Gas Bersubsidi Mahal, Pengusaha Kuliner Menjerit

Editor: Satmoko Budi Santoso

153

LAMPUNG – Kelangkaan gas elpiji bersubsidi ukuran 3 Kilogram (Kg) ditambah mahalnya harga di sejumlah pengecer membuat pusing sejumlah ibu rumah tangga.

Selain sejumlah ibu rumah tangga, pemilik usaha warung kuliner salah satunya warung Barokah bernama Mimin (50) mengaku harga gas bersubsidi 3 Kg mencapai Rp30 ribu di pengecer.

Selain mahal ia bahkan harus mencari ke warung desa tetangga akibat warung di desanya sudah tidak menjual gas melon tersebut.

Sebagai pemilik usaha kuliner, ia menyebut, sempat mengikuti operasi pasar (OP) gas dengan harga Rp17 ribu. Tabung tersebut bisa digunakan untuk masa pakai tiga hari karena kebutuhan untuk usaha kuliner miliknya cukup banyak.

Pasca-tiga hari ia mengaku, harus membeli di sejumlah pengecer lain dengan harga Rp30 ribu atau bahkan paling Rp25 ribu. Ia berharap harga elpiji bisa kembali normal di kisaran Rp22 ribu per tabung.

“Kami para pemilik usaha kecil membutuhkan gas untuk memasak namun dalam beberapa bulan terakhir mahal dan langka di warung pengecer. Sulit diperoleh sehingga terpaksa diselingi dengan memakai kayu bakar,” terang Mimin, salah satu pemilik warung makan Barokah di Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Selasa (28/8/2018).

Mimin menyebut, meski biaya operasional untuk memasak kuliner mahal ia mengaku tidak menaikkan harga. Warung kuliner dengan konsep serba sepuluh ribu (Serbu) ia memastikan porsi dan kualitas makanan yang dijual tetap dipertahankan.

Menaikkan harga akan berdampak pada jumlah kunjungan pelanggan yang makan di warung yang terletak di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) KM 69 tersebut.

Kondisi yang sama diakui oleh pedagang kuliner lain di Jalinsum KM 70, Mariawati (40) yang berjualan mie ayam bakso dan berbagai jenis kue. Ia memastikan, semenjak harga gas bersubsidi naik, cara efisiensi agar usaha kecilnya berjalan dilakukan dengan memanfaatkan energi alternatif kayu bakar dan arang kayu.

Kayu bakar digunakan untuk memasak daging dan tulang sementara arang kayu dipakai untuk memanaskan bakso dan mie.

“Gas elpiji bersubsidi masih tetap saya gunakan meski pemakaian harus dihemat hanya untuk memanaskan kuah bakso,” beber Mariawati.

Mariawati menyebut, kelangkaan gas elpiji bersubsidi membuat sejumlah warung menjual bahan bakar tersebut dengan harga berbeda. Pada warung yang dekat pangkalan gas elpiji 3 Kg dijual Rp28 ribu sementara di warung yang jauh harga bisa tembus Rp30 ribu per tabung.

Operasi pasar yang sudah digelar di sejumlah kecamatan tidak cukup efektif membuat harga gas normal. Dampak sangat terasa bagi pengusaha kuliner, biaya operasional bahan bakar lebih naik meski harga jual kuliner tetap.

Meski sejumlah usaha kuliner terdampak kenaikan harga gas ellpiji ukuran 3 Kg, sejumlah pemilik usaha kecil pembuatan kerupuk mengaku tidak terpengaruh.

Ratna Yunianti melakukan proses pengukusan tepung aci yang dicetak menjadi kerupuk kemplang dengan bahan bakar kayu [Foto: Henk Widi]
Ratna Yunianti (40) salah satu pemilik usaha kerupuk kemplang di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, menyebut, meski masih menggunakan tabung gas elpiji subsidi 3 Kg namun hanya digunakan untuk keperluan memasak para karyawan.

Khusus untuk pengukusan bahan pembuatan kerupuk kemplang ia masih menggunakan kayu bakar.

“Kayu bakar yang kami gunakan adalah kayu gergajian, sementara untuk pembakaran kerupuk memakai arang kayu serta batok kelapa,” terang Ratna Yunianti.

Ratna Yunianti memastikan, meski harga gas elpiji 3 Kg naik, pemilik usaha pembuatan kerupuk tidak terpengaruh. Namun untuk kebutuhan sehari-hari bagi keluarganya kenaikan dan langkanya gas bersubsidi cukup merepotkan.

Ia menyebut, di sejumlah warung yang berada di dekat rumahnya kerap tidak tersedia gas elpiji 3 Kg sehingga harus mencari ke desa sebelah.

Serupa dengan Ranta Yunianti, pemilik usaha kerupuk ikan di Desa Pasuruan bernama Dedi (36) menyebut, kenaikan dan langkanya gas elpiji 3 Kg tidak berpengaruh pada usahanya.

Proses pengukusan kerupuk dengan bahan bakar kayu dilakukan di lokasi usaha milik Dedi [Foto: Henk Widi]
Sistem pengukusan menggunakan blower dan bahan bakar kayu karet cukup membantu. Bahan bakar berupa kayu potongan batang pohon karet dibeli dari pengepul seharga Rp1 juta ukuran satu truk besar untuk kebutuhan selama dua bulan.

Dedi menyebut, dalam sehari bisa memproduksi sekitar 250 kilogram tepung aci untuk pembuatan kerupuk rasa ikan. Ia menyebut, pada pembuatan kerupuk gas elpiji ukuran 3 Kg masih tetap dipakai untuk proses pemasakan bumbu kerupuk berupa bawang merah serta perasa ikan.

Selain itu gas ukuran 3 Kg dipakai untuk memasak bagi kebutuhan air minum karyawan yang bekerja padanya. Ia mengaku, pernah menggunakan bahan bakar gas ukuran 12 kilogram namun kalkulasi biaya operasional lebih mahal dibanding memakai kayu.

Dedi berharap, harga gas elpiji ukuran 3 Kg bisa kembali stabil karena meski produksi kerupuk tidak memakai gas namun kebutuhan untuk 10 karyawan miliknya tetap memakai gas.

Kebutuhan tersebut untuk keperluan makan dan minum yang disediakan oleh dirinya sebagai pemilik usaha. Meski ada operasi pasar gas, namun ia menyebut, jatah per orang hanya dibatasi satu tabung sehingga masih sangat kurang untuk kebutuhan warga yang kerap memiliki dua hingga tiga tabung.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.