Film Kafir, Menguak Misteri Selamatkan Ibu

Editor: Satmoko Budi Santoso

320

JAKARTA – Kehilangan ayah memang sangat menyedihkan. Apalagi kemudian, ibunya mendapat teror-teror gaib yang membuatnya ketakutan berkepanjangan sepeninggal sang ayah.

Seorang anak tentu harus berbakti pada orang tuanya, meski apa yang harus dilakukannya mengancam keselamatannya. Demikian yang mengemuka dari film ‘Kafir: Bersekutu dengan Setan’.

Film ini diawali dengan adegan keharmonisan sebuah keluarga, dimana Herman (Teddy Syah), sang kepala keluarga suka memperdengarkan lagu Mawar Berduri dan turut mengiringi dengan memainkan piano.

Kemudian, Sri (Puteri Ayudya), ibu rumah tangga, rajin masak dengan masakan favoritnya sop kambing. Ada pun, kedua anak mereka, Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina), tampak rajin belajar.

Setelah makanan hampir matang, Sri mencicipinya, tapi dari jendela ia melihat seperti ada orang yang dari jauh memerhatikan rumahnya. Sri sempat menaruh curiga, tapi berhubung ia sedang masak, maka ia hanya menutup jendela yang ternyata masih terbuka, dan kemudian kembali konsentrasi pada masakannya yang tampaknya sebentar lagi akan matang.

Saat Sri akan menghidangkan masakan, Herman, suaminya, memeluknya dari belakang. Tapi keduanya tak sempat bermesraan karena Dina, anaknya, memprotesnya tak ingin punya adik karena baginya ia dan kakaknya, dua anak tentu sudah cukup.

Makanan siap santap, mereka pun berkumpul bersama di meja makan. Sebagai istri yang baik, Sri melayani Herman dengan baik mengambilkan nasi dan lauknya sop kambing. Sedangkan kedua anaknya mengambil sendiri nasi dan lauknya serta tentu sop kambing, masakan favorit keluarga harmonis itu.

Herman tampak begitu sangat berselera menyantap masakannya, tapi tiba-tiba ia tersedak. Melihat sang suami tersendak, Sri buru-buru akan menyodorkan minuman. Tapi Herman keburu muntah darah, yang membuat semua yang melihat begitu terkejut.

Sri mencoba mencari tahu mengapa suaminya itu muntah darah, tapi lebih mengejutkan lagi, Herman semakin parah muntahnya dan dari mulutnya memuntahkan beling hingga kemudian seketika meninggal dunia.

Pascakematian Herman, keluarganya tampak begitu sangat berduka. Terlebih Sri, istrinya, tampak begitu sangat bersedih. Matanya terlihat masih sembab karena menangis terus.

Sedangkan, kedua anaknya, Andi dan Dina, tampak tabah, meski tak dapat dipungkiri, masih sangat sedih dengan kematian ayahnya yang begitu mengenaskan dan sangat tiba-tiba.

Suatu hari, Andi mengenalkan Hanum (Indah Permatasari), pacarnya, pada ibu dan adiknya. Kemudian, Andi pun menyetel lagu Mawar Berduri yang memang begitu merdu, tapi sang ibu melarangnya karena mengingatkan pada almarhum suaminya.

Andi pun memaklumi ibunya yang masih trauma dengan kepergian ayahnya karena lagu itu adalah lagu kesukaan ayahnya yang selalu diperdengarkan di rumah.

Kematian Herman yang begitu tiba-tiba dan tidak wajar itu, sebenarnya Sri curiga dengan orang yang dari jauh memerhatikan rumahnya, tapi sebisa mungkin Sri melupakannya. Sri kini mencoba menghadapi kenyataan hidup yang tanpa suami.

Untuk membetulkan langit-langit kamar yang rusak, Sri minta bantuan Salim (Slamet Ambari), tetangga. Meski ia kena protes Dina, kenapa harus minta bantuan orang lain karena sepeninggal Herman, ayahnya, tentu tugas membetulkan rumah yang rusak adalah tugas Andi. Kakaknya, yang otomatis menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal dunia.

Langit-langit kamar sudah diperbaiki Salim, tapi Sri melihat keanehan karena dari langit-langit itu muncul sosok makhluk misterius yang membuat hidupnya jadi mulai terusik. Karena mendapat teror-teror gaib dan seringkali ketakutan, Sri lalu mendatangi Jarwo (Sujiwo Tedjo), dukun yang telah dikenalnya.

Jarwo mengatakan kalau Sri diguna-guna oleh seseorang yang benci kepadanya.

Jarwo yang dikenal mempunyai ilmu linuwih dan sangat sakti itu pun lalu datang ke rumah Sri, dan menerawang makhluk gaib yang suka mengganggu Sri. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan saktinya, Jarwo berhasil menangkapnya.

Kemudian, ke rumah tempatnya membuka praktik, Jarwo menunjukkan kepada Sri kemampuan saktinya untuk memusnahkan makhluk gaib yang telah ditangkapnya. Namun Jarwo kalah kuat hingga kemudian dirinya mati terbakar. Begitu juga rumahnya ikut hangus terbakar. Sri tentu saja ketakutan bukan alang-kepalang dan langsung pulang.

Melihat ibunya yang sering ketakutan, Andi dan Dina berusaha mencegah agar kejadian yang menimpa ayah tidak menimpa ibunya. Kedua anak yang begitu pemberani itu mencari-cari penyebabnya demi untuk menyelamatkan nyawa ibu mereka.

Kegemaran Dina membaca novel-novel detektif seperti cukup menjadi bekal dirinya untuk menyelidiki dan memecahkan misteri masalah yang menimpa ibunya.

Film ini dari awal hingga akhir menyajikan ketegangan nan mencekam. Sutradara Azhar Kinoi Lubis mampu mengemas ketegangan film ini dengan cukup baik, bahkan dengan intensitas yang tetap terjaga.

Alur ceritanya mengalir lancar dengan penuh nan mencekam, bahkan membuat penasaran dari adegan demi adegan. Penulisan skenarionya digarap Upi bersama Rafki Hidayat dengan cukup baik.

Akting Puteri Ayudya sebagai Sri begitu matang nan menawan. Putri memang bisa dibilang pemain watak yang mampu melebur dalam karakter Sri yang dilakoninya. Kemampuan seni perannya memang terasah dari teater yang sudah lama digelutinya.

Puteri Ayudya mampu mengimbangi akting Sujiwo Tejo, saat keduanya berdekatan dan saling melontarkan dialog-dialog yang penuh keakraban.

Begitu juga akting Sujiwo Tejo sebagai dukun Jarwo begitu sangat meyakinkan. Tejo seperti mengulang kegemilangan peran pada film Kafir (Satanic) tahun 2002. Tejo termasuk juga pemain watak yang mampu memerankan peran dengan sangat baik dan mantap.

Sedangkan, Teddy Syach, meski sedikit adegannya, tapi begitu mencuri perhatian penonton. Sosok kebapakannya dalam melakoni karakter ayah dalam film ini menjadi awal cerita yang tetap melekat sepanjang film berlangsung begitu menegangkan.

Adapun, para pemeran lainnya, seperti Indah Permatasari sebagai Hanum menjadi pesona dari karakter perempuan cantik berabut panjang dalam film ini. Rangga Azof sebagai Andi, seorang anak dan pemuda yang sedang dilanda kasmaran, dapat memerankannya dengan baik.

Sama juga akting gemilang yang diperlihatkan Nadya Arina sebagai Dina, seorang anak yang menunjukkan baktinya pada ibu tercinta.

Menonton film ini, kita dibuat tegang terus sepanjang film berlangsung. Banyak adegan yang tak terduga membuat kita terkejut bukan alang-kepalang. Ceritanya begitu kuat dan padat dalam ketegangan yang tetap terjaga intensitasnya.

Film ini menyampaikan pesan agar kita tidak menyekutukan Tuhan dengan apapun, apalagi dukun, karena itu adalah dosa besar yang tak terampun. Hendaknya kita tetap berpegang teguh pada jalan dan pedoman hidup yang telah Tuhan tetapkan.

Baca Juga
Lihat juga...