Ekonomi Tumbuh 5,27 Persen, Sektor Industri Tetap Terpuruk

Editor: Satmoko Budi Santoso

213
Peneliti INDEF, Andry Satrio Nugroho (yang berdiri) pada diskusi "Ekonomi Tumbuh : Temporer atau Berlanjut "di kantor INDEF, Jakarta, Rabu (8/8/2018). Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Andry Satrio Nugroho mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,27 persen year on year (yoy) pada triwulan II 2018 tidak dirasakan dampaknya oleh dunia industri dalam negeri.

Menurutnya, hal ini terbukti dari realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) triwulan II 2018 mencapai Rp 523,7 triliun. Bahkan realisasi bantuan sosial (bansos) triwulan II 2018 tercatat Rp 27,19 triliun, atau naik 67,57 persen (yoy) dibandingkan dengan triwulan II 2017. Juga ditambah Tunjangan Hari Raya (THR) pegawai negeri sipil (PNS).

Pada triwulan II 2018, belanja pemerintah tumbuh 5,26 persen, sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat, semula 6,31 persen pada triwulan I 2018 menjadi 8,5 persen pada triwulan II 2018.

“Sayangnya, akselerasi belanja pemerintah hanya berdampak pada peningkatkan sektor konsumsi rumah tangga bukan industri. Bansos dan gaji ke 13 itu bukan industri. Tumbuh 5,27 persen, sektor industri tetap terpuruk,” kata Andry pada diskusi bertajuk ” Ekonomi Tumbuh: Temporer atau Berlanjut” di kantor INDEF, Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Dia memaparkan, secara umum pelaku usaha di Indonesia terutama sektor ritel menjadikan momen Lebaran sebagai bulan keberuntungan. Pasalnya, target pelaku usaha pada momen itu dapat memenuhi 35 persen dari omzet penjualan tahun berjalan. Sehingga tak heran menjelang Lebaran target produksi pasti mengalami kenaikan.

Berdasarkan, hasil Survei Kegatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia (BI), menyebutkan, kenaikan rata-rata kapasitas produksi terpasang naik dari semula 76,27 persen pada triwulan I 2018 menjadi 78,40 persen pada triwulan II 2018.

Pada triwulan II 2018, Prompt Manufacturing Index (PMI) juga menunjukkan fase ekspansi 52,40 persen meningkat dari 50,14 persen pada triwulan I 2018. Peningkatan tersebut didorong ekspansi indeks volume pesanan sebesar 54,57 persen, dan indeks produksi 54,39 persen.

Namun, sayangnya, kata Andry, kenaikan pada triwulan II 2018, itu hanyalah inventori atau barang yang tersimpan di gudang. “Yakni inventori sebanyak sebesar 44,07 persen (yoy) dan 18,5 persen quarter to quarter (qtq). Jadi kenaikan produksi di industri tidak diimbangi dengan kenaikan penjualan,” tukasnya.

Besarnya akumulasi investori yang tersimpan di gudang pada triwulan II 2018, menurutnya, ini memberikan sinyal ekspansi dunia usaha ke depan akan mengalami penurunan drastis. Dari triwulan II 2018 sebesar 112,82 persen menjadi 106,05 persen. Ini terlihat dari Indeks Tendensi Bisnis (ITB).

“Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan III 2018 juga akan turun dratis dari 125, 43 persen menjadi pesimis di angka 98,99 persen,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati menambahkan, ekspansi PMI triwulan III 2018 diprediksi turun menjadi 51,81 persen. Padahal sektor industri pengolahan adalah penopang utama perekonomian.

Namun ketika sektor industri hanya tumbuh 3,97 persen atau industri non migas 4,41 persen yoy, dipastikan akan sulit mencapai akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan pemerintah 5,4 persen sepanjang 2018.

“Pada triwulan II 2018, peningkatan impor mencapai 15,17 persen yoy. Ini justru industri luar negeri yang diuntungkan, sektor industri kita tetap tak berdaya,” tukasnya.

Menurunnya investasi pada triwulan II 2018 yang bertumbuh 5,87 persen menurutnya, merupakan indikasi awal dunia usaha. Apalagi ekspansi ITB pada triwulan III 2018 mempertegas dunia usaha akan melakukan ekspansi bisnis.

Namun demikian, tergantung dari pengaruh suhu tahun politik yang menjadikan dunia usaha menunggu kepastian kebijakan-kebijakan penting pemerintahan baru.

Enny pun mengimbau agar pemerintah bergerak cepat mendorong perbaikan pertumbuhan ekonomi. Karena menurutnya, kalau tidak ada respon dari pemerintah hampir dipastikan triwulan III dan IV justru turun dari triwulan II 2018.

“Karena mesin penggarap pertumbuhan ekonomi itu sudah terkumpul di triwulan II. Ya sekali pun tidak menurun jangan stagnan. Minimal 5,2 atau 5,1 persen lebih di triwulan III dan IV,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...