Erupsi GAK, Material Vulkanik Mengarah ke Timur

Editor: Satmoko Budi Santoso

515

LAMPUNG – Sejak Senin pagi (6/8/2018) Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali terjadi erupsi.

Menurut Andi Suardi, selaku Kepala Pos Pemantauan GAK Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, GAK terlihat mengeluarkan abu vulkanik dengan tinggi kolom mencapai 500 hingga 600 meter dengan warna hitam pekat.

Peristiwa tersebut, diakuinya, baru terjadi sejak pagi setelah sebelumnya pada Jumat (2/8) malam GAK mengeluarkan lava pijar disertai dentuman keras seperti guntur.

Material vulkanik mengarah ke timur di lintasan kapal penyeberangan hingga puluhan kilometer. Meski demikian, ia memastikan, kolom abu vulkanik tersebut jatuh di Selat Sunda sehingga tidak mengganggu aktivitas kapal nelayan serta kapal penyeberangan.

Andi Suardi, Kepala Pos Pemantauan GAK Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) [Foto: Henk Widi]
Pemantauan terhadap GAK, disebut Andi Suardi, juga bisa dilihat secara visual menggunakan mata telanjang dibantu teropong. Ia memastikan, sepekan terakhir, meski aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi, namun secara visual sulit terlihat akibat kabut, tingginya penguapan sehingga tidak bisa terlihat dengan mata telanjang dari pos pantau di Hargo Pancuran.

“Baru hari ini visual Gunung Anak Krakatau terlihat, bahkan abu vulkanik dengan ketinggian kolom ratusan meter terbawa angin ke arah timur, bisa diamati karena kondisi cuaca cerah,” terang Andi Suardi, Kepala Pos Pemantauan GAK Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Desa Hargo Pancuran, saat ditemui Cendana News, Senin (6/8/2018).

Meski mengeluarkan material abu vulkanik, namun dengan pengamatan menggunakan teropong, tidak terlihat lava pijar. Andi Suardi saat ditemui menyebut, selain material vulkanik yang terlihat secara visual, juga memantau aktivitas kegempaan melalui seismograf.

Sesuai pemantauan seismograf tercatat aktivitas kegempaan didominasi gempa tremor dengan amplitudo dominan mencapai 42 mikrometer.

Gunung Anak Krakatau terpantau secara visual dengan kondisi cuaca cerah bisa diamati dengan mata telanjang dari pos pantau GAK di Desa Hargo Pancuran [Foto: Henk Widi]
Aktivitas GAK juga tercatat di Volcanic Activity Report (Magma-VAR) milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan kode Krakatau KRA2 EHZ VG 00.

Sejak Minggu (5/8) tercatat telah terjadi 63 kali letusan, 31 kali hembusan, 44 kali vulkanik dangkal, 3 vulkanik dalam dan gempa tremor menerus (mikrotremor) yang terekam dengan amplitudio 2-15 mikrometer dominan 3 mikrometer.

Ia menyebut, kondisi GAK masih aktif dengan letusan teramati sebanyak 200 kaki dengan ketinggian 100 hingga 300 meter dengan warna asap hitam. Pemantauan visual, diakuinya, terpantau melalui closed circuit television (CCTV).

Ia memastikan dalam beberapa tahun terakhir semenjak letusan pada tahun 2012 dinyatakan level waspada aktivitas di sekitar GAK hanya diperbolehkan dalam radius 1 kilometer.

“Melihat kondisi saat ini wisatawan dan masyarakat yang kerap melakukan aktivitas radiusnya diperluas menjadi dua kilometer dari sebelumnya satu kilometer,” papar Andi Suardi.

Meski terus beraktivitas, Andi Suardi menyebut, kondisi tersebut merupakan sebuah kegiatan pelepasan energi yang tengah dilakukan GAK sehingga akan mengurangi energi yang tersimpan di dalam perut bumi.

Selama enam tahun terakhir, aktivitas GAK kembali terjadi sejak Juni 2018 meski kondisi tersebut tidak membahayakan.

Baca Juga
Lihat juga...