Gempa Lombok, Ratusan Pasien di Bali Dirawat di Luar Ruangan

Editor: Makmun Hidayat

553

DENPASAR — Gempa berkekuatan 7,0 SR yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (5/8/2018) malam, tepatnya pukul 19.46 Wita juga terasa di beberapa wilayah, termasuk Pulau Bali.

Gempa tersebut membuat masyarakat Bali, khususnya yang tinggal di Kota Denpasar ikut panik. Kepanikan juga dirasakan oleh pasien, penunggu pasien dan pegawai yang bertugas di RSUP Sanglah.

Mereka berhamburan keluar ruangan disebabkan oleh kerasnya gempa dengan durasi cukup lama. Dari pantauan di RSUP Sanglah Denpasar, suasana panik sempat terjadi di semua ruang ruangan. Pada gedung Angsoka dan Cempaka, pasien dievakuasi di lorong-lorong sekitar gedung tersebut.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah, dr I Ketut Sudartana SpB-KBD, mengatakan pascagempa yang mengguncang RSUP Sanglah, Denpasar, untuk sementara pasien akan dirawat di selasar (lorong) sepanjang RSUP Sanglah.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah, dr I Ketut Sudartana SpB-KBD – Foto: Sultan Anshori

Dia menjelaskan, setidaknya ada sekitar 300 pasien dari ruang Angsoka dan Cempaka yang harus dievakuasi di selasar. Pihaknya juga masih belum bisa memastikan pasien akan dirawat di selasar sampai kapan, mengingat pihak RSUP Sanglah juga masih menunggu perkembangan dari pihak BMKG.

Jika kondisi sudah dinyatakan baik, maka dalam waktu dua hari akan kembali ke ruangan. “Saat ini semua pasien sementara kami lakukan perawatan di luar atau selasar ruangan. Tadi memang sempat terjadi kepanikan namun tidak lama,” kata dr Ketut Sudarta saat ditemui Senin (6/8/2018) dini hari.

Selain itu, pihaknya juga akan membangun tenda darurat bantuan dari BPBD Provinsi Bali di lapangan belakang Ruang Angsoka. Adanya tenda darurat tersebut, diharapkan nantinyua bisa ditempati oleh pasien. Sehingga tim medis dan perawatan bisa lebih konsentrasi pada penanganan pasien.

“Sebenarnya pihak RSUP Sanglah sudah mengajukan tenda lebih kepada pihak BPBD. Namun tenda yang kami minta tidak ada, karena sedang diperbantukan ke Lombok. Tapi Mudah-mudahan, nanti kita dapat tambahan lagi karena pasien kami cukup banyak,” imbuhnya.

Tenda yang dibangun oleh BPBD Provinsi Bali untuk pasien RSUP Sanglah Denpasar – Foto: Sultan Anshori

Saat ini, yang jadi masalah adalah kondisi psikologis pasien yang terganggu. Mereka belum siap untuk dikembalikan ke ruangan masing-masing.

“Kami juga menyadari hal itu. Untuk saat ini, perawatan tetap kita lakukan sesuai prosedur, pengobatan tetap dilanjutkan di selasar. Tim medis semua berjaga di sini. Dokter spesialis, residen, perawat, kami kerahkan semua. Bahkan rencana ada bantuan luar dari Stikes.

Saat gempa sebelumnya, pada tengah malam berlangsung dua operasi di ICU IGD RSUP Sanglah, yaitu operasi mata dan operasi trauma tubo abdomen. Namun operasi tetap dilangsungkan meski di luar ruangan, pasien sudah panik berhamburan.

“Sebagai dokter tetap harus mempertahankan pasiennya. Saat operasi itu tidak ada yang keluar. Operasi tetap berlangsung. Syukurnya berjalan lancar,” katanya.

Selain itu, untuk bayi-bayi yang masih mendapatkan perawatan khusus di ruang Cempaka untuk sementara masih dirawat di NICU.

Dikatakan, dari sisi pasien tidak ada korban jiwa. Namun ada gedung sedikit mengalami keretakan, terutama di Gedung Angsoka, Cempaka, Wing Amerta, dan Ruang Pelayanan Jantung Terpadu (PJT). Bahkan lift di PJT saat ini tidak berfungsi. Namun belum bisa sepenuhnya dipastikan apakah lift tersebut sepenuhnya karena gangguan gempa.

“Kami tadi ke sana lift-nya mati. Namun secara prinsip dari sisi penanganan dan keamanan pasien sementara terjamin. Tapi seandainya bila ada gempa susulan kita bisa evakuasi lewat selasar IGD,” ungkapnya.

Sementara itu, akibat gempa keras yang terjadi, sedikit ada enam pasien kiriman dari luar RS Sanglah yang berasal dari wilayah Sesetan akibat tertimpa tembok dan reruntuhan akibat gempa keras itu. Rata-rata mereka mengalami patah tulang kaki dan lengan.

Baca Juga
Lihat juga...