hut

Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan Jadi Priotas Perbaikan Pascagempa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MATARAM — Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, H.M. Zainul Majdi mengatakan, perbaikan fasilitas umum seperti sarana kesehatan dan pendidikan di wilayah terdampak gempa menjadi prioritas.

“Sarana kesehatan dan pendidikan termasuk menjadi prioritas untuk dilakukan perbaikan oleh pemerintah. Sangat vital dan sangat dibutuhkan masyarakat” kata Majdi di Mataram, Kamis (16/8/2018).

Termasuk di dalamnya perbaikan dan pembersihan layanan publik, pusat kota, pasar dan pertokoan juga jadi prioritas untuk dibersihkan. Tujuannya, agar aktivitas ekonomi masyarakat bisa kembali normal.

Dinas terkait seperti BPBD, Dinas Sosial, PU dan stakeholders terkait, untuk melakukan penggalangan kepada kelompok masyarakat dan pemuda agar dapat ikut, berpartisipasi membantu proses pemulihan di lokasi terdampak gempa.

Langkah tersebut menunjukkan kepedulian kepada para korban, sehingga para relawan yang datang dari luar daerah tidak merasa sendiri, tapi juga dibantu oleh masyarakat dan pemuda di NTB .

“Kemandirian itulah yang ingin dilihat oleh publik, termasuk juga untuk pembersihan tiga Gili dan pantai sepanjang wilayah Senggigi. Sehingga para wisatawan yang datang juga akan lebih merasa nyaman,” katanya.

Ditambahkan untuk bantuan terutama logistik, supaya dilakukan manajemen yang baik dan cepat dan harus didorong lebih cepat ke lokasi masyarakat pengungsi terdampak gempa. Supaya tidak menumpuk di posko-posko atau di kantor.

Terkait proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah-rumah masyarakat, meskipun masa tanggap darurat hingga 25 Agustus 2018 mendatang, namun rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut jauh lebih penting dan membutuhkan sumber daya yang menunjang proses tersebut.

“Keakuratan data para korban, terutama menyangkut jumlah rumah masyarakat yang mengalami kerusakan, supaya disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan,” katanya.

Sehingga, data yang masuk dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan, minimal 10.000 KK, yang rumahnya mengalami kerusakan berat, harus sudah mendapatkan bantuan. Setiap rumah yang rusak berat akan mendapatkan dana 50 juta dan rusak sedang 25 juta rupiah.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Utara, Fauzan Fuad mengatakan, 90 persen sekolah di Lombok Utara rusak. 1.117 ruang kelas dan 407 ruangan pendukung, berupa laboratorium, ruang tata usaha, ruang guru, dan toilet mengalami rusak berat. Sedangkan 215 ruang kelas mengalami kerusakan kategori sedang dan ringan.

Sebanyak 23.822 murid SD dan 7.304 siswa SMP berada di pengungsian dan tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar normal dalam waktu yang cukup lama.

“Dengan kondisi tersebut, diharapkan sekolah darurat segera dibangun untuk anak-anak di Lombok Utara, supaya kegiatan belajar mengajar bisa dilangsungkan,” tutupnya.

Lihat juga...