FOKAN: Jumlah Pecandu Narkoba di Indonesia Terbesar Kedua Sedunia

Editor: Koko Triarko

2.548
JAKARTA – Ketua Umum Forum Organisasi Kemasyarakat Anti Narkoba (FOKAN), Jefri Tambayong, mengatakan, kita harus jihad gerakan anti narkoba, karena dampaknya sangat berbahaya.
Menurutnya,  orang sakit jiwa yang dirawat di RS Jiwa di Grogol, misalnya, itu karena dampak dari narkoba. Satu hari yang meninggal di Indonesia karena narkoba tercatat 40-70 orang perhari.
Ini, kata dia sangat berbahaya, karena di seluruh dunia tercatat 220 ribu pecandu. Ini berarti kalau di Indonesia hampir 20 ribu atau 10 persen narkoba ada di bangsa Indonesia.
“Indonesia kalau mau jujur, nomor dua terbesar pecandu narkobanya. Kalau bandar sekarang ini diperkirakan nomor satu di dunia. Tahun lalu masih di bawah negara Meksiko dan Colombia. Tapi, sekarang Indonesia ambil alih,” ungkap Jefri, pada pelatihan Pencegahan, Pemberantasan, dan Penyalahgunaan  serta Pengedaran Bagi Pengurus Gerakanan Nasional Anti Narkoba anas Majelis Ulama Indonesia (Ganas Annar MUI), di kantor MUI Pusat, Jakarta, Jumat (24/8/2018) sore.
Dia menegaskan, kejadian ini tidak bisa ditanggulangi dengan main-main, bukan hanya dengan perang diskusi atau seminar, harus ada gerakan. Seperti demo ke Jaksa Agung, ‘kapan jilid tiga hukuman mati bagi gembong narkoba dilakukan?’
“Saya ngenes ini urusan anak bangsa yang terpapar narkoba, pemerintah tidak bisa main-main. Kita semua harus bergerak demi anak bangsa dan NKRI,” ujarnya.
Jefri merasa bingung, manakala Kepala BNN terdahulu, yaitu Komjen Budi Waseso, mengatakan, bahwa jumlah pecandu narkoba di Indonesia ada 6,2 juta jiwa. Terinci di di DKI Jakarta tercatat 1,2 juta pencandu.
Namun kemudian disampaikan Kepala BNN yang baru, Heru Winarko, bahwa jumlah tersebut telah turun. “Saya agak ragu, bagaimana perhitungannya? Ya, mudah-mudahan turun,” tukasnya.
Dia menjelaskan, keraguan dirinya itu mengingat dua bulan lalu dia berkunjung ke penjara-penjara, salah satunya di Cipinang, Jakarta Timur.
Penjara Cipinang kapasitasnya menampung 1.200 orang. Tapi, sekarang berlimpah menjadi 4.800 orang narapidana, yang 80 persennya adalah kasus narkoba.
Tapi, menurutnya lagi, kasus pencurian dan penipuan juga sebenarnya mereka lakukan, karena terdesak ingin membeli narkoba untuk memenuhi kecanduannya.
“Jadi, bisa dikategorikan hampir 90 persen over kapasitas penjara Cipinang itu, karena kasus narkoba,” katanya.
Padahal, menurutnya, pecandu narkoba jangan dipenjarakan, tapi direhabilitasi. Karena sangat jelas ada regulasi pemerintah, bahwa orang-orang pecandu narkoba harus direhabilitasi.
Tapi, ternyata orang yang direhabilitasi itu akhirnya dalam tanda kutip, yakni orang yang bisa bayar jaksa dan oknum polisi.
Jefri berharap,  pimpinan pusat Ganas Annar MUI bersinergi dengan Fokan menjadi garda terdepan mendorong pemerintah memberantas narkoba. Karena tidak bisa membiarkan praktik-praktik yang sangat miris tersebut.
“Bagaimana kita mau lihat Indonesia bersinar, kalau pertahanan kita terhadap narkoba lemah?” tukasnya.
Dia mengatakan, pihaknya pernah berdemo dengan mengepung kedutaan besar Belanda, Cina dan Malaysia. Dalam demo itu, pihaknya meminta pemerintah memutuskan hubungan diplomatik dengan Cina, Malaysia dan Belanda.
“Karena narkoba banyak masuk ke Indonesia dari ketiga negara tersebut. Buat apa kita bersahabat dengan Belanda, Cina, dan Malaysia? Contoh, dari Cina hampir 600 ton narkoba masuk ke Indonesia,” tukasnya.
Narkoba dari negara Arab dengan leluasa masuk ke Indonesia melalui Malaysia. Di negara Jiran tersebut, kata dia, telah terjadi pembiaraan terkait narkoba ini.
Karena, pemerintah Malaysia menerapkan kebijakan, kalau barang haram tersebut diedarkan di negaranya, pengedarnya akan ditangkap. Tapi, kalau hanya numpang lewat masuk dan lalu diedarkan di negara lain, dibebaskan alias tidak ditangkap.
“Ini Malaysia tidak boleh berlakukan kebijakan itu. Pelabuhan tikus, pintu masuk narkoba di Kalimantan, ada beberapa titik. Begitu gampangnya, jadi ada pembiaran,” tegasnya.
Indonesia ini, menurutnya, negara terkaya di dunia. Kekayaan alam Papua saja 10 kali lipat kekayaan dunia. Tapi, seiring perkembangan zaman, masyarakat Papua juga terpapar narkoba.
Di daerah lain hingga pedalaman, para petani dan nelayan juga anak-anak melenggang bisa menikmati barang haram ini. Bahkan, kehidupan anak-anak di pesantren juga sudah tergilas narkoba.
“Saya menangis, bayangkan anak usia 12 tahun positif tiga jenis narkoba setelah di tes urine. Dari 50 tes urine narkoba di pesantren, 40 orang anak positif,” ujar Jefri, lirih.
Kemudian, Fokan memberikan pembinaan dengan berbagai kegiatan positif terus dimonitoring perilakunya. Ada sekitar 5.000 lebih pecandu narkoba yang dibina Fokan, hingga mereka kembali pulih menjalani kehidupan.
Bahkan, kata dia, mereka dari berbagai suku dan agama yang ketika selesai pemulihan kehidupannya lebih religi.
Kembali dia berharap, agar Ganas Annar MUI, mendorong pemerintah bergerak cepat dengan kebijakan pemberantasan narkoba ini. Jangan membiarkan ratusan generasi muda pemimpin masa depan terpapar narkoba.
“Mumpung MUI lagi mesra-mesra, saya berharap MUI mendorong pemerintah bikin tekanan kepada negara Cina dan negara mana pun yang membiarkan narkoba masuk ke Indonesia,” tutupnya.
Baca Juga
Lihat juga...