Eddy Susanto Kritisi Tabiat Orang Kota

Editor: Koko Triarko

240
JAKARTA – Sebuah pameran seni rupa akbar, Art Jakarta 2018, yang digelar sejak 2-5 Agustus 2018, menghadirkan seniman-seniman besar, dari dalam negeri maupun luar negeri.
Mereka menyuarakan kegelisahan dan mengkritisi tentang perkembangan zaman yang banyak di antaranya tidak sejalan dengan hati nurani yang berpedoman pada misi kemanusiaan.
Salah satunya, seniman Eddy Susanto, yang melalui karyanya berjudul ‘The Irony of Ruralisme’ mengkritisi orang kota yang datang ke kampung dan membeli rumah adatnya tanpa mau tahu mengenai sejarah kampung dan masyarakat kampung.
“Keikutsertaan saya dalam Art Jakarta, awalnya saya diundang Panitia Art Jakarta untuk membuat karya seni sendiri, dan saya buat sebuah karya berjudul ‘The Irony of Ruralisme’ ini,” kata Eddy Susanto, kepada Cendana News, di pameran Art Jakarta 2018  di Pacific Place, SCBD, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (4/8/2018).
Dari peringatan 10 tahun Art Jakarta, Eddy mencoba menggali tentang masalah pluralisme. “Selama ini, saya melihat pluralisme yang terjadi di Jawa, terutama Yogyakarta, bahwa sepuluh tahun terakhir ini pluralisme itu menjadi ironi,“ ungkapnya.
Pelukis asal Yogyakarta ini menyayangkan, banyak orang kota datang ke Jawa hanya beli tanah, tapi tidak tinggal di sana, hanya sebagai investasi saja.
“Orang kota tidak mengenal sejarah kampung, tidak mengenal masyarakat kampung, yang menurut saya, sangat janggal. Itu efek negatif dari pluralisme,“ bebernya.
Sementara itu, kata Eddy, orang-orang kita di kampung di Jawa rela menjual tanah dan rumah Joglo-nya karena ingin ikut modern berpoya-poya dari uang hasil penjualannya.
“Sedangkan, orang kota mencoba untuk menyelamatkan Joglo, dibangun rumah Joglo tapi dipagari, yang menurut saya ironi sekali, yang suatu hari kelak sejarah kampung sudah tidak ada lagi,“ paparnya.
Menurut Eddy, orang kota tinggal di kampung, tapi punya dunianya sendiri lewat sosial media, yang kalau ketemunya di resto.
“Dia keluar masuk ke kampung itu, tapi tidak tahu kampung apa, padahal itu tempat ia tidur dan berkeluarga,“ urainya.
Eddy menyampaikan, bahwa di Jawa orangnya eksistensialis, yaitu memaknai dulu, konsep dulu, baru setelah itu mewujudkannya.
“Sementara orang kota justru sebaliknya, mempercayai sesuatu dulu, baru memaknainya,“ simpulnya.
Dalam karya pamerannya, Eddy memasukkan daun sawo beludru yang asli didatangkan dari Yogyakarta, yang warna daunnya sebaliknya coklat dan sebaliknya lagi hijau, karena secara estetik menarik sekali.
“Saya ingin mengajak pengunjung, begitu masuk ke karya saya langsung merasakan aroma kampung,“ harapnya.
Eddy ingin menjual Joglo seperti masyarakat Jawa pada umumnya, tapi secara imajiner. “Dalam karya saya ini, saya punya tanah, punya Joglo, dan di dalam pagar, sebagaimana yang orang kota lakukan yang membeli Joglo dan dipagari,“ katanya.
Arti kampung bagi Eddy, bukan hanya sekedar kampung tempat orang-orang tinggal, tapi ada jiwa, yang tidak bisa dijual itu jiwanya.
“Fisiknya baik tanah atau Joglo bisa dijual, tapi orang kita membeli Joglo dan tinggal di Jawa, tapi tidak akan menjadi orang Jawa,“ tuturnya.
Eddy percaya, sebuah tempat itu local genius-nya ditentukan interaksi orang-orang yang bertempat tinggal di dalamnya.
“Tempat itu memang berisi orang-orang cerdas yang intens, berinteraksi dan bergulat dengan berbagai permasalahan kompleks di dalamnya,“ tegasnya.
Harapan Eddy terhadap karyanya ini mengingatkan dirinya beberapa waktu lalu, ketika ada demo warga tentang pembangunan bandara baru di Kuloprogo, bahwa Jogja tidak dijual.
“Kalau karya saya ini sebaliknya, ini dijual, tapi yang dijual idenya, bukan fisiknya, dan ini saya buatkan juga ada sertifkat tanahnya,“ pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...