Embung Way Pisang Pasok Air Pertanian di Lampung Selatan

Editor: Mahadeva WS

278

LAMPUNG – Kekeringan yang melanda wilayah Lampung Selatan mulai berimbas ke lahan di wilayah Register I Way Pisang, milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sebagian besar lahan yang sedang digarap masyarakat, untuk pertanian jagung dan tanaman kayu, mulai mengalami kekeringan.

Kondisi tersebut termasuk terjadi di area Persemaian Permanen Balai Besar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS) di Desa Karangsari Kecamatan Ketapang.

Tejo Agung, salah satu penanggungjawab produksi persemaian permanen menyebut, kemarau mulai berdampak di wilayah tersebut. Debit air sungai yang mulai menurun, membuat sebagian warga kesulitan air bersih. Beruntung, kemarau yang berpotensi terjadi setiap tahun, BPDAS WSS di bawah KLHK telah membuat embung (Reservoir) seluas satu hektar di daerah tersebut.

Embung dengan kedalaman delapan meter tersebut, terkoneksi dengan bendungan dan menampung air dari sejumlah mata air. Mata air yang sempat menghilang sudah mulai muncul kembali, setelah ratusan pohon sebagai peresap air, ditanam. Lebih dari puluhan jenis pohon kayu diantaranya akasia, sengon, mahoni, bayur, medang, serta berbagai jenis tanaman reboisasi termasuk bambu, ditanam di bagian atas embung.

“Lima tahun silam saat kemarau warga kesulitan air bersih termasuk persemaian permanen yang membutuhkan air untuk penyiraman bibit. Tetapi sejak tiga tahun terakhir, embung mulai berfungsi maksimal,” terang Tejo saat ditemui Cendana News, Rabu (8/8/2018).

Fungsi embung di Register I Way Pisang, semula hanya untuk pengairan. Kondisi air yang kotor, berlumpur dengan dominasi warna coklat, terlihat di tahun pertama. Namun dengan adanya penanaman pohon, termasuk penebaran sejumlah tanaman air penyerap kotoran, ikan nila dan tawes, kondisi air embung mulai terlihat alami.

Sebagian warga bahkan memanfaatkan embung untuk mengambil air bersih saat kemarau. Meski air kemudian harus diendapkan sebelum bisa dimanfaatkan. Sebagian warga pemilik tanaman jagung, cabai merah serta sayuran, memanfaatkan air embung dengan proses penyedotan.

Tejo Agung menyebut, keberadaan mata air yang sudah berfungsi normal, membuat embung bisa memenuhi kebutuhan air bagi petani dan warga. Termasuk kebutuhkan hingga kemarau berakhir, pada September atau Oktober mendatang. “Selama pepohonan di bagian atas dan area embung tidak ditebang pasokan air masih bisa dimanfaatkan warga,” tandasnya.

Selain reservoir semi alami, dengan bangunan tanah dan bendungan semen, BPDAS WSS juga membuat sejumlah sumur bor. Ada tiga titik sumur bor dengan kedalaman 100 meter, dan bisa menghasilkan air bersih dengan debit 10 liter perdetik saat musim hujan, dan berkurang menjadi tujuh liter perdetik saat kemarau. Air dari sumur bor ditampung pada bak bak khusus untuk penyiraman bibit dan pepohonan yang sudah ditanam.

Program kementerian kehutanan, embung Register I Way Pisang menjadi daerah resapan air dengan membuat hutan percontohan. Hutan yang berada di bagian atas embung tersebut dipenuhi pohon langka seperti merbau, pule, damar, gayam serta pohon endemik Register I Way Pisang.

Kehadiran hutan percontohan tersebut terdukung oleh keberadaan sejumlah sumur bor yang digunakan untuk penyiraman saat kemarau. Sebagian besar pohon dengan ketinggian puluhan meter bahkan kini tidak membutuhkan penyiraman lagi justru mulai menghasilkan mata air bagi embung.

Siklus hidrologi tersebut terus disosialisasikan ke warga di sekitar Register I Way Pisang. Saat warga menanam pohon, melakukan penyiraman menggunakan air,  maka saat pohonnya tumbuh besar, bisa menjadi penyerap air dan membantu memunculkan mata air.

Selain embung milik BPDAS WSS, sejumlah embung di kawasan Register Way Pisang hingga kini masih berfungsi. Diantaranya Padas Miwang dan Pergiwo. Padas Miwang dalam bahasa Lampung berarti  batu padas menangis, mampu mengalirkan air bagi warga Desa Gandri.

Barmudi (30), warga setempat menyebut, saat musim kemarau Dia membawa jeriken air untuk mengambil air bersih. Kegiatan pengambilan air dilakukan sembari memancing. “Kami dilarang menangkap ikan dengan jaring, hanya boleh menggunakan pancing sekaligus mengambil air untuk mandi dan mencuci,” tandasnya.

Barmudi menyebut, penghijauan di wilayah Register I Way Pisang sudah layak dilakukan. Saat ini, jika kemarau, warga mulai kesulitan air bersih. Sementara saat hujan, kerap terjadi banjir. Keberadaan persemaian permanen dengan penyedia bibit gratis disebutnya, bisa menjadi solusi penghijauan.

Meski sebagian lahan Register I Way Pisang digunakan untuk lahan pertanian, keberadaan embung cukup membantu masyarakat saat kemarau. Kebutuhan air untuk masyarakat bisa tetap terpenuhi meski sedang musim kemarau.

Baca Juga
Lihat juga...