Film ‘Sesat’, Ingatkan Duka Berlebih Bisa Sebabkan Petaka

Editor: Koko Triarko

326
JAKARTA  – Kehilangan ayah memang sangat menyedihkan. Apalagi, ayah yang begitu sangat sayang. Duka cita yang sangat mendalam, hingga kemudian apa saja dilakukan, agar bisa bicara dengan sang ayah, meski sesat dan berakibat sangat fatal, bahkan menjadi petaka yang mengancam keselamatan diri, keluarga hingga teman-teman. Demikian mengemuka dari film ‘Sesat: Yang Sudah Pergi Jangan Dipanggil Lagi’.
Film ini diawali dengan adegan Amara (Laura Theux) yang lari pagi ditemani ayahnya, (Willem Bivers). Pagi itu terasa lain bagi Amara, seperti ada firasat yang tak enak terjadi di antara mereka berdua. Sang ayah begitu sangat perhatian dan penuh kasih sayang, serta mendukung penuh pada Amara untuk menjadi atlet lari.
Tak lama dari lari pagi bersama, sang ayah meninggal dunia, menjadi sebuah pukulan yang sangat berat bagi Amara. Sosok ayah yang selama ini begitu menyayanginya dipanggil Illahi. Hubungan Amara yang buruk dengan sang ibu (Vonny Cornelia) malah kini semakin memperuncing kegundahan hati Amara.
Amara frustasi, karena benar-benar merasakan kehilangan ayah. Apalagi ketika Amara, ibu, dan adiknya (Rebecca Klopper) harus pindah ke rumah Opanya (Arswendy Bening Swara), di Desa Beremanyan, sebuah desa yang jauh dari kota. Tidak ada internet, seperti desa yang sangat terbelakang dan masih terisolasi. Hanya sekumpulan orang uzur tinggal di desa itu.
Sang Opa yang mengajak keluarga Amara untuk pindah ke Desa Beremanyan. Hal itu karena Opa yang berprofesi sebagai novelis ,punya catatan yang ingin disampaikan untuk novel terbaru yang dibuatnya.
Tinggal di desa terpencil, membuat Amara semakin bertambah gelisah. Bahkan membuat dirinya semakin sedih kehilangan ayahnya, dan lebih suka menyendiri dan tertarik dengan hal-hal yang menjadi kebiasaan masyarakat desa yang semua penduduknya orang tua.
Setiap matahari terbenam, semua penduduk serentak keluar rumah membawa sajen sambil mengucapkan mantra mengerikan. Ternyata, di desa itu ada sumur keramat yang dihuni Setan Beremanyan yang bisa mengabulkan permintaan.
Amara ingin mengobrol dengan almarhum papa untuk terakhir kali dan  melakukan ritual memanggil Beremanyan. Ternyata, Beremanyan bukan mengabulkan permintaan, malah mencelakai semua orang yang dicintai.
Amara juga mulai tertarik pada sebuah lukisan tua yang terpajang di rumah Opanya. Namun, ketika waktu istirahat sudah tiba, Amara mulai diganggu oleh hal-hal yang tidak masuk akal.
Hal-hal yang justru membuatnya semakin penasaran. Celakanya, rasa penasaran ini berakibat buruk bagi ibu, adik, dan bahkan teman-teman sekolahnya.
Film ini menegangkan dan mencekam dari awal hingga akhir. Sutradara, Sammaria Simanjuntak, meski baru pertama membuat film horor, tampak berhasil meneror penonton dengan adegan-adegan yang menegangkan dan mencekam.
Naskah skenarionya digarap Sammaria bersama Evanggala Rasuli, mampu membuat penonton penasaran untuk terus menyaksikan adegan-adegan yang menegangkan dan mencekam.
Sammaria dikenal sebagai sutradara muda berbakat yang mampu menggarap film dengan perspektif berbeda, seperti dua film sebelumnya, Cin(T)a dan Demi Ucok.
Akting Laura Theux cukup baik dalam melakoni karakternya sebagai Amara. Penjiwaannya merasakan ketakutan begitu sangat meyakinkan. Laura tampak tak berjarak dengan Amara, bahkan bisa dibilang mampu melebur diri dengan cukup baik.
Begitu juga akting Rebecca Klopper sebagai adik Amara, yang tampak natural dan mampu mengimbangi akting Laura dan para pemain lainnya dengan cukup baik. Rebecca mampu melakoni film horor ini dengan total.
Para pemeran pendukung, aktor-aktris muda, Endy Arfian maupun Valerie Tifanka, berakting dengan baik. Akting Valerie berhasil mencuri perhatian penonton, karena mau dan mampu melakukan adegan petaka dengan sangat baik.
Ada pun para pemeran pendukung yang senior, di antaranya Vonny Cornelia, meski ini film horor pertamanya, tampil dengan sangat baik. Arswendy Bening Swara dan Jajang C Noer, dua nama yang tak asing dalam dunia perfilman, memperkuat film ini.
Film ini mengingatkan orang, agar kalau berduka sewajarnya saja dan tidak berlebihan, yang membuatnya kalap melakukan apa saja dan berakibat sangat fatal, mengancam keselamatan dirinya, bahkan seluruh keluarga hingga teman-teman sekolahnya.
Juga kita diingatkan, agar tidak menyekutukan Tuhan, karena itu dosa paling besar yang tak diampuni. Bahwa, menjalani hidup ini dengan tetap, berpegang pada ajaran Tuhan, akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan terarah.
Baca Juga
Lihat juga...