasi. Bahkan, ada sekitar lima pembalap wanita yang sudah menjadi pembalap nasional, dengan menjuarai beberapa kompetisi balap di negeri ‘Upin-Ipin’ itu.
Menurut Jagjeet Singh, ini merupakan kali kedua setelah Thailand yang mendelegasikan pembalap wanita di ajang balap bergengsi ini. “Untuk itu, saya mengajak dua wanita pembalap ini ke ajang kompetisi antarnegara, supaya memiliki pengalaman. Selain itu, agar ditiru oleh negara lain. Indonesia juga punya setahu saya. Tapi, kenapa tidak ikut kompetisi ini?” tanya dia.
Menurutnya lagi, karena pembalap wanita, sudah tentu ada kelemahannya. Yaitu, soal fisik. Mereka kesulitan saat menggunakan hand rem. Namun, pembalap wanita cenderung memiliki mental yang bagus dibanding pembalap pria.
Akisa Eng sendiri mengaku tidak mengalami kesulitan, saat mengikuti kompetisi balap ini di Indonesia. Karena secara prinsip, tidak jauh berbeda dengan gaya setir kemudi di negaranya, sama-sama berada di sebelah kanan. Meski ini kali pertama, namun ia merasa senang dan berharap, ke depan negara lain, termasuk Indonesia, mendelegasikan pembalap perempuan dalam setiap iven atau perlombaan mendatang.
“Karena kami pembalap perempuan, pasti kesulitannya tentang kekuatan fisik saat mengemudikan mobil. Kesulitan saat menarik hand rem mobil. Tapi, itu tantangan buat kami,” ucap Akisa Eeng.
Dirinya juga mengaku sudah menyukai balapan mobil sejak duduk di bangku sekolah (setara SMA kalau di Indonesia). Dia juga mengaku senang mencoba sirkuit ini, karena memiliki aspal dan luasan yang cukup, sehingga memudahkan dirinya saat melakukan manuver mobilnya.
Sementara itu, Ketua penyelenggara, Tjahyadi Gunawan, menjelaskan, setiap negara mempunyai medan serta peraturan yang berbeda. Artinya, yang diadu merupakan benar-benar skill dari setiap pembalap. Misalnya, soal hand rem.
“Karena tidak semua negara memiliki aturan sama. Jadi, kebetulan saja yang sama negara kita dengan Malaysia,” pungkas Tjahyadi Gunawan.
Sebanyak 32 pembalap dari 13 negara mengikuti The awaited Asia Auto Gymkhana Competition di Bali. Tahun ini Bali dipilih menjadi tuan rumah sebelum, akhirnya digelar di India dan Taipei.
Baca Juga
Lihat juga...